Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Jasmine Aura Dinata

Jalanan dan Laboratorium: Cara Mahasiswa Membela Kepentingan

Didaktika | 2026-06-29 11:49:05

Saat sebuah isu besar muncul di ruang publik, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok, polemik anggaran negara, hingga pelemahan ekonomi, respons mahasiswa sering kali terlihat berbeda. Ada yang turun ke jalan membawa tuntutan dan poster protes. Ada pula yang memilih berdiskusi di ruang kelas, menyusun kajian, atau menawarkan solusi teknis melalui forum akademik.

Perbedaan ini kadang memunculkan stereotip yang kurang tepat. Mahasiswa yang aktif berdemo sering dianggap terlalu idealis dan gemar mengkritik. Sebaliknya, mahasiswa yang lebih memilih diskusi dianggap kurang peduli terhadap persoalan sosial. Padahal, menurut saya, cara pandang seperti itu justru menggambarkan realitas yang jauh lebih kompleks.

Selama berinteraksi di lingkungan kampus, saya melihat bahwa perbedaan respon tersebut sering kali dihilangkan pada cara berpikir yang dibentuk oleh disiplin ilmu masing-masing. Bukan soal siapa yang paling peduli terhadap bangsa, melainkan bagaimana setiap bidang keilmuan mengajarkan cara memahami dan menyelesaikan masalah, Mahasiswa teknik, misalnya, sejak awak terbiasa menangani persoalan yang membutuhkan solusi konkret. Mereka terbiasa bertanya bagaimana suatu sistem dapat diperbaiki, bagaimana efisiensi dapat ditingkatkan, atau bagaimana masalah dapat diselesaikan melalui pendekatan yang terukur.

Dalam masalah perbankan, mereka memandang permasalahan sebagai sesuatu yang dapat diselesaikan melalui perencanaan, komputasi, dan inovasi. Oleh karena itu, ketika terjadi krisis, respons yang sering muncul berupa pencarian solusi praktis. Mereka cenderung bertanya apa yang harus diperbaiki, teknologi apa yang dapat digunakan, atau langkah teknis apa yang paling efektif untuk mengurangi dampak masalah tersebut.

Sementara itu, mahasiswa ilmu sosial diawali dengan tradisi berpikir yang berbeda. Mereka terbiasa memahami mengapa sebuah masalah bisa muncul, siapa yang paling berdampak, dan bagaimana hubungan antara kebiiakan, kekuasaan, serta kondisi masyarakat. Fokus mereka tidak hanya pada akibat, namun juga pada akar permasalahan. Akibatnya, ketika melihat sebuah kebijakan yang dianggap bermasalah, sebagian mahasiswa sosial merasa bahwa memperbaiki aspek teknis saja tidak cukup. Ada struktur yang perlu dikritisi, ada kebijakan yang perlu dievaluasi, dan ada suara masyarakat yang perlu diperjuangkan.

Mulai dari aksi massa, diskusi publik, hingga gerakan advokasi sering dipandang sebaga bagian dari solusi.
Sava masih ingat bagaimana saat berbagai kebijakan kontroversial teriadi secara nasional respon mahasiswa di kampus sering terbelah ke dalam dua pendekatan. Sebagian memilih turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi Sebagian lainnya memilih menulis kajian akademis atau memberikan rekomendasi berbasis data. Menariknya, kedua kelompok tersebut sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu menginginkan kondisi yang lebih baik.

Perbedaannya hanya terletak pada jalan yang ditempuh.

Jika dilihat dari sudut pandang sosiologi, fenomena ini cukup menarik. Talcot Parsons melalui teori fungsionalisme strukturalisme masyarakat memandang sebagai sebuah sistem yang terdiri dari berbagai bagian yang saling bergantung. Dalam kerangka ini, stabilitas dapat tercapai ketika setiap bagian menjalankan fungsinya dengan baik. Cara pandang seperti ini sering tercermin dalam pendekatan yang lebih teknokratis dan berorientasi pada perbaikan sistem.

Di sisi lain, pendekatan yang lebih kritis banyak dipengaruhi oleh pemikiran bahwa perubahan sosial tidak selalu lahir dari stabilitas, tetapi juga dari kritik terhadap ketimpangan yang ada. Oleh karena itu, tekanan publik dan gerakan kolektif sering dipandang sebagai cara yang sah untuk mendorong perubahan kebijakan.

Namun semakin mengamati dinamika tersebut. Semakin saya merasa bahwa memperdebatkan mana yang lebih benar justru tidak membawa kita ke mana-mana, Krisis yang dihadapi masyarakat saat ini terlalu kompleks untuk diselesaikan hanya dengan satu pendekatan.

Kita membutuhkan mahasiswa yang mampu mengkritik kebijakan ketika ada ketidakadilan. Pada saat yang sama, kita juga membutuhkan mahasiswa yang mampu menawarkan solusi konkret dan aplikatif. Kritik tanpa solusi sering kali berhenti sebagai keluhan. Sebaliknya solusi tanpa kritik mengabaikan akar masalah yang sebenarnya.

Maka dari itu, saya melihat perbedaan antara mahasiswa teknik dan mahasiswa sosial bukan sebagai tirai pembatas, melainkan sebagai kekuatan yang saling melengkapi, Kampus pada dasarnya tidak dibangun untuk menghasilkan cara berpikir yang seragam. Justru keberagaman perspektif itulah yang menjadi salah satu kekuatan terbesar dunia akademik.

Pada akhirnya, perubahan tidak hanya lahir dari mereka yang berbicara di atas mimbar aksi, tetapi juga dari mereka yang bekerja diam-diam di ruang laboratorium, ruang penelitian, atau forum diskusi. Ketika keduanya mampu berjalan beriringan, kampus tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang lahirnya solusi bagi berbagai permasalahan bangsa.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image