Ilusi Damai di Bawah Bayang 'Israel Raya' dan Perangkap Bisnis New Gaza
Curhat | 2026-08-11 18:48:16Ekskalasi kejahatan entitas Zionis Israel di Tepi Barat kini kian tak terkendali dan berlangsung makin sistematis. Berdasarkan laporan CNN Indonesia pada 6 Agustus 2026, entitas Zionis secara terang-terangan mengumumkan rencana pembangunan 2.300 unit permukiman ilegal di Yerusalem Timur. Di saat yang sama, sebagaimana dilaporkan oleh Kompas TV dan Republika, kekerasan yang dilakukan oleh pemukim ilegal Zionis terus meningkat melalui ribuan serangan, aksi teror, penggerebekan kamp pengungsi, hingga perusakan dan penutupan puluhan masjid yang mencapai rekor tertinggi.
Seperti yang disorot oleh Anadolu Agency dan RRI, badan PBB pun telah mengonfirmasi keprihatinannya atas percepatan legalisasi permukiman ilegal ini yang dinilai sebagai perluasan strategi genosida dari Gaza ke Tepi Barat. Di tengah pembantaian dan perampasan tanah yang kian masif tersebut, proyek New Gaza melalui skema Board of Peace (BoP) justru kian gencar digulirkan.
Realitas lapangan ini menegaskan satu hal: aneksasi akan terus dilakukan oleh Zionis sekalipun PBB dan seluruh dunia melayangkan penolakan. Fakta ini membuktikan bahwa ambisi mewujudkan doktrin 'Israel Raya' (Greater Israel) adalah agenda ideologis utama yang sangat serius dan tidak akan pernah dihentikan melalui perundingan. Oleh karena itu, narasi kemerdekaan Palestina melalui 'Solusi Dua Negara' (Two-State Solution) yang selama ini dijajakan oleh diplomasi Barat hanyalah ilusi utopia yang mustahil disepakati oleh Zionis. Di sisi lain, proyek New Gaza tak lebih dari ladang bisnis baru bagi Amerika Serikat di bawah strategi BoP untuk mengonsolidasikan kontrol ekonomi dan politik pasca-kehancuran Gaza, sekaligus meninabudokkan perlawanan rakyat Palestina.
Dalam pandangan Islam, ketundukan pada narasi perdamaian semu dengan pihak penjajah adalah kekeliruan fatal. Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur'an mengenai tabiat entitas yang tidak akan pernah berhenti hingga umat tunduk pada kehendak mereka:
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)'. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS. Al-Baqarah: 120)
Sejarah Islam membuktikan bagaimana kewajiban menjaga bumi Al-Quds dan Palestina diemban dengan penuh kehormatan ketika umat memiliki institusi kepemimpinan global (Khilafah). Pada tahun 1901, pendiri gerakan Zionis dunia, Theodor Herzl, datang menemui Sultan Abdul Hamid II (Khalifah Utsmaniyah) untuk membujuk agar tanah Palestina diserahkan kepada Zionis dengan imbalan pembayaran seluruh utang Khilafah. Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak tawaran tersebut dan menyatakan:
"Aku tidak akan menjual walau sejengkal tanah Palestina, karena tanah itu bukan milikku, melainkan milik seluruh umat Islam. Umat ini telah berjihad untuk mempertahankan tanah ini dan menyiramnya dengan darah mereka. Biarlah kekhalifahan ini runtuh daripada melihat Palestina diiris-iris."
Sikap tegas tersebut menunjukkan bahwa Palestina adalah tanah kharajiyah milik seluruh umat Islam yang haram untuk diserahkan atau dikompromikan sedikit pun kepada penjajah.
Oleh karena itu, konstruksi solusi atas tragedi Palestina harus dikembalikan pada jalan yang lurus. Pertama, Zionis Israel adalah entitas penjajah yang mustahil diajak berdamai. Kata kunci utama untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajahan adalah jihad dan persatuan militer negeri-negeri Muslim. Kedua, topeng manis proyek New Gaza dan kesepakatan BoP harus dibongkar secara kritis di hadapan umat.
Umat tidak boleh tertipu atau mendukung penguasanya bergabung dalam skema BoP, karena kompromi dengan skema buatan AS tersebut merupakan bentuk pengkhianatan nyata terhadap darah para syuhada Palestina. Ketiga, persatuan negeri-negeri Muslim di bawah kepemimpinan tunggal sistem Khilafah harus semakin masif diperjuangkan melalui dakwah politis yang terorganisir. Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Al-Imam (Khalifah) itu adalah perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya." (HR. Muslim)
Hanya dengan hadirnya kembali perisai umat inilah kekuatan militer dan sumber daya negeri-negeri Muslim dapat disatukan untuk menghentikan kejahatan Zionis serta membebaskan Al-Quds secara hakiki.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
