Sudah Mampukah Mengosongkan Diri?
Agama | 2026-03-18 15:46:13
Sudah Mampukah Mengosongkan Diri?
Oleh: Dr. Heru Siswanto, M. Pd.I*
Ada suatu ungkapan bijak "Jadilah kamu seperti seruling yang memiliki lubang yang kosong. Tujuan dari kekosongan ini adalah agar nafas Sang Penaruh Rindu bisa mengalun merdu melalui dirimu nantinya"
Bahkan dalam ruang kehidupan sering kali kita melihat sebagian orang yang sibuk mengisi hidupnya dengan berbagai macam keinginan, ambisi, dan rasa memiliki yang sangat berlebihan.
Hal tersebut tanpa kita sadari, batin akan menjadi penuh sesak, riuh, bising dan berisik banget. Terkait akan hal ini, agar kita bisa menerima sesuatu yang baru dan suci, kita harus berani menjadi pribadi yang kosong.
Sebab secara logika, ambil contoh sebuah gelas yang sudah terisi air penuh hingga meluap-luap sehingga tidak akan bisa lagi menerima kucuran air sedikit pun.
Dengan contoh demikian, begitu pula dengan hati manusia itu sendiri. Jika hati sudah penuh dengan kemarahan, keakuan, prasangka, iri, dengki, hasud dan cinta pada dunia yang berlebihan. Maka timbal baliknya ketenangan sejati dan cahaya kebijaksanaan tidak akan punya tempat untuk singgah di hati kita masing-masing.
Untuk itu, puasa kita lakukan ini sebagai ruang tunggu untuk mengosongkan. Puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, melainkan sebagai momen untuk berhenti sejenak untuk mengosongkan atau menguras sampah-sampah kemarahan, keangkuhan, kedengkian dan seterusnya.
Dalam akhlak tasawuf Kekosongan memiliki makna bukanlah kehampaan yang menyedihkan, melainkan kekosongan adalah kesiapan diri untuk menjadi lebih baik. Sebab dengan menjadi kosong berarti siap menjadi pribadi yang rendah hati, siap dibentuk menjadi manusia yang berakhlak, dan siap menerima limpahan rahmat tanpa terhalang oleh embel-embel merasa paling benar, paling baik, paling hebat, paling sempurna dan seterusnya. Sebab seseorang kalau sudah merasa paling sempurna berarti dia seperti gelas yang isinya sudah meluap-luap "sudah penuh" dan tidak bisa menampung air lagi.
Sudah mampukah kita mengosongkan diri?.......
Semoga Bermanfaat.......
*Ketua Program Studi dan Dosen PAI-BSI (Pendidikan Agama Islam-Berbasis Studi Interdisipliner) Pascasarjana IAI Al-Khoziny Sidoarjo; Dosen PAI Poltek Pelayaran Surabaya; Dosen Aswaja UNUSIDA Sidoarjo; Pengurus Lembaga Takmir Masjid PCNU Sidoarjo; Ketua Lembaga Dakwah MWCNU Krembung.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
