Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Intan Nur Asri

Cuma Teh Hijau, Kok Rp100 Ribu? Fenomena Berburu Matcha Generasi Muda

Gaya Hidup | 2026-09-22 13:56:25

Coba kalian perhatikan di salah satu gerai matcha premium di Jakarta Selatan pada pukul dua siang, di hari kerja. Kita akan melihat antrean mengular, orang-orang datang dengan laptop, AirPods, tote bag minimalis, dan wajah lelah. Harga satu gelas ceremonial matcha latte bisa mencapai Rp78.000, belum lagi tambahan oat milk dan topping yang membuat totalnya mendekati Rp100.000. Pertanyaannya: cuma teh hijau, kok bisa sampai segitu mahal?

Beberapa tahun lalu, matcha mungkin hanya dianggap sebagai salah satu varian minuman biasa. Namun sekarang, matcha telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup anak muda. Fenomena ini bukan lagi sekadar soal minuman, melainkan sudah menjadi semacam ritual sosial yang menarik.

Pengalaman Mahal

Kalau kita perhatikan lebih dalam, banyak kedai matcha tidak hanya menjual minuman. Mereka menjual pengalaman. Mulai dari interior toko yang minimalis dan estetik, proses pembuatan yang sengaja dibiarkan terbuka di depan pelanggan, hingga cerita mengenai asal-usul bubuk matcha yang digunakan. Semua elemen ini menciptakan persepsi bahwa matcha bukan sekadar minuman biasa, melainkan sebuah pengalaman premium yang layak dibayar mahal. Di tengah maraknya kopi yang sudah menjadi minuman mainstream, matcha hadir sebagai sesuatu yang terasa lebih eksklusif. Akibatnya, mengonsumsi matcha bagi sebagian orang menjadi cara untuk menunjukkan preferensi dan gaya hidup tertentu.

Ketika Matcha Menjadi Simbol Identitas

Tapi ada yang lebih menarik dari sekadar soal gaya. Sosiolog klasik Max Weber pernah melihat fenomena konsumsi seperti ini bukan sekadar soal ekonomi, melainkan soal identitas dan pengakuan sosial. Weber membedakan tindakan sosial ke dalam beberapa tipe, dan menariknya, fenomena berburu matcha ini menunjukkan pergeseran dari tindakan sosial afektif dan tradisional menuju rasionalitas nilai. Bagi sebagian orang, berburu matcha adalah tindakan ikut tren, takut ketinggalan alias FOMO. Namun bagi sebagian lain, ini bisa menjadi rasionalitas nilai, di mana menghabiskan uang ratusan ribu dianggap "pantas" demi mendapatkan kualitas atau pengalaman estetis tertentu. Ada nilai yang dikejar, bukan sekadar barang.

Yang dibeli bukan lagi sekadar minuman. Yang dibeli adalah rasa ketenangan, sensasi bahwa hidup masih dapat dikendalikan meski hanya selama satu gelas matcha belum habis. Di dekade 2000-an dikenal dengan nama "lipstick effect", fenomena meningkatnya konsumsi kemewahan kecil ketika ekonomi melemah. Bukan sekadar membeli barang kecil untuk terlihat baik, melainkan membeli pengalaman mikro untuk menjaga stabilitas emosional di tengah dunia yang semakin melelahkan.

Dari Teh HIjau Menjadi Gaya Hidup

Fenomena ini juga memunculkan efek FOMO, rasa takut ketinggalan tren yang sedang ramai di media sosial. Banyak remaja membeli minuman matcha bukan hanya karena suka rasanya, tapi juga agar bisa ikut eksis dan tampil up to date di dunia maya. Matcha latte yang estetik sering dijadikan properti untuk konten foto atau video, menjadikannya simbol gaya hidup modern yang dianggap keren dan kekinian. Selain citra estetik, matcha juga dikenal memiliki manfaat kesehatan, seperti kandungan antioksidan tinggi dan efek menenangkan. Hal ini semakin memperkuat daya tariknya di tengah tren hidup sehat yang juga sedang digandrungi.

Di Balik Segelas Hijau, Ada Cerita tentang Manusia

Fenomena berburu matcha ini sebenarnya memunculkan hal kegelisahan. Di satu sisi, kita ingin menikmati hidup, ingin merasa istimewa, ingin menjadi bagian dari sesuatu yang indah. Di sisi lain, kita tengah berhadapan dengan realitas yang melelahkan, pekerjaan yang menuntut, ekonomi yang tidak pasti, dan media sosial yang terus mendorong kita untuk tampil sempurna. Matcha, dengan warnanya yang hijau tenang dan rasanya yang menenangkan, seolah menjadi pelarian kecil dari semua itu. Ia bukan sekadar minuman, ia adalah simbol bahwa di tengah kekacauan, kita masih bisa memiliki satu momen yang terasa terkendali.

Mungkin kita tidak perlu menghakimi mereka yang rela antre dan menghabiskan ratusan ribu untuk segelas matcha. Setiap orang punya cara sendiri untuk bertahan. Yang perlu kita sadari adalah bahwa di balik setiap tren konsumsi, selalu ada cerita tentang manusia tentang keinginan untuk merasa berarti. Dan kadang, segelas hijau di tangan adalah cara paling sederhana untuk mengatakan: "Saya masih di sini, dan saya baik-baik saja.”

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image