Awas, Makan Terlalu Cepat Tingkatkan Risiko Sindrom Metabolik
Eduaksi | 2026-08-13 09:41:30Di balik kepraktisan tersebut, ada bahaya laten yang sedang mengintai. Kebiasaan makan yang terburu-buru karena keterbatasan waktu ini ternyata menjadi salah satu pemicu utama gangguan metabolisme tubuh yang dikenal sebagai sindrom metabolik. Apa itu sindrom metabolik? Sindrom metabolik adalah suatu sindrom yang terdiri dari sekumpulan gejala meliputi peningkatan ukuran linggar pinggang, peningkatan kadar trigliserida darah, penurunan kadar high density lipoprotein (HDL)-kolesterol darah, tekanan darah tinggi, dan intoleransi gula.
Terdapat beberapa hipotesis menjelaskan hubungan antara makan cepat dan sindrom metabolik. Pertama intake makan cepat dapat menyebabkan seseorang makan berlebih, yang di mana asupan kalori juga menjadi berlebih dan berujung pada peningkatan berat badan serta risiko terjadinya sindrom metabolik.
Kedua, makan cepat dapat mengubah hormon pencernaan yang ada di dalam sirkulasi, baik hormon anoreksigenik (hormon penekanan lapar) maupun hormon oreksigenik (hormon pembuat lapar). Suatu penelitian menemukan bahwa konsentrasi hormon anoreksigenik lebih rendah dan konsentrasi hormon oreksigenik lebih tinggi pada subjek yang makan lebih cepat dan mengunyah lebih sedikit dibandingkan dengan subjek yang makan lebih lambat dan mengunyah lebih banyak. Padahal, hormon anoreksigenik berfungsi untuk 3 memberikan sinyal kenyang kepada hipotalamus, sedangkan hormon oreksigenik memberikan sinyal lapar kepada hipotalamus. Rendahnya rasa kenyang ini akan menyebabkan orang yang makan lebih cepat cenderung makan lebih banyak.
Berdasarkan National Cholesterol Education Program yang dimodifikasi untuk kawasan Asia, seseorang dinyatakan menderita sindrom metabolik jika memiliki 3 dari 5 keadaan berikut, yakni peningkatan ukuran lingkar pinggang (>90 cm untuk laki-laki dan >80 cm untuk wanita), peningkatan kadar trigliserida darah (>150 mg/dl), kadar HDL kolesterol yang rendah (laki-laki 45 mg/dl dan wanita 50 mg/dl), tekanan darah tinggi (>130/>85 mmHg), dan kadar gula darah puasa tinggi (>110 mg/dl). Adapun di Indonesia, prevalensi sindrom metabolik pada kelompok lanjut usia adalah sebesar 14,9%.
Jika seseorang sudah mengidap sindrom metabolik, tinggi risikonya ia terserang kelainan jantung dan diabetes mellitus (DM) di kemudian hari. Risiko kelainan jantung pada seseorang dengan sindrom metabolik satu setengah hingga tiga kali lebih tinggi dibanding seseorang tanpa sindrom metabolik, sementara risiko DM tipe 2 meningkat tiga hingga lima kali lebih tinggi. Tak hanya itu, sindrom metabolik juga dapat meningkatkan risiko terjadinya perlemakan liver, meningkatkan kadar asam urat darah, dan henti nafas selama tidur (obstructive sleep apnea).
Melihat berbagai masalah yang dapat muncul karena makan dengan cepat, tentu lebih baik jika kita menurunkan kecepatan makan kita. Mulailah dengan mengubah lingkungan tempat makan. Hindari mendengar musik yang upbeat saat makan, pilih tempat yang tenang dan nyaman. Mulailah dengan mengubah lingkungan tempat makan. Hindari mendengar musik yang upbeat saat makan, pilih tempat yang tenang dan nyaman. Cara lainnya adalah dengan meningkatkan frekuensi kunyahan. Mengunyah lebih banyak dapat mengembalikan fokus pada makanan dan mengurangi kecepatan makan.
Penelitian dari Harbin Medical University di Cina menunjukkan bahwa seseorang yang mengunyah 40 kali baru menelan makanannya, mengkonsumsi kalori 11% lebih sedikit dibanding dengan hanya mengunyah 15 kali. Kadar ghrelin plasma juga lebih tinggi pada saat mengunyah makanan 40 kali dibanding hanya mengunyah 15 kali.
Penelitian ini membuktikan bahwa mengunyah lebih banyak dapat menguntungkan dalam menjauhkan seseorang dari sindrom metabolik. Lalu, seberapa banyakkah sebaiknya kita mengunyah makanan? Berdasarkan penelitian di Ohio State University, makanan harus dikunyah minimal 30 kali terlebih dahulu sebelum ditelan. Makanan yang lebih halus, misalnya mashed potatoes, minimal dikunyah sebanyak 5-10 kali.
Dengan menerapkan hal-hal di atas, Anda mungkin dapat terbantu untuk makan lebih lambat, kenyang lebih cepat, dan terhindar dari sindrom metabolik.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
