Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Zalfa Mufida

Kita Terlalu Sibuk Menjadi Versi yang Disukai Orang Lain

Gaya Hidup | 2026-07-29 19:35:47

Pernahkah kita menghapus foto hanya karena jumlah tanda sukanya tidak sesuai harapan? Atau mungkin menahan diri untuk tidak mengunggah sesuatu karena takut dianggap aneh? Tanpa disadari, banyak dari kita menjalani hari-hari dengan satu tujuan yang sama: diterima oleh orang lain. Perlahan, kita mulai menyesuaikan cara berpakaian, berbicara, hingga menunjukkan kepribadian demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.

Di era media sosial, menjadi diri sendiri terkadang terasa lebih sulit daripada mengikuti arus. Setiap hari kita disuguhi tren baru, standar kecantikan yang terus berubah, pencapaian orang lain, hingga gaya hidup yang tampak sempurna. Algoritma menghadirkan apa yang sedang populer, sementara kita diam-diam mulai bertanya, "Apakah aku juga harus seperti itu agar diterima?"

Tanpa sadar, banyak keputusan yang kita ambil bukan lagi berdasarkan keinginan sendiri, melainkan karena takut tertinggal. Kita membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, mengikuti tren yang belum tentu sesuai dengan diri kita, bahkan mengubah cara berbicara agar terlihat lebih menarik di mata orang lain. Semua dilakukan dengan harapan sederhana: tidak merasa berbeda.

Keinginan untuk diterima sebenarnya merupakan hal yang wajar. Sebagai makhluk sosial, manusia memang membutuhkan rasa memiliki. Namun, masalah muncul ketika penerimaan dari orang lain menjadi satu-satunya ukuran kebahagiaan. Saat pujian membuat kita merasa berharga, sementara kritik langsung menghancurkan rasa percaya diri, mungkin saat itu kita telah menyerahkan kendali atas diri sendiri kepada penilaian orang lain.

Ironisnya, semakin keras kita berusaha menjadi sosok yang disukai semua orang, semakin jauh pula kita mengenal diri sendiri. Kita menjadi ahli membaca keinginan orang lain, tetapi lupa bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang sebenarnya kita sukai. Kita takut dianggap berbeda, padahal setiap orang memiliki jalan hidup, cara berpikir, dan keunikan yang tidak perlu disamakan.

Media sosial memang bukan penyebab utama dari fenomena ini, tetapi ia memperbesar ruang untuk saling membandingkan. Kita melihat potongan-potongan terbaik dari kehidupan orang lain, lalu tanpa sadar menjadikannya sebagai standar. Padahal, apa yang terlihat di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Di balik unggahan yang rapi, bisa saja ada perjuangan yang tidak pernah diperlihatkan.

Menjadi diri sendiri bukan berarti menolak masukan atau mengabaikan perkembangan. Justru, menjadi diri sendiri berarti berani mengenali nilai yang kita yakini tanpa harus terus-menerus mencari validasi. Tidak semua orang akan menyukai pilihan hidup kita, dan itu bukan sesuatu yang harus ditakuti. Kita tidak dilahirkan untuk memenuhi ekspektasi semua orang.

Pada akhirnya, hidup akan terasa jauh lebih ringan ketika kita berhenti mengejar pengakuan yang tidak pernah benar-benar selesai. Sebab, yang paling melelahkan bukanlah menjadi diri sendiri, melainkan terus-menerus memainkan peran demi memenuhi harapan orang lain. Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya, "Apakah mereka akan menyukaiku?" dan mulai bertanya, "Apakah aku nyaman menjadi diriku sendiri?" Karena penerimaan yang paling penting bukan datang dari dunia, melainkan dari diri kita sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image