Doom Spending dan Impulsive Buying Gen Z di Era Digital
Gaya Hidup | 2026-05-15 18:51:09
Oleh: Davina Nashywa Noviancy & Najwa| Kamis, 15 Mei 2026
Kenapa Gen Z Belanja Seolah Dunia Mau Kiamat?
Belanja di kalangan Gen Z adalah reaksi emosional terhadap dunia yang tidak menentu. Di balik tombol “Beli Sekarang”, ada ketakutan nyata tentang masa depan yang tampaknya tidak dapat dicapai, seperti impian untuk memiliki sumber daya keuangan yang bertahan lama.
73% dari Generasi Z melakukan belanja secara implusif sekali dalam seminggu (NerdWallet,2024). Pengeluaran rata-rata mereka di Indonesia mencapai Rp 1,2 juta rupiah per bulan, di luar kebutuhan pokok. Terlepas dari kenyataan 68% responden mengatakan mereka menyesal setelah berbelanja, fakta bahwa mereka terus melakukan tindakan belanja yang sama setiap bulan tampaknya menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihentikan.
Bukan Sekadar “Nggak Bisa Nabung”
Jika Anda percaya bahwa kurangnya kebijakan keuangan menyebabkan pengeluaran yang berlebihan, Anda melihat situasi dengan cara yang salah. Istilah “Doom Spending”, yang telah menajdi sangat populer di TikTok sejak tahun 2023, bukan hanya kebiasaan yang tidak baik. Ini adalah reaksi psikologis yang sangat masuk terhadap dunia yang tampak tidak terkendali. Bayangkan jika Anda muda saat pandemi, baru saja lulus kuliah, dan menghadapi tantangan di pasar kerja. Berita buruk tentang perang, resesi, dan masalah iklim muncul setiap kali Anda membuka media sosial. Membeli produk perawatan seharga tiga puluh ribu rupiah mungkin terdengar seperti hal yang masih seperti hal yang masih bisa Anda lakukan dalam situasi seperti ini.
“Kenapa saya harus menyimpan uang untuk masa depan jika masa depan sendiri tidak pasti?” Pernyataan ini bukanlah lelucon. Ini adalah pemikiran yang dianut oleh jutaan remaja di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
“Doom Spending adalah cara otak mencari ketenangan instan di tengah kecemasan jangka panjang yang tidak solusinyaa dan algoritma platform belanja tahu persis cara mengeksploitasi itu.” – Dr. Amanda Rahayu, Psikolog Konsumen UI.
Otak Gen Z di Bawah Serangan Digital
Impulsive Buying bukan lahir dari kekosongan. Ia adalah produk yang sangat canggih dari segi rekayasa. Setiap platform belanja, mulai dari Shopee hingga TikTok Shop, memiliki tim insinyur perilaku yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa jarak antara “ingin” dan “beli” paling singkat mungkin. Senjata terbaru mereka adalah perdagangan langsung. Format ini, menggabungkan FOMO, tekanan sosial real-time, dan hitungan stok yang hampir tidak mungkin ditahan dalam satu paket. Dalam sebuah sesi live, seseorang dapat membeli tiga barang yang tidak mereka butuhkan dalam lima belas menit dan kemudian merasa tenang.
Fakta yang jarang dibahas: platform belanja secara aktif merancang pengalaman ini dengan suara notifikasi, konfetti yang bergerak, dan flash sale yang berakhir tepat saat kamu hampir meletakkan ponsel. Dopamin yang dilepaskan dari otak saat menekan tombol “beli” hampir sama dengan dopamin yang dilepaskan saat memenangkan permainan.
5 Wajah Doom Spending yang Mungkin Kamu Kenal!
Tipe 1 – The Comfort Buyer. Belanja dijadikan carauntuk mengatasi stres saat merasa tertekan. Biasanya mereka berbelanja pada malam hari setelah mengalami hari yang sulit, emebeli barang_barang seperti produk perawatan wajah, makanan mahal, hingga pakaian baru.
Tipe 2 – The FOMO Spender: Tindakan belanja ini dipicu oleh melihat konten di media sosial dan rasa khawatir akan ketinggalan tren. Mereka membeli barang bukan karena mereka benar-benar butuh, tetapi lebih karena takut dianggap ketinggalan zaman.
Tipe 3 – The Future Nihilist. “Beli sekarang karena masa depan tidak pasti” Mereka tahu kebiasaan ini merusak keuangan, tetapi merasa tidak ada gunanya menabung untuk hal-hal yang tampaknya tidak bisa dicapai.
Tipe 4 – The Revenge Spender. Muncul setelah waktu berhemat yang ketat. Membeli barang secara berlebihan sebagai bentuk balas dendam atas pengorbanan yang sudah dilakukan sebelumnya. Ini sangat umum di kalangan Gen Z di Indonesia.
Tipe 5 – The Self-Reward Addict. Setiap kali ada keberhasilan kecil, selalu ada alasan untuk membeli sesuatu secara tiba-tiba. Garis amtara merawat diri dan merusak diri menjadi tidak jelas.
Di Indonesia, Fenomena Ini Punya Wajah Unik
Gen Z Indonesia adalah penerus kampanye belanja digital. Ini terjadi di negara dengan penetrasi TikTok tertinggi di dunia dan pasar live commerce yang tumbuh 40% setiap tahunnya. Tapi ada lapisan budaya yang lebih buruk: tekanan sosial untuk “keliatan sukses” di sini lebih kuat daripada di banyak negara lain.
Di Indonesia, doom spending juga memiliki nilai harga diri dan validasi sosial yang kuat karema teman SD memiliki mobil, sepupu menikah mewah, dan linimasa foto liburan yang penuh. Belanja bukan cara untuk menghilangkan kecemasan, tetapi juga cara untuk mengatakan kepada diri sendiri, “Setidaknya gaya hidup saya tidak ketinggalan.”
Yang ironis, cicilan nol persen dan pinjaman online membuat hal-hal seperti gratis sampai tagihan jatuh tempo dan kecemasan yang seharusnya dihindari meningkat.
Bukan “Bikin Budget” Tapi Pahami Penyebabnya
Nasihat keuangan yang biasa tidak akan berhasil jika masalah utamanya adalah kecemasan yang tidak diatasi. Yang harus diubah terlebih dahulu bukan sikapnya,tetapi penyebabnya.
Sebelum anda membeli sesuatu tanpa pikir panjang, coba tanyakan pada diri sendiri “Apa yang saya coba lupakan dengan membeli barang ini?” ini bukan tentang menghentikan membeli, tetapi untuk memahami apakah anda membuat pilihan ini dengan sengaja atau hanya ingin lari dari sesuatu. Selain itu, sering kali kita lupa bahwa tidak semua itu sepenuhnya tanggung jawab kita. Sistem canggih dirancang agar kita tidak sadar saat menghabiskan uang. Untuk melawan pengaruh ini, kita butuh lebih dari sekadar kemauan, akan tetapi pengetahuan tentang dunia digital dan keuangan harus menjadi fokus utama dalam belajar.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
