Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Subhan Riyadi

Tak Terduga, Ibu Guru Sambangi Rumah Siswa dengan Pengawalan Tentara

Sastra | 2026-03-18 08:53:27
Foto: Google Gemini AI

"Cerita ini adalah fiktif belaka. Segala kesamaan nama, tokoh, tempat, maupun peristiwa dalam cerita ini adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan." Begini ceritanya!

Suatu sore yang cerah di pinggiran kota, ketenangan sebuah gang sempit terusik oleh kedatangan tamu kehormatan yang tak biasa. Bukan razia, melainkan sebuah kunjungan tak terduga yang membuat jantung Pak Tarjo dan Bu Surti, sepasang suami istri sederhana, seolah jantungnya copot dari tempatnya.

Tanpa kabar sebelumnya, bak petir di siang bolong, berdirilah di depan pintu rumah mereka sosok yang paling ditakuti dan disegani oleh anak mereka, si Udin, Ibu Guru Risma, Wali kelas Udin di Sekolah Dasar. Tapi, yang membuat bulu kuduk bergidik bukanlah Ibu Risma sendiri, melainkan dua sosok yang mengawalnya.

Di sebelah kanan Ibu Risma, berdiri gagah Pak Serda Bambang, Babinsa setempat yang mengenakan seragam loreng lengkap dengan baret hijaunya. Wajahnya garang, tatapannya tajam, seolah siap menghadapi ancaman apa pun. Di sebelah kirinya, tak kalah mengintimidasi, ada Bang Komar, preman kampung yang badannya kekar, tato memenuhi lengannya, dan tatapannya seperti bisa menembus tembok.

Pak Tarjo dan Bu Surti terperangah. Pikiran mereka langsung melayang ke mana-mana. Apa salah Udin? Apakah dia terlibat tawuran? Mencuri? Atau jangan-jangan... mereka berdua yang bersalah?.

"Selamat sore, Bapak, Ibu," sapa Ibu Risma dengan suara lembut namun tegas.

Pak Tarjo dan Bu Surti hanya bisa mengangguk kaku, tak berani bersuara. Mereka merasa seperti terdakwa yang sedang disidang.

"Boleh kami masuk?" tanya Pak Serda Bambang, suaranya menggelegar seperti guntur.

Dengan gemetar, Pak Tarjo membukakan pintu. Rombongan tak biasa itu pun masuk ke dalam rumah yang sederhana namun rapi.

Di ruang tamu yang sempit, mereka duduk melingkar.

Ibu Risma memulai pembicaraan. "Jadi begini, Bapak, Ibu," kata Ibu Risma, "Saya datang ke sini karena Udin sudah seminggu tidak masuk sekolah tanpa kabar. Saya khawatir terjadi sesuatu padanya."

Pak Tarjo dan Bu Surti saling pandang. Mereka merasa bersalah karena tidak memberitahu pihak sekolah tentang kondisi Udin.

"Maaf, Bu Risma," kata Pak Tarjo, suaranya sedikit gemetar, "Udin memang sudah seminggu sakit. Badannya panas terus."

"Lalu kenapa tidak memberi kabar ke sekolah?" tanya Pak Serda Bambang, nadanya sedikit mengancam.

"Kami... kami bingung, Pak," jawab Bu Surti, air mata mulai menetes di pipinya. "Kami tidak punya nomor telepon Ibu Risma."

"Oh, begitu," kata Ibu Risma, ekspresinya melunak. "Saya kira ada masalah lain."

Ternyata, kecurigaan bahwa Pak Tarjo dan Bu Surti melakukan tindakan "kejahatan" atau perbuatan zalim terhadap Ibu guru Risma hanyalah buah dari kurangnya komunikasi.

Mereka berdua sebenarnya orang tua yang baik, hanya saja mereka mantan anak jalanan yang tidak terbiasa dengan formalitas sekolah. Mereka tidak terbiasa kedatangan tamu istimewa namun penuh pencitraan, agar ditakuti orang tua Udin.

Ibu Risma pun menjelaskan bahwa dia membawa Pak Serda Bambang dan Bang Komar bukan untuk menakut-nakuti atau mengintimidasi, melainkan untuk menjaga keamanannya karena dia harus berkunjung ke daerah yang dianggap "rawan".

Setelah melihat kondisi Udin yang memang sakit, Ibu Risma pun berpamitan.

"Semoga Udin cepat sembuh ya," kata Ibu Risma sambil mengusap kepala Udin.

"Terima kasih, Bu Risma," kata Udin, suaranya lemah namun matanya berbinar.

Pak Tarjo dan Bu Surti pun menyalami Ibu Risma, Pak Serda Bambang, dan Bang Komar dengan penuh keakraban. Mereka merasa lega karena kesalahpahaman telah terselesaikan.

"Terima kasih ya, Pak, Bu," kata Pak Tarjo kepada kedua pengawal Ibu Risma.

"Maaf kalau kami sudah merepotkan," tambah pak Tarjo yang tercatat mantan anak preman pasar sekitar rumanya.

"Sama-sama, Pak," kata Pak Serda Bambang, senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Tugas kami memang menjaga keamanan."

"Kalau ada apa-apa, hubungi saya saja," kata Bang Komar sambil mengedipkan sebelah matanya.

Kunjungan yang awalnya menegangkan itu pun berakhir dengan damai. Tidak ada dendam pribadi di antara ibu Guru dan orang tua Udin. Apalagi menyangkut penilaian para guru terhadap udin yang terkenal bengal namun cerdas di kelas tidak masuk sekolah tanpa kabar.

Semuanya saling memaafkan dan memisahkan masalah pribadi dengan masalah anak sekolah tanpa mengintimidasi Udin di sekolah, keduanya pun berjanji untuk menjalin komunikasi yang profesional serta lebih baik di masa depan.

Setelah Bu Guru sang tentara dan si Preman bertolak, pak Tarjo dan bu Surti merasa tidak dihargai di rumahnya sendiri, wajah mereka tampak dongkol. Mereka merasa direndahkan, seolah-olah hanya karena mereka "orang kecil", mereka harus diawasi layaknya teroris kelas kakap.

Di dalam rumah, Pak Tarjo bergumam heran, "Kok aneh ya, Bu?. Berkunjung ke rumah orang tua murid sendiri sampai harus dikawal tentara dan preman segala."

"Kita ini sudah dianggap seperti teroris!" sahut Bu Surti dengan nada ketus di hadapan suaminya sembari merawat anaknya Udin yang sedang sakit demam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image