Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image HALO MUSAFIR

Nasib Kognisi dalam Gempuran Kecerdasan Buatan

Gaya Hidup | 2026-10-14 08:55:48

 

Kita tidak lagi bertanya apakah AI (akal imitasi)/kecerdasan buatan akan menggantikan manusia. Perlahan ia telah menjadi gaya hidup kita.

Pertanyaan yang lebih jujurnya, apakah kita sudah sukarela menitipkan otak kita ke mesin? Apakah kita merelakan kognitif kita di offload?

Setiap kali malas mengingat karena ada kontak HP, malas menghitung karena ada kalkulator, malas merangkum karena ada ChatGPT ,di situlah kognisi kita sedang di-offload, dipindahkan ke luar kepala.

Psikolog menyebutnya Cognitive Offloading. Otak memang pemalas yang cerdas. Jika ada mesin yang bisa mengingat, untuk apa aku mengingat?

tiga perubahan besar yang terjadi.

Pertama, dari mengingat menjadi mencari. Kita tidak lagi mengingat informasinya, hanya mengingat di mana mencarinya. Kita tahu, tapi tidak benar-benar tahu. Dulu ini disebut "Google efek", karena kita sibuk mencari bukan mengingat lagi. Begitupun sekarang.

Kedua, dari berpikir dalam menjadi berpikir dangkal. AI memberi jawaban instan. Padahal nikmat berpikir bukan pada jawabannya, tapi pada pergulatannya. Kita mendapat puncak tanpa pernah mendaki. Hasilnya informasi melimpah, kebijaksanaan menipis.

Ketiga, dari percaya diri menjadi ilusi kompetensi. Membaca rangkuman tiga paragraf buatan AI, lalu merasa sudah jadi ahli. AI adalah cermin yang memantulkan versi terbaik dari kebodohan kita — rapi dan meyakinkan.

Lalu harus bagaimana? Bukan menolak AI. Menolaknya sama seperti menolak listrik.

Tempatkan AI sebagai pelayan, bukan pengganti. Biarkan AI mengerjakan pekerjaan tangan: merapikan email, membuat laporan, mencari data. Jangan biarkan ia mengerjakan pekerjaan hati dan kepala.

Biasakan jeda 15 menit tanpa layar sebelum bertanya ke AI. Tulis dulu pendapatmu sendiri, sejelek apapun. Baru bandingkan dengan jawaban mesin. Jadikan otakmu penulis pertama, bukan hanya editor tulisan AI.

 

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image