Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image niha nurazizah

Di Balik Sepiring Makan Bergizi: Membaca Wajah Negara melalui Umar Kayam

Sastra | 2026-06-10 01:50:02

Tidak ada yang lebih politis daripada sepiring makanan. Apa yang dimakan rakyat, siapa yang mendapatkannya, dan bagaimana negara menyediakannya selalu mencerminkan kualitas hubungan antara pemerintah dan warganya. Hingga pertengahan 2025, program Makan Bergizi Gratis telah menjangkau sekitar lima juta penerima manfaat dan ditargetkan menjangkau 82,9 juta penerima di seluruh Indonesia. Karena itu, program ini bukan sekadar kebijakan pemenuhan gizi anak, melainkan cermin tentang bagaimana negara membayangkan masa depan rakyatnya.

Persoalan ini mengingatkan pada cerpen Bawuk karya Umar Kayam dalam kumpulan cerpen sri Sumarah dan Bawuk. Berlatar Indonesia pasca-1965, cerpen ini mengisahkan seorang perempuan yang hidup di tengah pusaran konflik politik dan ideologi. Namun, kekuatan Bawuk tidak terletak pada peristiwa politiknya, melainkan pada cara Umar Kayam memperlihatkan bagaimana keputusan-keputusan yang lahir dari ruang kekuasaan akhirnya menjangkau kehidupan paling pribadi: keluarga, hubungan sosial, dan masa depan individu.

Melalui tokoh Bawuk, pembaca diajak melihat bahwa rakyat biasa sering kali menjadi pihak yang harus menanggung konsekuensi dari keputusan yang tidak mereka buat sendiri. Politik tidak hanya hadir di ruang kekuasaan, tetapi juga memasuki ruang keluarga, meja makan, dan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, negara bukanlah entitas yang abstrak, melainkan kekuatan yang nyata dalam menentukan pengalaman hidup masyarakat.

Hubungan antara negara dan rakyat pada dasarnya dibangun di atas kepercayaan. Sebesar apa pun sebuah program sosial, keberhasilannya akan sulit dicapai jika masyarakat mulai meragukan integritas pelaksanaannya. Rakyat mungkin tidak memahami seluruh rincian kebijakan, tetapi mereka dapat merasakan apakah sebuah program benar-benar dijalankan untuk kepentingan publik atau sekadar memenuhi ambisi politik sesaat.

Di sinilah sastra menawarkan pelajaran yang tidak selalu ditemukan dalam laporan birokrasi. Jika kebijakan berbicara melalui angka dan target, Bawuk berbicara melalui pengalaman manusia. Umar Kayam mengingatkan bahwa di balik setiap kebijakan selalu ada keluarga, anak-anak, dan masyarakat yang menggantungkan harapan mereka pada negara.

Umar Kayam seolah mengingatkan bahwa persoalan pangan tidak pernah sepenuhnya lepas dari persoalan kekuasaan. Dalam Sri Sumarah, ia menyinggung bahwa,

"Mayor Jumadi ditahan CPM karena tersangkut korupsi di Dolog, Depot Logistik, kota J."

Kalimat yang tampak sederhana itu sesungguhnya menyimpan kritik yang tajam. Ketika institusi yang bertugas mengelola kebutuhan dasar rakyat terseret praktik korupsi, yang dipertaruhkan bukan hanya uang negara, melainkan juga kepercayaan masyarakat. Puluhan tahun setelah karya itu ditulis, pesan tersebut justru terasa semakin relevan. Program sosial yang menyangkut pangan dan gizi tidak hanya membutuhkan anggaran yang besar, tetapi juga integritas yang besar. Sebab, di balik setiap kebijakan pangan selalu ada rakyat yang menggantungkan harapan hidupnya.

Dalam konteks itulah program Makan Bergizi Gratis seharusnya dipahami. Program ini bukan semata proyek pemerintah, melainkan bentuk kehadiran negara dalam kehidupan sehari-hari rakyat. Bagi sebagian anak, sepiring makanan bergizi mungkin hanya makan siang. Namun, bagi banyak keluarga, sepiring makanan itu adalah harapan akan masa depan yang lebih sehat dan lebih baik. Ketika negara hadir melalui program tersebut, masyarakat tidak hanya menilai kualitas makanannya, tetapi juga menilai kesungguhan negara dalam memenuhi tanggung jawabnya kepada warga.

Di sinilah letak persoalannya. Program sosial yang menyentuh kebutuhan dasar rakyat selalu membawa beban moral yang lebih besar dibandingkan program pembangunan lainnya. Jalan yang rusak dapat diperbaiki, gedung yang roboh dapat dibangun kembali, tetapi kepercayaan publik yang hilang membutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk dipulihkan. Karena itu, program Makan Bergizi Gratis tidak cukup dijalankan dengan target dan angka capaian semata. Program ini harus dijalankan dengan transparansi, akuntabilitas, dan integritas yang mampu meyakinkan masyarakat bahwa negara benar-benar bekerja untuk kepentingan mereka.

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan dalam setiap program sosial bukan sekadar keberhasilan administratif ataupun capaian statistik. Yang dipertaruhkan adalah wajah negara itu sendiri. Sebab, negara tidak akan dikenang dari besarnya anggaran yang dihabiskan, melainkan dari manfaat yang benar-benar dirasakan rakyat. Sepiring makanan mungkin tampak sederhana, tetapi di atas piring itulah masyarakat membaca makna kehadiran negara. Apakah ia hadir sebagai pelindung yang menjaga kesejahteraan warganya, atau hanya sebagai institusi yang sibuk mengelola angka-angka pembangunan. Sebagaimana diingatkan Umar Kayam melalui Bawuk , wajah negara pada akhirnya selalu terlihat dari nasib orang-orang biasa yang paling merasakan dampak dari setiap keputusan yang dibuat atas nama mereka.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image