Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image shinta azzahrah

Mengapa Humor di Kampus Tidak Selalu Dipahami oleh Semua Mahasiswa?

Eduaksi | 2026-09-28 08:45:27
Ilustrasi perbedaan pemahaman terhadap humor. Sumber: Dokumen pribadi, 2026.
Ilustrasi perbedaan pemahaman terhadap humor. Sumber: Dokumen pribadi, 2026.

“Wah, kita mah wamil.” Itulah kalimat yang pernah membuat saya bingung ketika pertama kali berada di kelas bersama mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Airlangga. Seorang teman dari Fakultas Kedokteran (FK) tiba-tiba melontarkan kalimat tersebut dan beberapa teman dari FK langsung tertawa. Saya dan teman saya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) justru saling melihat karena tidak mengerti apa yang lucu. Setelah saya bertanya, barulah saya tahu bahwa “wamil” adalah singkatan dari “wajib militer”, sebuah istilah yang digunakan teman-teman FK sebagai candaan untuk menggambarkan berat, ketat, dan melelahkannya pendidikan kedokteran. Bagi mereka, lelucon itu terasa sangat familiar. Bagi kami, itu hanya terdengar seperti kalimat biasa.

Pengalaman seperti ini ternyata tidak hanya terjadi sekali. Teman saya dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) pernah bercanda, “Biaya marginal? Kewarasan kita juga marginal.” Teman-teman dari FEB langsung tertawa, sedangkan saya dan teman lainnya justru bingung. Setelah dijelaskan, maksudnya adalah semakin banyak tugas yang datang, semakin sedikit kewarasan yang tersisa. Lucunya muncul dari istilah ekonomi marginal cost yang dipadukan dengan pengalaman mahasiswa menghadapi tugas. Tanpa memahami istilah tersebut, bagian lucunya terasa hilang.

Saya juga pernah mengalami hal serupa ketika berbicara dengan teman dari Farmasi. Saat kami sedang membicarakan seseorang yang sangat aktif, ia tiba-tiba berkata, “Itu anak kayaknya overdosis fentanyl deh.” Saya dan teman dari FISIP, FIB, dan Fakultas Hukum (FH) hanya saling memandang karena tidak memahami maksudnya. Teman saya dari Farmasi justru tertawa sendiri sebelum kemudian menjelaskan bahwa ia menggunakan istilah tersebut sebagai candaan untuk menggambarkan seseorang yang sangat hiperaktif. Saat itu saya kembali menyadari bahwa istilah yang terasa familiar dan lucu bagi seseorang belum tentu memiliki makna yang sama bagi orang dari lingkungan lain.

Hal yang sama bahkan terjadi ketika saya sendiri mencoba membuat lelucon. Ketika seorang teman dari FH sedang curhat tentang dirinya yang dicampakkan oleh temannya, saya mencoba menghiburnya dengan bercanda, “Tenang, ini demi character development kamu.” Saya mengira ia akan tertawa, tetapi ia malah semakin bingung dan bertanya, “Hah, apaan sih?” Setelah saya menjelaskan bahwa character development dalam candaan tersebut berarti menganggap pengalaman buruk sebagai proses yang membuat seseorang menjadi lebih dewasa, barulah ia memahami maksud saya. Kami akhirnya tertawa bersama. Dalam percakapan yang sama, ia kemudian melanjutkan dengan gaya bercanda khas anak hukum, “Yang mulia, saya ada screenshots-nya,” sambil menunjukkan tangkapan layar yang menurutnya menjadi bukti bahwa ia memang dicampakkan.

Dari pengalaman selama tiga semester di UNAIR, saya mulai melihat bahwa humor tidak hanya bergantung pada kata-kata. Humor juga bergantung pada shared context, yaitu pengalaman, pengetahuan, istilah, dan kebiasaan yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang. Ketika saya bercanda dengan teman yang memiliki pengalaman dan referensi yang sama, mereka biasanya langsung memahami maksud saya. Namun, ketika lawan bicara berasal dari lingkungan yang berbeda, sebuah lelucon yang terasa sangat jelas bagi saya bisa terdengar membingungkan bagi mereka.

Pengalaman-pengalaman tersebut menunjukkan bahwa humor tidak selalu dipahami dengan cara yang sama oleh setiap orang. Jiang, Li, dan Hou (2019) menjelaskan bahwa humor merupakan bagian dari kehidupan manusia secara umum, tetapi cara orang memahami dan menggunakan humor dapat dipengaruhi oleh latar budaya mereka. Dengan kata lain, sesuatu yang terasa lucu bagi satu kelompok belum tentu langsung dipahami oleh kelompok lain karena mereka tidak selalu memiliki pengalaman dan konteks yang sama.

Penelitian Zhaoyi Pan juga menunjukkan bahwa humor dapat gagal dalam komunikasi lintas budaya. Dalam penelitiannya terhadap percakapan sehari-hari antara pengguna bahasa dari Thailand, Indonesia, dan Myanmar, beberapa candaan tidak berhasil karena perbedaan kemampuan bahasa, kurangnya kesadaran lintas budaya, serta perbedaan dalam memahami humor. Dengan kata lain, seseorang tidak tertawa bukan selalu karena leluconnya tidak lucu, tetapi bisa karena ia tidak memiliki konteks yang diperlukan untuk memahami lelucon tersebut.

Penelitian Jackson G. Lu memperluas pandangan tersebut. Melalui systematic review terhadap 31 penelitian empiris, Lu menemukan bahwa humor bersifat universal sebagai pengalaman manusia, tetapi cara orang memahami dan menggunakan humor tetap memiliki nuansa budaya. Artinya, manusia mungkin sama-sama dapat tertawa, tetapi hal yang dianggap lucu dan cara humor digunakan tidak selalu sama.

Lalu, apakah setiap fakultas benar-benar memiliki humor yang berbeda? Tentu tidak sesederhana itu. Mahasiswa dari fakultas yang berbeda tetap bisa tertawa pada lelucon yang sama. Candaan tentang deadline, tugas yang menumpuk, dosen, atau kurang tidur mungkin bisa dipahami hampir semua mahasiswa. Namun, ketika sebuah lelucon menggunakan istilah atau pengalaman yang lebih spesifik, perbedaan lingkungan mulai terasa. Anak FK mungkin lebih familiar dengan istilah yang berkaitan dengan pendidikan kedokteran, mahasiswa FEB dengan istilah ekonomi, mahasiswa Farmasi dengan istilah obat, dan mahasiswa FIB dengan istilah bahasa, sastra, atau budaya. Ini bukan berarti semua mahasiswa dalam satu fakultas memiliki selera humor yang sama. Namun, lingkungan yang sama dapat memberikan mereka lebih banyak shared references untuk memahami sebuah candaan.

Karena itu, menurut saya, kita perlu berhenti terlalu cepat menyimpulkan bahwa seseorang “tidak mengerti lelucon” hanya karena ia tidak tertawa. Bisa jadi masalahnya bukan pada selera humor, melainkan pada konteks yang belum dimiliki bersama. Dalam komunikasi sehari-hari, terutama ketika kita bertemu orang dari latar belakang yang berbeda, kita perlu belajar untuk memahami, bertanya, menjelaskan, dan menyesuaikan diri. Jika sebuah lelucon tidak dipahami, menjelaskan konteksnya sering kali lebih efektif daripada langsung menganggap orang lain tidak memiliki selera humor.

Pada akhirnya, pengalaman saya di UNAIR membuat saya melihat humor sebagai bagian kecil tetapi menarik dari komunikasi lintas budaya. Kita mungkin belajar di kampus yang sama, menggunakan bahasa yang sama, bahkan duduk di kelas yang sama, tetapi belum tentu memiliki “kamus humor” yang sama. Jadi, lain kali seseorang tidak tertawa ketika kita membuat lelucon, mungkin pertanyaannya bukan, “Kok kamu nggak ngerti?” Melainkan, “Konteks apa yang belum kita bagikan?”

References

Jiang, T., Li, H., & Hou, Y. (2019). Cultural differences in humor perception, usage, and implications. Frontiers in Psychology, 10, 123. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.00123

Lu, J. G. (2023). Cultural differences in humor: A systematic review and critique. Current Opinion in Psychology, 53, 101690. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2023.101690

Pan, Z. (2026). Conversational humor in intercultural communication. International Journal of Applied Linguistics, 36(1), 488–497. https://doi.org/10.1111/ijal.12786

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image