Menggigit Kuku, Kebiasaan Kecil dengan Risiko yang tidak Kecil
Gaya Hidup | 2026-08-11 18:19:05Coba perhatikan tangan Anda sendiri sejenak. Apakah ujung kuku terlihat rapi, atau malah pendek dan tidak beraturan karena sering pengacakan? Kebiasaan menggigit kuku, atau dalam istilah medis disebut onikofagia, memang terlihat sepele. Banyak orang melakukannya tanpa sadar, terutama saat sedang gelisah, bosan, atau tengah berpikir keras. Namun, di balik kebiasaan ini, ada risiko kesehatan yang sebenarnya cukup serius.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menjelaskan bahwa kebiasaan menggigit kuku merupakan salah satu penyebab utama munculnya paronikia, yaitu infeksi pada kulit di sekitar kuku. Ketika kuku cakaran, kulit di sekitarnya menjadi rusak dan terbuka, sehingga bakteri seperti Staphylococcus aureus mudah masuk dan menimbulkan peradangan. Gejalanya bisa berupa kemerahan, bengkak, rasa nyeri, hingga munculnya nanah pada kulit di sekitar kuku. Jika tidak segera ditangani, infeksi ini bahkan berpotensi menyebar lebih dalam hingga menyerang tendon, tulang, atau aliran darah.
Selain berisiko pada kulit dan jaringan kuku, kebiasaan ini juga membuka jalan bagi kuman untuk masuk ke dalam tubuh melalui mulut. Tangan yang sering bersentuhan dengan berbagai permukaan tentu membawa banyak bakteri dan kotoran, yang kemudian ikut tertelan saat kuku memasarkan. Tidak heran, orang yang gemar menggigit kuku lebih rentan mengalami gangguan pencernaan maupun infeksi saluran pernafasan ringan seperti pilek dan radang tenggorokan.
Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa dikendalikan. Kemenkes memperingatkan untuk menjaga kuku tetap pendek dan rapi agar tidak menggoda untuk mematikan, serta segera mengalihkan perhatian ke aktivitas lain saat dorongan menggigit kuku muncul, misalnya dengan meremas bola stres atau mengunyah permen karet. Menjaga kebersihan tangan secara rutin juga membantu mengurangi risiko infeksi meskipun kebiasaan ini belum sepenuhnya hilang.
Kebiasaan menggigit kuku memang tampak sepele, namun dampaknya bisa dirasakan dalam jangka panjang, baik pada kesehatan kulit, gigi, maupun sistem pencernaan. Mengenali kebiasaan ini sejak dini adalah langkah awal yang penting untuk mencegah masalah yang lebih besar di kemudian hari.
Daftar Pustaka
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Paronikia. Yankes Kemkes RI. Diakses dari https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/137/paronikia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Mengenal paronikia dan penanganannya. Yankes Kemkes RI. Diakses dari https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1118/mengenal-paronikia-dan-penanganannya
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
