Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Yunita Rafidah-Mahasiswa Universitas Siber As

AI Bisa Memberi Banyak Jawaban, Tapi Gen Z Masih Sering Bingung?

Teknologi | 2026-08-13 08:21:57

Pernah nggak sih kita merasa bingung justru ketika banyak pilihan?

Mau memilih sesuatu, kita cari ulasan di media sosial. Masih ragu, kita bertanya kepada teman. Belum yakin juga, sekarang ada pilihan lain yaitu bertanya kepada AI.

Menariknya, AI bisa memberikan banyak jawaban dalam waktu yang sangat singkat. Kita bisa bertanya tentang tugas kuliah, pekerjaan, rencana masa depan, bahkan keputusan-keputusan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Namun, semakin banyak jawaban yang tersedia ternyata tidak selalu membuat kita semakin yakin. Terkadang justru sebaliknya dan akhirnya kita semakin bingung.

Fenomena ini dekat dengan kehidupan Gen Z yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital, informasi semakin mudah diperoleh hingga berbagai pilihan semakin banyak, dan AI semakin mudah digunakan. Di satu sisi, kondisi ini memberikan banyak kemudahan, sedangkan di sisi lain, kita dituntut untuk semakin mampu menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas keputusan sendiri.

Ketika AI Menjawab Hampir Segalanya

Perkembangan AI merupakan salah satu gambaran perubahan teknologi di era Industry 4.0, kehadirannya membuat berbagai aktivitas menjadi lebih cepat dan praktis, termasuk dalam dunia pendidikan.

Seperti contoh, mahasiswa dapat menggunakan AI untuk memahami materi yang sulit, mencari ide, merangkum informasi, atau mendapatkan sudut pandang lin mengenai suatu permasalahan.

Pemerintah Indonesia sendiri pada 12 Maret 2026 menetapkan pedoman pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital serta AI yang mencakup pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Hal ini menunjukan bahwa AI sudah menjadi bagian dari realitas pendidikan , bukan lagi sekedar teknologi masa depan.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan. Ketika hampir semua pertanyaan dapat kita tanyakan kepada AI, kita bisa terbiasa mencari jawaban dari luardiri sediri. Ketika menghadapi pilihan, kita mungkin terus mencari pendapat orang lain karena takut mengambil keputusan yang salah.

Akhirnya, persoalannya bukan karena kita kekurangan pilihan, tetapi justru karena terlalu banyak pilihan.

AI Bisa Memberi Jawaban, Tapi Tidak Bisa Menjalani Hidup Kita

AI dapat memberikan berbagai rekomendasi berdasarkan informasi yang kita berikan. Tetapi ada satu hal yang tidak dapat dilakukan AI, yaitu menjalani kehidupan kita.

Bayangkan seorang mahasiswa sedang bingung menentukan apakah harus mengikuti organisasi, bekerja sambil kuliah, atau fokus pada akademik. AI dapat membantu menjelaskan kelebihan dan kekurangan setiap pilihan. Namun AI tidak benar-benar mengetahui kondisi keluarga, kemampuan finansial, pengalaman pribadi, tingkat energi, maupun nilai-nilai yang dianggap penting oleh mahasiswa tersebut.

Karena itu, jawaban AI seharusnya menjadi bahan pertimbangan, bukan keputusan akhir.

Sebuah penelitian dalam Acta Psychologica pada 2025 yang mengkaji ketergantungan AI dan kemampuan berpikir kritis menemukan bahwa ketergantungan AI yang lebih tinggi berkaitan dengan tingkat berpikir kritis yang rendah. Penelitian tersebut juga menunjukkan peran kelelahan kognitif dalam hubungan tersebut serta pentingnya AI literacy sebagai faktor yang dapat membantu mengurangi dampak negatif ketergantungan.

Temuan tersebut tidak berarti bahwa AI selalu buruk bagi mahasiswa. Justru, penelitian ini menunjukkan pentingnya cara penggunaan AI. Teknologi dapat membantu proses belajar, tetapi penggunaan yang terlalu bergantung dapat membuat proses berpikir manusia semakin mudah dialihkan kepada mesin.

Semakin Canggih Teknologi, Semakin Penting Kemampuan Manusia

Di sinilah konsep Society 5.0 menjadi relevan. Konsep ini menempatkan manusia sebagai pusat dalam pemanfaatan teknologi untuk menyelesaikan masalah sosial dan meningkatkan kesejahteraan. Karena itu, kemajuan teknologi seharusnya tetap berada dalam kendali manusia.

Mahasiswa menggunakan AI saja tidak cukup, kita juga membutuhkan kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, dan mengambil keputusan.

UNESCO melalui AI Competency Framework for Students menekankan pentingnya human-centred mindset, etika, pengetahuan tentang AI, serta kemampuan menggunakan AI secara bertanggung jawab. Artinya, semakin canggih teknologi maka manusia harus semakin mampu berpikir dan menentukan pilihan.

Jangan Sampai AI Mengambil Alih Keputusan Kita

Menurut saya, Gen Z tidak perlu menjauhi AI. Yang penting adalah membangun kebiasaan menggunakannya dengan bijak. AI boleh membantu mencari informasi, memahami materi, dan memberikan alternatif solusi, tetapi keputusan tetap harus berada di tangan manusia.

Setelah mendapatkan jawaban dari AI, kita perlu bertanya : Apakah jawaban ini benar? Apakah sesuai dengan kondisi saya? Apa dampaknya? Dan apakah saya sendiri setuju dengan pilihan ini?

Kita juga tidak harus selalu menemukan keputusan yang sempurna. Kesalahan dalam memilih merupakan bagian dari proses belajar dan mengenal diri sendiri. Jangan sampai karena takut salah, kita terus mencari jawaban dari AI sampai lupa mempertimbangkan diri sendiri.

AI Boleh Pintar, Tapi Manusia Harus Tetap Punya Arah

Perkembangan AI bukan sesuatu yang harus ditakuti. Tantangan Gen Z bukan lagi sekedar mencari informasi, tetapi memilih informasi yang benar, mengolahnya secara kritis, dan menggunakannya untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

AI mungkin dapat memberikan banyak jawaban dalam hitungan detik. Namun, manusia tetap harus menentukan jawaban mana yang sesuai dengan nilai, kebutuhan, dan tujuan hidupnya.

AI boleh membantu kita menemukan banyak jalan, tetapi kitalah yang harus memilih ke mana akan berjalan.

Sumber Refensi

1.UNESCO. (2024). AI Competency Framework for Students.

2.Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia. (2026). Tujuh Kementerian Sepakati Pedoman Penggunaan AI di Pendidikan.

3.Tian, J., & Zhang, R. (2025). Learners' AI dependence and critical thinking: The psychological mechanism of fatigue and the social buffering role of AI literacy. Acta Psychologica, 260, 105725.

4.Cabinet Office, Goverment of Japan. (2021). Society 5.0.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image