Sinetron Indonesia: Dicintai Penonton, Dipersoalkan Akademisi
Sastra | 2026-06-17 11:57:16oleh Roma Kyo Kae Saniro
Dosen Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas
Di tengah gempuran platform streaming, media sosial, dan beragam hiburan digital, sinetron tetap menjadi salah satu tontonan paling digemari masyarakat Indonesia. Setiap sore hingga malam hari, layar televisi nasional masih dipenuhi kisah cinta, konflik keluarga, pertarungan antartokoh, hingga drama kehidupan yang mampu membuat jutaan penonton setia mengikuti setiap episodenya. Fenomena ini menunjukkan bahwa sinetron bukan sekadar program hiburan, melainkan telah menjadi bagian dari budaya populer Indonesia. Namun, di balik popularitas tersebut, sinetron juga menjadi objek kritik yang tidak pernah surut, terutama dari kalangan akademisi dan pemerhati media.
Popularitas sinetron sesungguhnya bukan hal yang mengherankan. Sinetron menawarkan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Kisah tentang keluarga, percintaan, persahabatan, kemiskinan, perjuangan hidup, hingga konflik sosial mudah diterima karena terasa akrab bagi penonton. Beberapa sinetron bahkan berhasil mencetak rekor penayangan hingga ribuan episode dan memperoleh rating tinggi. Penelitian Puji Lestari, Hanny Hafiar, dan Kholidil Amin menunjukkan bahwa sinetron-sinetron populer seperti Anak Jalanan, Tukang Bubur Naik Haji, Preman Pensiun, dan Ganteng-Ganteng Serigala menjadi objek penelitian yang paling banyak dikaji oleh akademisi Indonesia. Fenomena ini memperlihatkan bahwa semakin tinggi popularitas sebuah sinetron, semakin besar pula perhatian yang diberikan oleh kalangan peneliti.
Menariknya, hubungan antara popularitas dan kualitas tidak selalu berjalan seiring. Di sinilah kritik akademik mulai muncul. Banyak penelitian menunjukkan bahwa sinetron Indonesia sering kali terjebak pada formula yang berulang. Konflik yang sama, karakter yang stereotip, alur cerita yang dipanjangkan demi mempertahankan rating, hingga penggunaan adegan kekerasan atau pertengkaran sebagai daya tarik utama masih menjadi pola yang umum ditemukan. Bagi industri televisi, strategi tersebut dianggap efektif untuk mempertahankan perhatian penonton. Namun, bagi akademisi, pola tersebut justru menunjukkan stagnasi kreativitas dan rendahnya inovasi dalam produksi sinetron.
Persoalan yang paling sering mendapat perhatian akademisi dalam kajian sinetron Indonesia adalah lemahnya pemanfaatan bahasa visual sebagai sarana utama penceritaan. Sebagai produk audiovisual, sinetron idealnya tidak hanya mengandalkan percakapan antartokoh, tetapi juga mampu membangun makna melalui ekspresi wajah, gestur tubuh, penataan ruang, komposisi gambar, pencahayaan, warna, kostum, sudut pengambilan gambar, serta gerak kamera.
Dalam praktik sinematografi modern, prinsip show, don’t tell menjadi salah satu dasar penting, yaitu menyampaikan informasi kepada penonton melalui visual daripada melalui penjelasan verbal yang panjang. Namun, banyak sinetron Indonesia justru memperlihatkan kecenderungan sebaliknya. Konflik, latar belakang tokoh, hubungan antarkarakter, bahkan emosi yang sebenarnya dapat divisualisasikan sering kali dijelaskan secara eksplisit melalui dialog. Penonton tidak diajak untuk menafsirkan makna melalui gambar, melainkan langsung diberi penjelasan melalui percakapan tokoh atau narasi tambahan. Akibatnya, fungsi gambar sebagai bahasa utama televisi menjadi berkurang, sementara dialog mengambil peran yang terlalu dominan dalam membangun cerita.
Temuan penelitian yang menunjukkan bahwa sekitar 93 persen penggunaan bahasa visual dalam sinetron Indonesia tergolong tidak efektif, sedangkan hanya sekitar 7 persen yang efektif, memperlihatkan adanya persoalan mendasar dalam proses kreatif produksi sinetron. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar adegan masih belum memanfaatkan kekuatan visual untuk membangun suasana, karakterisasi, maupun perkembangan konflik secara optimal. Dampaknya tidak hanya terlihat pada aspek estetika, tetapi juga pada kualitas pengalaman menonton. Sinetron menjadi terasa repetitif, bertele-tele, dan kurang memberikan ruang bagi penonton untuk terlibat secara aktif dalam memahami cerita.
Dari perspektif industri, dominasi dialog sering kali berkaitan dengan tuntutan produksi yang cepat, jumlah episode yang sangat banyak, serta orientasi pada efisiensi biaya. Namun, dari perspektif akademik dan sinematografis, kondisi ini menunjukkan bahwa sinetron Indonesia masih menghadapi tantangan besar untuk berkembang menjadi karya audiovisual yang lebih matang. Padahal, apabila unsur-unsur visual seperti simbolisme gambar, tata cahaya, mise-en-scène, ekspresi aktor, dan pergerakan kamera dimanfaatkan secara maksimal, sinetron tidak hanya mampu mempertahankan popularitasnya, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas artistik dan daya saingnya di tengah perkembangan industri serial televisi global.
Kritik akademik terhadap sinetron juga berkaitan dengan dampaknya terhadap masyarakat. Sejumlah penelitian mengkaji pengaruh sinetron terhadap perilaku, persepsi, gaya hidup, hingga pembentukan identitas remaja. Ada penelitian yang menyoroti bagaimana tayangan televisi dapat membentuk standar kecantikan tertentu, memperkuat stereotip gender, atau memengaruhi cara remaja memandang hubungan sosial. Bahkan, sejumlah kajian internasional menunjukkan bahwa intensitas menonton televisi yang tinggi dapat berhubungan dengan penurunan prestasi akademik dan perubahan pola perilaku tertentu. Oleh karena itu, sinetron tidak lagi dipandang sekadar hiburan, melainkan sebagai produk budaya yang memiliki pengaruh sosial yang cukup besar.
Meski demikian, kritik terhadap sinetron bukan berarti menolak keberadaan sinetron itu sendiri. Sebaliknya, kritik tersebut justru menunjukkan bahwa sinetron memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tidak banyak program televisi yang mampu bertahan puluhan tahun dan terus menjadi bahan diskusi publik maupun kajian akademik. Keberadaan lebih dari seratus penelitian yang mengkaji sinetron populer Indonesia menunjukkan bahwa sinetron merupakan fenomena budaya yang layak dipelajari secara serius. Akademisi melihat sinetron sebagai cermin masyarakat, tempat berbagai nilai sosial, budaya, ekonomi, dan ideologi diproduksi sekaligus dipertontonkan kepada publik.
Di sisi lain, industri televisi juga menghadapi tantangan yang tidak ringan. Persaingan dengan platform digital membuat stasiun televisi harus terus mempertahankan jumlah penonton. Dalam situasi seperti ini, rating sering kali menjadi pertimbangan utama dibandingkan kualitas artistik atau nilai edukatif. Akibatnya, rumah produksi cenderung memilih formula yang sudah terbukti berhasil daripada mengambil risiko dengan menghadirkan inovasi baru. Inilah dilema yang dihadapi dunia persinetronan Indonesia: antara memenuhi tuntutan pasar dan memenuhi harapan untuk menghasilkan karya yang lebih berkualitas.
Ke depan, sinetron Indonesia membutuhkan keberanian untuk bertransformasi. Industri televisi dapat belajar dari perkembangan serial televisi di berbagai negara yang berhasil memadukan popularitas dengan kualitas artistik. Cerita yang kuat, karakter yang kompleks, sinematografi yang matang, serta penggunaan bahasa visual yang efektif dapat menjadi jalan untuk meningkatkan mutu sinetron tanpa kehilangan daya tariknya di mata penonton. Pada saat yang sama, akademisi juga perlu terus melakukan penelitian yang tidak hanya mengkritik, tetapi juga menawarkan solusi dan perspektif baru bagi perkembangan industri kreatif nasional.
Selama televisi masih menyala di ruang keluarga Indonesia, sinetron tampaknya akan tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Pertanyaannya bukan lagi apakah sinetron akan terus ditonton, melainkan sinetron seperti apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Apakah ia hanya menjadi hiburan sesaat yang mengejar rating, atau berkembang menjadi karya audiovisual yang mampu merekam dinamika bangsa, memperkaya imajinasi publik, dan menghadirkan cerita-cerita yang bermakna? Jawaban atas pertanyaan itu tidak hanya berada di tangan produser dan stasiun televisi, tetapi juga di tangan penonton yang semakin kritis dalam memilih tontonan yang layak untuk dicintai.
Pada akhirnya, hubungan antara sinetron dan akademisi sebenarnya bukanlah hubungan yang saling berseberangan. Penonton mencintai sinetron karena kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari, sementara akademisi mengkritisinya karena melihat potensi besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Justru dari ruang kritik itulah muncul harapan agar sinetron Indonesia tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga menjadi karya budaya yang lebih kreatif, bermutu, dan mampu mencerminkan dinamika masyarakat Indonesia secara lebih mendalam. Dengan demikian, sinetron tidak hanya akan terus dicintai penonton, tetapi juga mendapatkan apresiasi yang lebih luas dari dunia akademik dan kebudayaan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
