Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image humas ump

Ketika Tanah Airku Dinyanyikan Mahasiswa Internasional UMP dari Berbagai Penjuru Dunia

Info Terkini | 2026-08-17 15:54:25

Ada pemandangan berbeda dalam upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Senin (17/8/2026). Di antara peserta upacara, berdiri mahasiswa-mahasiswa internasional dari berbagai negara. Mereka turut larut dalam perayaan kemerdekaan Indonesia, bahkan menyanyikan lagu “Tanah Airku” dan “Rasa Sayange” bersama sivitas akademika UMP.

Bagi mereka, Indonesia memang bukan tanah kelahiran. Namun pagi itu, merah putih, lagu kebangsaan, dan semangat kemerdekaan menjadi bahasa yang mempertemukan berbagai bangsa di satu halaman kampus.

Mahasiswa internasional tersebut berasal dari Mali, Tanzania, Togo, Sudan, Komoro, Thailand, Afrika Selatan, Myanmar, Tajikistan, Kirgizstan, India, dan sejumlah negara lainnya. Mereka menempuh pendidikan pada berbagai program studi di UMP, mulai dari Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Inggris, Manajemen, Keperawatan, Farmasi, Bisnis Digital, Akuntansi, Teknik Elektro hingga Teknik Informatika.

Ketika lagu “Tanah Airku” mulai terdengar, mahasiswa internasional UMP ikut menyanyikannya. Sebuah lagu tentang kecintaan kepada Indonesia kini turut dilantunkan oleh mereka yang datang dari ribuan kilometer jauhnya untuk menuntut ilmu di Purwokerto.

Suasana semakin hangat ketika “Rasa Sayange” dibawakan. Lagu yang begitu lekat dengan kekayaan budaya Nusantara itu menghadirkan nuansa berbeda dalam peringatan kemerdekaan. Mahasiswa dari Asia hingga Afrika berdiri bersama mahasiswa Indonesia dalam satu perayaan.

Momentum tersebut menjadi gambaran kecil tentang bagaimana pendidikan dapat melampaui batas geografis dan kebangsaan.

Dari Mali hingga India, Rayakan Kemerdekaan Indonesia

Sebanyak 18 mahasiswa internasional ikut menyemarakkan momentum tersebut. Mereka adalah Djibrilirou Cisse dari Mali (Pendidikan Agama Islam); Ismaily Juma Bwando dari Tanzania dan Ablamvi Marc Guede dari Togo (Manajemen); serta mahasiswa asal Sudan, yakni Dania Tarig (Pendidikan Bahasa Inggris), Rawia (Keperawatan), Rihab (Farmasi), Mohammed Seddeg (Teknik Elektro), dan Shahd Ali (Teknik Informatika).

Turut hadir Khouloude Mohamed dari Komoro (Farmasi); Nurainee Khrueathong dan Hawanee Sama dari Thailand (Farmasi); Bukho Maci dari Afrika Selatan (Pendidikan Bahasa Inggris); serta Saw Kha Nyaw dari Myanmar (Manajemen).

Sementara dari Asia Tengah terdapat Zohid Boboev, Mustafo, dan Abdurakhmon dari Tajikistan yang menempuh pendidikan di Program Studi Bisnis Digital, serta Azizbek dari Kirgizstan yang menempuh pendidikan di Program Studi Akuntansi. Dari India, hadir Saniya Raza, mahasiswa Teknik Informatika UMP.

Keikutsertaan mereka tidak sekadar menjadi pelengkap seremoni. Bagi mahasiswa internasional, upacara kemerdekaan menjadi kesempatan untuk mengenal Indonesia melalui pengalaman langsung: melihat bagaimana bangsa ini menghargai sejarah, mengenang perjuangan para pendiri bangsa, sekaligus merawat persatuan di tengah keberagaman.

Dosen pendamping mahasiswa internasional UMP, Dr. Pratik Hari Yuwono, M.A., mengatakan keterlibatan mahasiswa asing dalam peringatan HUT RI menjadi bagian penting dari proses pendidikan lintas budaya yang mereka alami selama belajar di Indonesia.

“Mahasiswa internasional datang ke UMP bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan akademik. Kami ingin mereka juga mengenal Indonesia, masyarakatnya, budayanya, serta nilai-nilai yang membentuk bangsa ini. Ketika mereka mengikuti upacara dan bersama-sama menyanyikan ‘Tanah Airku’ serta ‘Rasa Sayange’, di situlah terjadi pengalaman lintas budaya yang sangat kuat,” ujar Pratik.

Menurutnya, pengalaman tersebut juga mempertemukan mahasiswa internasional dengan nilai kebangsaan Indonesia yang menjunjung persatuan di tengah keberagaman.

“Mereka datang dari negara, bahasa, dan budaya yang berbeda. Namun hari ini mereka berdiri bersama dalam satu ruang, menghormati kemerdekaan Indonesia. Ini menjadi pesan bahwa kampus adalah tempat yang sangat strategis untuk membangun persahabatan antarbangsa dan saling memahami kebudayaan,” tambahnya.

Rektor UMP: Kemerdekaan Harus Melahirkan Kontribusi

Rektor UMP Prof. Dr. Jebul Suroso, yang bertindak sebagai inspektur upacara, menilai momentum kemerdekaan tidak cukup hanya diperingati melalui seremoni tahunan. Kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi semangat untuk terus belajar, bekerja, berkarya, dan menghadirkan kebermanfaatan.

“Delapan puluh satu tahun kemerdekaan Indonesia harus menjadi momentum bagi kita untuk bertanya, kontribusi apa yang dapat kita berikan untuk bangsa. Bagi perguruan tinggi, kemerdekaan harus diisi dengan pendidikan yang berkualitas, pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, serta karya-karya yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ungkap Prof Jebul.

Menurutnya, kehadiran mahasiswa internasional dalam peringatan kemerdekaan juga menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran dalam memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat dunia.

“UMP hari ini menjadi rumah belajar bagi mahasiswa dari berbagai negara. Mereka datang membawa budaya masing-masing, belajar bersama mahasiswa Indonesia, kemudian mengenal budaya dan kehidupan masyarakat kita. Kami berharap ketika kembali ke negaranya, mereka tidak hanya membawa ijazah dan ilmu pengetahuan, tetapi juga membawa pengalaman dan cerita baik tentang Indonesia,” katanya.

Prof Dr Jebul menegaskan internasionalisasi perguruan tinggi bukan semata-mata mengenai jumlah mahasiswa asing maupun kerja sama dengan institusi luar negeri. Lebih dari itu, internasionalisasi harus menghadirkan interaksi antarmanusia yang membangun saling pengertian, toleransi, persaudaraan, dan jejaring global.

Merah Putih yang Mempertemukan Dunia

Pagi itu, halaman Kampus 1 UMP seolah menjadi miniatur dunia.

Ada mahasiswa dari Afrika Barat, Afrika Timur, Afrika Selatan, Timur Tengah, Asia Tenggara, Asia Tengah hingga Asia Selatan. Mereka memiliki bahasa ibu, tradisi, dan latar budaya yang berbeda. Namun semuanya hadir dalam satu momentum yang sama: 81 tahun Indonesia merdeka.

Bagi mahasiswa Indonesia, pemandangan itu memberikan makna lain dari sebuah peringatan kemerdekaan. Indonesia tidak hanya dirayakan oleh mereka yang lahir dan tumbuh di negeri ini, tetapi juga diperkenalkan kepada generasi muda dari berbagai belahan dunia melalui pendidikan.

Sebaliknya, bagi mahasiswa internasional, upacara tersebut menjadi ruang untuk memahami bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perjalanan panjang perjuangan sekaligus keberagaman.

Ketika “Tanah Airku” dinyanyikan bersama, batas-batas negara seolah menjadi lebih dekat. Mereka mungkin berasal dari Mali, Tanzania, Togo, Sudan, Komoro, Thailand, Afrika Selatan, Myanmar, Tajikistan, Kirgizstan, maupun India. Namun pagi itu, mereka bersama-sama belajar memahami satu kata yang memiliki arti mendalam bagi masyarakat Indonesia: merdeka.

Dari halaman Kampus 1 UMP di Purwokerto, peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia akhirnya tidak hanya menjadi seremoni kebangsaan. Ia menjadi ruang perjumpaan dunia tempat merah putih memperkenalkan Indonesia, pendidikan mempertemukan berbagai bangsa, dan lagu “Tanah Airku” menemukan suara-suara baru dari berbagai penjuru dunia. (tgr)


Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image