Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Liem Steffy

Satu Sore di Parung, dan Pertanyaan Setelah Macet Reda

Sekapur Sirih | 2026-08-12 03:05:57

Satu Sore di Parung, dan Pertanyaan yang Baru Muncul Setelah Macet Reda

Kami berangkat tanpa niat besar.

Bukan survey resmi. Bukan “mau closing”. Cuma sore libur yang kepanjangan di rumah, terus ada yang bilang: “Ayo muter ke arah Parung, sekalian cari angin.”

Di mobil, obrolan masih acak. Soal kerjaan. Soal harga cabai. Soal tetangga yang baru pasang kanopi. Parung waktu itu cuma titik di Google Maps, nama yang sering lewatan di rambu sebelum konsentrasi pindah ke klakson motor di depan.

Sumber foto: Freepik

Jalan masuk kawasan itu tidak dramat. Tidak ada gapura raksasa yang bikin orang langsung menelan ludah kagum. Yang ada malah hal-hal biasa: warung buka, orang turun angkot bawa kresek, anak kecil main di gang yang motornya melambat sendiri.

Supir—saya—hampir saja ketinggalan belokan karena terlalu asyik ngeliat ruko lama yang catnya mengelupas tidak merata. “Kiri,” kata istri saya. Satu kata. Saya belok agak kasar.

“Pelan-pelan. Kita bukan ngebut ke kantor.”

Iya. Betul. Ini bukan ke kantor. Justru itu yang aneh: badan saya masih kaku seperti sedang mengejar jam masuk.

Kami berhenti sebentar dekat area yang ramai orang turun-naik. Ada bau gorengannya campur debu jalan. Saya beli es teh manis yang esnya sudah agak pecah, duduk di bangku plastik yang goyang sebelah.

Dari situ, Parung terasa lebih jujur. Tidak berusaha cantik. Tidak juga minta dikasihani. Orang lewat dengan urusannya sendiri. Ada yang bawa galon. Ada yang nunggu ojek sambil scroll HP tanpa ekspresi.

“Kayak Depok dulu,” gumam istri saya, “sebelum semuanya jadi padat banget.”

Saya mengangguk, padahal tidak sepenuhnya yakin. Tiap kawasan punya cara sendiri jadi padat. Ada yang pelan. Ada yang tiba-tiba. Ada yang sudah ramai di peta, tapi sepi di sore hari karena penghuninya masih ngekos di kepala—belum betah.

Pulang kami lewat jalur lain. Salah belok sedikit, masuk jalan lingkungan yang lebih tenang. Di kiri-kanan ada rumah dengan pagar rendah, jemuran masih tergantung, lampu teras ada yang sudah nyala padahal magrib belum penuh.

Anak saya dari bangku belakang tiba-tiba bilang, “Di sini kalo main, sepertinya bisa.”

Itu kalimat kecil. Tapi di mobil yang pelan, kalimat kecil kadang kedengeran lebih keras dari klakson.

Saya tidak langsung jawab. Saya lagi hitung dalam kepala: kalau berangkat kerja dari sini, jam berapa harus bangun. Kalau hujan, lewat mana. Kalau malam minggu mau ke arah kota, sabarnya masih ada atau habis di jalan.

Rumah, pada akhirnya, jarang diputuskan waktu orang bilang “indah”. Lebih sering diputuskan waktu orang mulai berani bayangkan hari Selasa yang membosankan di situ.

Malamnya, di rumah (yang lama), saya buka laptop tanpa ide jelas. Cuma iseng rapikan tab yang numpuk. Satu tab soal akses. Satu tab soal genangan—karena saya paranoid soal air. Satu tab lagi kebuka karena tadi siang sempat dengar nama proyek di obrolan orang di warung, lalu saya cari sumbernya biar tidak cuma dari “katanya”.

Saya buka laman granddutacityparung.com, bukan untuk “jatuh cinta” dalam tiga detik—itu jarang terjadi pada orang yang sudah pernah kecewa sama brosur. Saya buka karena mau lihat mereka menjelaskan dirinya sendiri: di mana, konsepnya apa, tipenya seperti apa. Data primer. Bahan banding. Bukan putusan.m

Istri saya melirik dari sofa. “Ngapa’in?”

“Ngecek. Biar kalo ngomongin Parung, enggak ngarang.”

Dia ketawa kecil. “Kamu kalo sudah mulai ngecek, biasanya lama.”

Saya tidak membantah.

Yang lucu, setelah itu kami tidak langsung “serius cari rumah”. Hidup tidak seperti video properti. Masih ada kerjaan. Masih ada tagihan. Masih ada malas.

Tapi Parung tidak hilang dari obrolan. Dia muncul lagi waktu macet di tempat lama. Muncul waktu anak nanya kenapa halaman kita sempit. Muncul waktu ada kabar infrastruktur yang bikin grup chat ramai orang tiba-tiba jadi analis kawasan.

Saya jadi lebih hati-hati sama kalimat “nanti pasti naik”. Naik itu kata yang enak diulang. Yang lebih susah dijawab: naik buat siapa, di titik mana, dan Anda sanggup nunggu sambil tetap nyaman tinggal di situ hari ini.

Karena kalau rumah cuma enak di masa depan, penghuninya bisa kelelahan menunggu di masa sekarang.

Minggu berikutnya kami balik lagi. Bukan karena sudah yakin. Justru karena belum.

Kali ini saya bawa catatan di HP. Jorok isinya. Bukan rapi. Cuma panah-panah dan kalimat putus:

 

  • sore agak adem
  • jalan lingkungan A lebih nyaman dari B
  • bunyi tajam dari arah mana?
  • warung buka sampe jam brp

Di satu titik kami berhenti lebih lama. Anginnya membawa bau tanah basah, padahal hujan cuma gerimis sebentar. Anak saya turun, jalan di trotoar yang tidak terlalu rapi, lalu bilang lagi kalimat yang sama, agak beda nada: “Di sini kayaknya bisa.”

Saya lihat istri saya. Dia tidak mengangguk. Tapi tidak geleng juga. Wajahnya seperti orang yang sedang menimbang garam di masakan—belum tentu kurang, belum tentu pas.

Itu, buat saya, lebih jujur dari anggukan cepat di depan rumah contoh ber-AC.

Saya menulis ini bukan untuk menyuruh siapa pun pindah ke Parung. Kawasan bukan obat. Buat sebagian orang, jauh dari pusat justru bikin hidup lebih rumit. Buat sebagian lain, justru menolong.

Yang ingin saya bilang lebih sederhana: kadang keputusan besar tidak lahir di ruang presentasi. Dia lahir di sore yang tidak direncanakan, di es teh yang esnya sudah pecah, di kalimat anak yang terdengar remeh, dan di malam ketika seseorang iseng membuka sumber resmi biar tidak ngarang sendiri.

Parung, buat kami, masih berupa pertanyaan yang belum ditutup. Dan itu tidak apa-apa. Pertanyaan yang jujur lebih berguna daripada jawaban yang dipaksa cepat.

Kalau suatu hari Anda kebetulan muter ke sana tanpa niat besar, coba jangan cuma lihat rumahnya. Lihat orangnya pulang. Lihat toko yang masih buka. Lihat apakah napas Anda pelan atau tetap pendek seperti di jalan tol dalam kota.

Kadang dari situ, pelan-pelan, orang tahu: ini cuma lewat—atau mulai terasa seperti kemungkinan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image