Bukan Cuma Penahan Lapar: Mengapa Kuliner Kini Jadi Simbol Gaya Hidup?
Kuliner | 2026-10-12 11:33:27Abstrak
Industri kuliner di Indonesia mengalami pergeseran dari memasok kebutuhan dasar biologi menjadi bagian dari gaya hidup. Artikel ini bertujuan menganalisis perubahan pola permintaan konsumen kuliner dengan menggunakan konsep ekonomi mikro. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur. Pembahasan menggambarkan tiga fenomena, yaitu kopi kekinian, makanan viral, dan layanan pesan-antar online, ke dalam konsep perubahan selera, utilitas, elastisitas, biaya transaksi, dan biaya peluang waktu.
Hasil kajian menunjukkan bahwa konsumen tidak lagi hanya mencari nilai fungsional, tetapi juga nilai pengalaman dan nilai simbolik. Perubahan selera menggeser kurva permintaan ke kanan, sementara terbatasnya substitusi yang sempurna untuk produk berbasis pengalaman membuat permintaannya cenderung kurang elastis terhadap harga pada segmen tertentu. Layanan pesan-antar menurunkan biaya waktu dan upaya sehingga meningkatkan jumlah makanan siap saji yang diminta, terutama pada konsumen dengan peluang biaya waktu tinggi. Kesimpulan ini bersifat konseptual dan perlu diuji secara empiris pada penelitian selanjutnya.
Kata kunci: permintaan konsumen, ekonomi mikro, gaya hidup, perilaku konsumen, industri kuliner
1. Pendahuluan
Dalam dekade terakhir, lanskap industri kuliner di Indonesia berubah secara dinamis. Subsektor kuliner sendiri merupakan penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) ekonomi kreatif, yaitu sekitar 41% atau Rp455,44 triliun dari total Rp1.134 triliun pada tahun 2020 (Good News from Indonesia, 2021). Di tengah besarnya peran tersebut, kuliner tidak lagi dipandang semata-mata sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan fisiologis atau menghilangkan rasa lapar, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup. Menjamurnya kedai kopi kekinian, tren makanan viral di media sosial, serta maraknya layanan pesan-antar ( online delivery ) menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi, khususnya pada masyarakat perkotaan.
Perubahan ini menarik untuk dikaji melalui ekonomi mikro. Teori permintaan standar menjelaskan jumlah barang yang diminta sebagai fungsi dari harga, pendapatan, harga barang terkait, selera, dan ekspektasi, dengan asumsi dasar bahwa konsumen menerapkan kebijaksanaan rasional dan memaksimalkan utilitas dalam batas anggaran yang dimilikinya (Mankiw, 2021). Namun, selera tidak terbentuk secara terpisah dari lingkungan sosial. Pengaruh orang lain, tren yang beredar di media sosial, dan kebutuhan akan ruang bersosialisasi turut membentuk apa yang dianggap bernilai oleh konsumen (Leibenstein, 1950; Schiffman & Wisenblit, 2019).
Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini menguraikan tiga pertanyaan berikut.
(1) Bagaimana perubahan selera dan utilitas psikologis pergeseran permintaan serta mempengaruhi elastisitas pada produk makanan viral dan kopi kekinian?
(2) Bagaimana konsep Third Place dan nilai pengalaman menjelaskan permintaan terhadap kedai kopi?
(3) Bagaimana layanan pesan antar online mempengaruhi biaya transaksi, biaya waktu, dan permintaan makanan siap saji?
Tujuan artikel ini adalah menjelaskan ketiga pertanyaan tersebut menggunakan konsep ekonomi mikro sehingga transisi kuliner dari sekadar "kebutuhan" menjadi "gaya hidup" dapat dipahami secara analitis.
2. Metode Penelitian
Artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur ( literatur review ). Sumber data berupa buku teks ekonomi mikro dan perilaku konsumen, artikel jurnal ilmiah, serta publikasi dari lembaga resmi. Penelusuran sumber dilakukan melalui Google Scholar dan Portal Garuda dengan kata kunci seperti "permintaan konsumen", "perilaku konsumen kuliner", "kopi kekinian", " tempat ketiga ", dan " food delivery ". Sumber dipilih berdasarkan tiga kriteria, yaitu relevan dengan teori permintaan atau perilaku konsumen, berasal dari buku teks, jurnal ilmiah, atau lembaga resmi, dan dapat ditelusuri kembali melalui penerbit, DOI, atau tautan sumber.
Analisis dilakukan dengan memetakan konsep-konsep teoritis ke dalam tiga fenomena kuliner, yaitu kopi kekinian, makanan viral, dan layanan pesan-antar online, kemudian menarik kesimpulan konsep mengenai pergeseran struktur permintaan. Karena kajian ini tidak menggunakan data primer, hubungan sebab-akibat tidak diuji secara statistik dan temuannya bersifat konseptual.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1. Perubahan Selera, Pergeseran Kurva Pengakuan, dan Elastisitas
Hukum permintaan menyatakan bahwa, dengan faktor lain tetap ( ceteris paribus ), kenaikan harga menurunkan jumlah barang yang diminta. Perubahan harga menyebabkan pergerakan di sepanjang kurva permintaan, sedangkan perubahan faktor lain seperti selera, pendapatan, harga barang terkait, dan ekspektasi pergeseran kurva itu sendiri (Mankiw, 2021). Ketika suatu makanan atau minuman menjadi tren, selera terhadapnya meningkat sehingga kurva permintaan bergeser ke kanan, artinya pada setiap tingkat harga jumlah yang diminta menjadi lebih banyak.
Konsumen modern tidak hanya mencari utilitas fungsional berupa rasa dan rasa kenyang, tetapi juga utilitas psikologis dan sosial, seperti aktualisasi diri dan identitas sosial (Schiffman & Wisenblit, 2019). Leibenstein (1950) menjelaskan bahwa permintaan dapat dipengaruhi oleh efek bandwagon , yaitu permintaan meningkat karena orang lain juga membeli, dan efek snob , yaitu permintaan mempengaruhi keinginan untuk tampil eksklusif.
Veblen (1899) menambahkan gagasan konsumsi mencolok (conspicuous contracts ), yaitu barang yang dikonsumsi sebagian untuk menunjukkan status. Pada makanan viral, efek ikut-ikutan relevan karena popularitas di media sosial mendorong orang untuk ikut mencoba. Pada kopi dari merek ternama, nilai simbolik merek dapat menambah utilitas yang dirasakan konsumen. Penerapan konsep-konsep ini pada sektor kuliner merupakan analogi teoritis yang masih perlu dibuktikan secara empiris.
Pergeseran kurva dan elastisitas adalah dua hal yang berbeda. Pergeseran kurva menggambarkan perubahan jumlah yang diminta pada setiap tingkat harga, sedangkan elastisitas menggambarkan seberapa besar jumlah yang diminta berubah ketika harga berubah. Menurut Mankiw (2021), salah satu penentu elastisitas adalah ketersediaan substitusi yang dekat.
Jika suatu produk dipersepsikan unik atau bernilai simbolik, substitusi akan diberikan lebih sedikit sehingga permintaannya cenderung kurang elastis dan sebagian konsumen bersedia membayar harga lebih tinggi. Namun, kondisi ini tidak selalu bertahan. Ketika tren memudar, kurva dapat bergeser kembali ke kiri, dan pasar kopi kekinian yang sangat kompetitif menyediakan banyak alternatif. Oleh karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa seluruh gaya kuliner hidup bersifat inelastis. Elastisitasnya bergantung pada jenis produk, segmen konsumen, dan wakti
3.2. Juara Ketiga, Nilai Pengalaman, dan Pengaduan terhadap Kedai Kopi
Salah satu contoh paling nyata perubahan kuliner menjadi gaya hidup adalah menjamurnya kedai kopi dan budaya "nongkrong". Secara historis, kopi adalah komoditas dasar. Oldenburg (1999) mendefinisikan Third Place sebagai ruang sosial informal di luar rumah (tempat pertama) dan tempat kerja (tempat kedua) yang berfungsi sebagai pusat komunitas dan tempat bersosialisasi. Kedai kopi modern menawarkan fungsi tersebut sebagai bagian dari produknya.
Bitner (1992) menunjukkan melalui konsep servicescape bahwa lingkungan fisik tempat layanan diberikan mempengaruhi persepsi dan perilaku pelanggan. Pine dan Gilmore (1998) menyebut pengalaman sebagai penawaran ekonomi tersendiri yang dapat dihargai lebih tinggi daripada barang atau jasa biasa. Dalam kerangka ekonomi mikro, konsumen yang duduk berjam-jam di kafe dengan membeli secangkir kopi dapat dipahami sedang membeli barang paket ( bundled good ), yaitu minuman bersama ruang, suasana, akses Wi-Fi, dan kesempatan bersosialisasi. Harga kopi secangkir dengan demikian mencakup “sewa” atas elemen-elemen tersebut.
Karena pengalaman ruang sosial sulit digantikan sepenuhnya oleh seduhan kopi di rumah, substitusinya tidak sempurna. Kondisi ini dapat menjelaskan mengapa permintaan terhadap kedai premium pada segmen tertentu cenderung kurang sensitif terhadap kenaikan harga yang moderat. Meski demikian, alternatif lain tetap tersedia, seperti kafe lain, ruang kerja bersama, dan warung kopi tradisional, sehingga sensitivitas terhadap harga bergantung pada segmen konsumen dan lokasi. Proposisi ini bersifat teoritis dan perlu diuji dengan data penjualan atau survei konsumen.
3.3. Digitalisasi, Biaya Transaksi, dan Biaya Peluang Waktu pada Layanan Pesan-Antar
Aplikasi pesan-antar makanan seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood mengubah cara konsumen mendapatkan makanan siap saji. Dalam teori alokasi waktu Becker (1965), biaya yang sebenarnya ditanggung konsumen tidak hanya harga barang, tetapi juga nilai waktu yang dikorbankan untuk memperolehnya. Dengan demikian, harga efektif suatu makanan mencakup harga makanan, ongkos kirim dan biaya layanan, serta biaya waktu dan upaya untuk memasak atau mendatangi restoran.
Aplikasi pesan-antar mengurangi biaya mencari informasi, memesan, dan bepergian, yaitu komponen yang dalam literatur ekonomi yang dikenal sebagai biaya transaksi (Coase, 1937). Meskipun konsumen membayar ongkos kirim dan biaya layanan, bagi konsumen yang biayanya peluang waktunya tinggi, harga efektif melalui aplikasi bisa lebih rendah daripada memasak sendiri atau datang langsung ke restoran. Akibatnya, jumlah makanan siap saji yang diminta meningkat. Selain itu, akses ke lebih banyak pilihan restoran dan perubahan preferensi menuju kenyamanan dapat menggeser kurva permintaan makanan siap saji ke kanan.
Perlu dicatat bahwa aplikasi pesan-antar lebih tepat dipahami sebagai teknologi atau platform yang menurunkan biaya transaksi, bukan sebagai barang komplementer dalam pengertian klasik seperti kopi dan gula. Pengaruhnya juga tidak seragam. Bagi konsumen yang sensitif terhadap ongkos kirim dan memiliki biaya peluang waktu rendah, harga efektif melalui aplikasi justru bisa lebih tinggi sehingga efeknya terhadap permintaan menjadi kecil atau berlawanan.
3.4. Sintesis
Tabel 1 merangkum fenomena ketiga ke dalam konsep ekonomi mikro yang telah dibahas.
Implikasi terhadap permintaan
4. Kesimpulan
Kajian ini menunjukkan bahwa perubahan permintaan pada industri kuliner Indonesia dapat dijelaskan melalui beberapa konsep ekonomi mikro. Pertama, perubahan selera yang mempengaruhi tren dan faktor sosial yang menggeser kurva permintaan makanan viral dan kopi kekinian ke kanan. Kedua, nilai pengalaman dan konsep Third Place membuat kedai kopi menjual produk paket yang sulit diganti dengan sempurna, sehingga permintaannya pada segmen tertentu cenderung kurang elastis terhadap harga. Ketiga, layanan pesan-antar online menurunkan biaya transaksi dan biaya waktu, sehingga meningkatkan jumlah makanan siap saji yang diminta, terutama pada konsumen dengan peluang biaya waktu tinggi.
Bagi pelaku industri, implikasinya adalah inovasi perlunya penciptaan nilai pengalaman dan integrasi digital, tidak hanya perbaikan rasa makanan. Pelaku usaha juga perlu berhati-hati karena permintaan berbasis tren dapat bergeser kembali ketika tren memudar.
Kajian ini memiliki keterbatasan karena hanya berbasis studi literatur dan tidak menggunakan data primer, sehingga kesimpulannya bersifat kontekstual. Penelitian selanjutnya dapat mengestimasi elastisitas harga permintaan kopi kekinian atau makanan viral, membandingkan perilaku antar segmen pendapatan, atau menguji pengaruh layanan pesan antar terhadap frekuensi pembelian melalui survei dan data transaksi.
Daftar Pustaka
Becker, GS (1965). Sebuah teori alokasi waktu. Jurnal Ekonomi, 75(299), 493–517.
Bitner, MJ (1992). Servicescapes: Dampak lingkungan fisik terhadap pelanggan dan karyawan. Jurnal Pemasaran, 56(2), 57–71.
Coase, RH (1937). Sifat perusahaan. Economica, 4(16), 386–405.
Kabar Baik dari Indonesia. (2021, 14 Oktober). Ekonomi kreatif dan kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia.
https://www.goodnewsfromindonesia.id /2021/10/14/ekonomi-kreatif-dan-kontribusinya-terhadap-perekonomian-indonesia
Leibenstein, H. (1950). Efek ikut-ikutan, snob, dan Veblen dalam teori permintaan konsumen. Jurnal Ekonomi Triwulanan, 64(2), 183–207.
Mankiw, NG (2021). Prinsip-prinsip mikroekonomi (edisi ke-9). Cengage Learning .
Oldenburg, R. (1999). Tempat yang sangat bagus: Kafe, kedai kopi, toko buku, bar, salon rambut, dan tempat nongkrong lainnya di jantung sebuah komunitas. Da Capo Press.
Pine, BJ, II, & Gilmore, JH (1998). Selamat datang di ekonomi pengalaman. Harvard Business Review, 76(4), 97–105.
Schiffman, LG, & Wisenblit, JL (2019). Perilaku konsumen (edisi ke-12). Pearson Education.
Veblen, T. (1899). Teori kelas waktu luang. Macm
Siti Nurhasanah
T. Rizki
Tika Ariyani
Tri Wardatusaleha
Zikri Abdul Hakim
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
