Kebiasaan Menunda Makan
Gaya Hidup | 2026-08-11 21:50:23Menunda Makan, Kebiasaan Sepele yang Mengganggu Kesehatan"Sebentar lagi" menjadi alasan yang sering digunakan untuk menunda makan. Kesibukan kuliah, tugas, organisasi, atau pekerjaan membuat seseorang melewatkan sarapan, makan siang, bahkan makan malam. Padahal, jika dilakukan berulang kali, kebiasaan ini dapat memengaruhi kecukupan gizi dan pola makan sehari-hari.
Sebuah tinjauan sistematis menemukan bahwa kebiasaan melewatkan waktu makan cukup sering terjadi pada kelompok dewasa muda. Alasan yang paling banyak dilaporkan adalah tidak memiliki cukup waktu. Sarapan juga menjadi waktu makan yang paling sering dilewatkan dibandingkan makan siang atau makan malam (Pendergast et al., 2016).
Menunda makan dapat membuat seseorang merasa sangat lapar sehingga makan lebih banyak pada waktu berikutnya. Penelitian terhadap 23.488 orang dewasa di Amerika Serikat menunjukkan bahwa melewatkan waktu makan dapat meningkatkan asupan energi pada waktu berikutnya dan menurunkan kualitas pola makan harian. Penurunan kualitas tersebut terutama berkaitan dengan berkurangnya konsumsi buah, biji-bijian utuh, produk susu, sayuran, dan sumber protein tertentu (Zeballos & Todd, 2020).
Namun, menunda makan tidak otomatis menyebabkan penyakit tertentu pada semua orang. Dampaknya dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi tubuh, jenis makanan, aktivitas, dan seberapa sering kebiasaan tersebut dilakukan. Meski demikian, pola makan yang tidak teratur dapat membuat kebutuhan zat gizi lebih sulit terpenuhi.
Untuk mencegahnya, buatlah jadwal makan yang sesuai dengan aktivitas harian. Siapkan makanan dari rumah atau camilan bergizi seperti buah, roti gandum, kacang-kacangan, dan yoghurt. Selain itu, terapkan prinsip "Isi Piringku" dengan mengonsumsi makanan pokok, lauk-pauk, sayur, dan buah secara seimbang (Kementerian Kesehatan RI, 2024).
Makan bukan kegiatan yang pantas terus-menerus ditunda. Dengan mengatur waktu dan menyiapkan makanan lebih awal, tubuh dapat memperoleh energi dan zat gizi yang dibutuhkan untuk belajar, bekerja, serta beraktivitas secara optimal.
Referensi: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, Juni 28). Isi piringku, panduan kebutuhan gizi seimbang harian. Ayo Sehat Kemkes. https://ayosehat.kemkes.go.id/isi-piringku-kebutuhan-gizi-harian-seimbang
Pendergast, F. J., Livingstone, K. M., Worsley, A., & McNaughton, S. A. (2016). Correlates of meal skipping in young adults: A systematic review. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity, 13, Artikel 125. https://doi.org/10.1186/s12966-016-0451-1
Zeballos, E., & Todd, J. E. (2020). The effects of skipping a meal on daily energy intake and diet quality. Public Health Nutrition, 23(18), 3346–3355. https://doi.org/10.1017/S1368980020000683
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
