Ramadhan dan Kesadaran Diri Menuju Taqwa
Agama | 2026-02-20 15:13:44
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيم
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Alhamdulillah, kembali kita dipertemukan dengan Ramadhan, bulan yang Allah SWT hadirkan sebagai panggilan kasih bagi jiwa-jiwa yang merindu jalan taqwa. Ia datang bukan sekadar sebagai penanda waktu, tetapi sebagai cahaya yang menuntun manusia agar kembali menyadari siapa dirinya dan ke mana arah hidupnya.
Tanpa terasa, langkah-langkah kehidupan sering membawa kita menjauh dari orbit orang-orang yang bertaqwa. Hari-hari dipenuhi rutinitas yang melelahkan, kesibukan yang menyita perhatian, serta keinginan-keinginan yang kian menuntut untuk dipenuhi. Hati pun perlahan lupa pada nilai ketaatan, hingga sebagian manusia tersesat di belantara dosa tanpa pernah menyadari bahwa ia telah jauh dari Rabb-nya.
Di titik inilah Ramadhan hadir sebagai panggilan Rabbani: memanggil manusia pulang kepada jati dirinya sebagai hamba Allah SWT, mengarahkan kembali langkah yang menyimpang menuju poros taqwa yang diridhai-Nya.
Ramadhan sejatinya adalah sebuah sistem Ilahi yang Allah SWT susun dengan sempurna untuk membina kesadaran bertaqwa dalam diri manusia. Puasa mengajarkan jiwa menundukkan hawa nafsu, sholat malam membangunkan rindu kepada Rabb-nya, tilawah Al-Qur’an meluruskan kembali cara berfikir dan memandang hidup, sementara zakat dan sedekah melembutkan hati agar peka terhadap sesama.
Seluruh rangkaian ini bergerak seirama, menata ulang kesadaran bahwa hidup bukan sekadar mengikuti keinginan diri, tetapi berjalan dalam kehendak Ilahi Rabbi. Dengan sistem inilah Ramadhan mengembalikan manusia dari lalai menuju taat, dari tenggelam dalam dunia menuju cahaya taqwa yang hakiki.
Fitrah yang pernah kita rasakan pada Ramadhan-Ramadhan sebelumnya sejatinya adalah kejernihan jiwa yang dekat dengan ketaatan. Allah SWT telah menanamkan fitrah itu dalam setiap insan, sebagaimana firman-Nya:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rūm: 30)
Namun waktu sering mengaburkan kejernihan tersebut. Rutinitas yang menumpuk, godaan dunia yang tak pernah surut, serta kelalaian yang dibiarkan tanpa muhasabah, perlahan menggeser arah hidup menjauh dari orbit taqwa.
Rasulullah SAW mengingatkan:
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menyingkap satu hakikat: bahwa jiwa sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan kebiasaan. Maka segala pola hidup yang konsumtif dan kecenderungan yang materialistik, yang selama ini kita jalani tanpa jeda, patut dikendalikan di bulan Ramadhan, agar jiwa memperoleh ruang untuk kembali menemukan kesucian asalnya dan menata ulang orientasi hidup menuju taqwa.
Karena itu, Ramadhan yang kini kembali mengetuk pintu kehidupan kita adalah momentum Ilahi untuk memurnikan kembali fitrah tersebut. Ia hadir agar hati yang pernah bening tidak terus terendam oleh kelalaian, tetapi kembali disucikan melalui sistem Rabbani yang Allah SWT tetapkan.
Apabila sistem Ramadhan ini dijalani dengan iman dan keikhlasan, maka perubahan yang lahir bukan hanya tampak pada raga, tetapi meresap ke dalam cara manusia memandang hidup. Puasa tidak lagi sekadar menahan lapar, melainkan latihan jiwa untuk menahan diri dari segala yang dimurkai Allah SWT.
Dari sinilah arah hidup bergeser: dari mengikuti hawa nafsu menuju ketaatan, dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari kebiasaan dosa menuju usaha menjaga diri dalam ridha Allah SWT.
Maka perjumpaan kita dengan Ramadhan bukanlah peristiwa biasa yang datang lalu berlalu tanpa makna. Ia adalah kesempatan agung untuk menata kembali arah perjalanan hidup dalam orbit ketaqwaan. Ramadhan mengajak setiap hamba berhenti sejenak dari derasnya arus dunia, menengok kembali kejernihan fitrah yang pernah diraih, serta memperbarui ikrar penghambaan kepada Allah SWT.
Semoga Ramadhan kali ini benar-benar menjadi jalan bagi kita untuk kembali kepada Allah SWT dengan hati yang lebih bening, kesadaran yang lebih jernih, dan langkah hidup yang lebih terarah dalam ketaatan.
Sahabat Selamat menikmati jamuan Ramadhan yang Allah SWT hidangkan bagi hamba-hamba-Nya yang merindukan taqwa.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
