Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image prayudisti s pandanwangi

Mengurai Ambisi Zionis Mengusir Warga Gaza: Saatnya Perisai Umat Hadir Membebaskan Palestina

Info Terkini | 2026-09-08 17:13:36

Agresi dan kesombongan entitas Zionis Yahudi terhadap bumi Palestina semakin menunjukkan puncaknya tanpa sedikit pun rasa takut akan gertakan dunia internasional. Aksi provokatif yang berulang kembali dipertontonkan oleh pejabat tingginya. Detikcom dalam laporannya "Masuk ke Kompleks Masjid Al-Aqsa, Menteri Israel Serukan Bangun Sinagoge" (05/09/2026) memberitakan tindakan provokatif Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, yang menerobos masuk ke Kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki dan secara terang-terangan menyerukan pembangunan kuil atau tempat ibadah Yahudi di situs suci ketiga umat Islam tersebut.

Tidak berhenti pada penistaan simbol agama, ambisi pembersihan etnis (ethnic cleansing) pun kian terbuka. Metro TV News merilis berita bertajuk "Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi 1,86 Juta Warga Palestina dari Gaza dalam 7 Tahun" (06/09/2026), yang membeberkan manuver Ben-Gvir merancang pengusiran massal 1,86 juta warga Gaza dengan dalih halus "migrasi sukarela". Rencana jahat ini nyatanya merupakan agenda resmi entitas penjajah.

Sebagaimana dilaporkan Detikcom dalam berita "Israel Siapkan Rencana Usir Warga Gaza, Tunggu Persetujuan AS" (06/09/2026), Menteri Pertahanan Israel, Katz, mengonfirmasi bahwa pemerintahnya telah menyusun skenario pemindahan warga Palestina dari Jalur Gaza dan kini tinggal menunggu lampu hijau dari patron utamanya, Amerika Serikat. Sementara itu, di Tepi Barat, teror pemukim haram semakin beringas.

Kantor Berita Anadolu (AA) melaporkan dalam "Pemukim Israel Berupaya Bakar Masjid di Tepi Barat" (06/09/2026) tentang aksi nekat sekelompok pemukim Zionis yang mencoba membakar sebuah masjid serta mencoretkan slogan-slogan rasis yang mengancam keselamatan warga Palestina. Akar Masalah: Sekat Nation-State dan Ilusi Hukum Internasional Berulangnya kejahatan dan rencana pengusiran ini adalah konsekuensi logis dari skema tata politik global modern. Pertama, sekat-sekat negara-bangsa (nation-state) telah melumpuhkan kekuatan militer negara-negara berpenduduk Muslim di sekeliling Palestina.

Militer negeri-negeri Muslim yang begitu besar dan bersenjata lengkap seolah terkunci di dalam markas masing-masing karena batasan nasionalisme buatan imperalis, menyebabkan absennya otoritas politik Islam yang bersatu untuk mengusir penjajah. Kedua, hukum internasional modern yang digadang-gadang sebagai pelindung HAM nyatanya diciptakan oleh negara-negara imperialis Barat untuk melanggengkan dominasi mereka. Penggunaan diksi eufemistik seperti "migrasi sukarela" tidak lain adalah modus operandi untuk menormalisasi penjajahan dan peramposan tanah air kaum Muslimin di mata dunia. Ketiga, fakta bahwa Israel masih harus "menunggu persetujuan AS" menelanjangi hakikat sejati dari entitas tersebut.

Israel bukanlah negara berdaulat yang independen, melainkan sebuah proyek kolonial dan pangkalan militer tingkat lanjut yang didanai serta dilindungi oleh kekuatan imperialis Barat, khususnya Amerika Serikat. Konstruksi Islam: Khilafah dan Jihad sebagai Solusi Hakiki Krisis Palestina tidak akan pernah selesai melalui meja perundingan PBB, imbauan diplomatik, maupun retorika kecaman yang tidak bernilai di mata Zionis. Islam menetapkan solusi fundamental dan praktis untuk membebaskan Palestina: Pertama, Penyatuan Umat di Bawah Naungan Khilafah.

Solusi hakiki atas penjajahan ini adalah pembentukan kembali Khilafah Islamiyah sebagai junnah (perisai) yang akan menyatukan potensi seluruh kaum Muslimin, membentengi setiap jiwa, dan membebaskan setiap jengkal tanah yang dirampas penjajah. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Al-Imam (Khalifah) itu adalah perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua, Jihad sebagai Thariqah Pembebasan. Pembebasan tanah yang dijajah tidak bisa diakomodasi dengan kompromi politik. Jihad fi sabilillah oleh pasukan resmi institusi Khilafah merupakan thariqah (metode) baku politik luar negeri Islam untuk mencabut akar penjajahan dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Allah SWT berfirman: "Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu..." (QS. Al-Baqarah [2]: 191). Ketiga, Kemandirian Strategis dan Konsolidasi Sumber Daya.

Khilafah akan memutus total ketergantungan ekonomi dan politik dari negara-negara pendukung Zionis. Seluruh kepemilikan umum yang melimpah di dunia Islam—seperti minyak, gas, dan jalur maritim strategis—akan dinasionalisasi dan dikonsolidasikan untuk membangun industri berat serta kekuatan militer independen yang tak tertandingi. Keempat, Kewajiban Perjuangan Umat.

Umat Islam wajib mengambil bagian secara aktif dalam perjuangan mengembalikan kehidupan Islam melalui penegakan Khilafah, dengan menempuh metode perjuangan dakwah (thariqah an-nubuwwah) sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah ﷺ. Ketegasan Khilafah dalam Sejarah Pembebasan Palestina Tinta emas sejarah mencatat bahwa Palestina hanya aman dan mulia ketika berada di bawah naungan Khilafah. Ketika Khalifah Umar bin Khattab RA menerima kunci Yerusalem dari Patriark Sophronius pada tahun 637 M, beliau menerbitkan Al-Ukhud al-Umariyyah (Jaminan Umariyya) yang menjamin keamanan jiwa, harta, dan gereja-gereja penduduk Elia (Yerusalem) tanpa ada pengusiran.

Kedua, ketika tentara Salib menjajah Yerusalem selama hampir satu abad, Panglima Sultan Salahuddin Al-Ayyubi menggalang persatuan umat dan melancarkan jihad hingga berhasil membebaskan Masjid Al-Aqsa pada tahun 1187 M. Ketiga, sejarah juga mengukir ketegasan Sultan Abdul Hamid II pada akhir abad ke-19. Saat tokoh Zionis Theodor Herzl menawarkan bantuan finansial yang sangat besar untuk melunasi seluruh utang Khilafah Utsmaniyah dengan imbalan sebidang tanah di Palestina, Sultan Abdul Hamid II menolak dengan tegas dan menyampaikan kalimat bersejarah: "Aku tidak akan menjual walau sejengkal tanah Palestina, karena tanah itu bukan milikku melainkan milik umat Islam.

Rakyatku telah berjuang untuk mendapatkan tanah ini dan menyiramnya dengan darah mereka... Biarlah Israel menyimpan jutaan uangnya. Jika Khilafah runtuh, mereka bisa mengambil Palestina tanpa membayar. Namun selama aku masih hidup, aku lebih rela pisau terhunus merobek tubuhku daripada melihat Palestina dicopot dari Khilafah." Sikap pantang menyerah para khalifah inilah yang kini hilang dari para pemimpin dunia Islam. Sudah saatnya umat membongkar sekat-sekat nasionalisme dan berjuang mengembalikan institusi Khilafah agar perisai itu kembali hadir melindungi Al-Aqsa dan membebaskan Palestina secara tuntas.

Israel ancam gelar perang berskala penuh melawan otoritas Palestina di Tepi Barat. Foto/X SINDOnews.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image