Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nailul Hikmi

Membangun Kesadaran dari Rumah untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Info Sehat | 2026-06-30 12:42:42

Oleh: Nailul Hikmi, Azyyati Ridha Alfian

Pandemi COVID-19 memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Kesehatan bukan hanya urusan rumah sakit atau tenaga medis, melainkan tanggung jawab setiap individu, keluarga, dan masyarakat. Demikian pula ketika banjir, gempa bumi, atau bencana lainnya terjadi, yang pertama kali bertindak bukanlah petugas penyelamat, melainkan keluarga yang berada di lokasi kejadian. Dari sinilah kita memahami bahwa keluarga merupakan benteng pertama dalam menjaga kesehatan sekaligus menghadapi berbagai ancaman kehidupan.

ilustrasi

Sayangnya, kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta membangun kesiapsiagaan terhadap bencana masih perlu terus diperkuat. Banyak orang baru memeriksakan kesehatannya ketika penyakit sudah menimbulkan keluhan serius. Demikian pula kebiasaan hidup sehat sering kali baru dilakukan setelah seseorang mengalami gangguan kesehatan.

Padahal, prinsip utama kesehatan masyarakat bukanlah mengobati penyakit, melainkan mencegah penyakit sebelum terjadi. Pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi salah satu langkah paling sederhana namun sangat efektif untuk mendeteksi berbagai penyakit sejak dini, seperti hipertensi, diabetes melitus, gangguan kolesterol, hingga penyakit tidak menular lainnya yang sering berkembang tanpa gejala.

Ketika penyakit ditemukan lebih awal, peluang pengobatan menjadi lebih besar, biaya kesehatan dapat ditekan, dan kualitas hidup masyarakat pun meningkat. Sebaliknya, keterlambatan diagnosis sering kali menyebabkan penanganan menjadi lebih sulit dan lebih mahal.

Namun menjaga kesehatan tidak cukup hanya melalui pemeriksaan rutin. Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang produktif. Kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga secara teratur, menggunakan air bersih, menjaga sanitasi lingkungan, tidak merokok, serta membuang sampah pada tempatnya adalah tindakan sederhana yang memberikan manfaat luar biasa bagi kesehatan.

Ironisnya, praktik PHBS sering dianggap sebagai hal yang sepele. Banyak orang memahami pentingnya hidup sehat, tetapi belum menjadikannya sebagai kebiasaan sehari-hari. Padahal sebagian besar penyakit menular maupun penyakit tidak menular dapat dicegah melalui perubahan perilaku yang konsisten.

Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi tantangan sebagai negara yang rawan bencana. Gempa bumi, banjir, tanah longsor, letusan gunung api, hingga cuaca ekstrem merupakan ancaman yang hampir setiap tahun terjadi di berbagai daerah. Dalam kondisi seperti ini, kesiapsiagaan keluarga menjadi sangat menentukan keselamatan.

Sayangnya, budaya tanggap bencana masih belum tumbuh secara merata. Banyak keluarga belum memiliki rencana evakuasi, belum mengetahui jalur penyelamatan, bahkan belum menyiapkan perlengkapan darurat yang diperlukan apabila terjadi bencana secara tiba-tiba.

Padahal kesiapsiagaan tidak membutuhkan biaya yang besar. Mengenali risiko di lingkungan tempat tinggal, mengetahui nomor layanan darurat, menyiapkan tas siaga berisi dokumen penting dan kebutuhan dasar, serta melakukan simulasi evakuasi bersama anggota keluarga merupakan langkah sederhana yang dapat menyelamatkan banyak nyawa.

Dalam perspektif kesehatan masyarakat, pemeriksaan kesehatan, PHBS, dan kesiapsiagaan bencana bukanlah tiga program yang berdiri sendiri. Ketiganya saling berkaitan dalam membangun ketahanan keluarga. Keluarga yang sehat akan lebih siap menghadapi bencana. Sebaliknya, keluarga yang memiliki kesiapsiagaan yang baik akan lebih mampu melindungi kesehatan anggotanya ketika terjadi situasi darurat.

Karena itu, peningkatan kesadaran masyarakat harus dilakukan secara menyeluruh. Edukasi kesehatan tidak boleh hanya berlangsung di fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga hadir di sekolah, tempat ibadah, lingkungan kerja, dan berbagai ruang sosial lainnya. Informasi kesehatan yang mudah dipahami akan membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat dalam menjaga kesehatannya.

Peran kader Posyandu, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan juga sangat penting sebagai agen perubahan di tingkat komunitas. Mereka menjadi jembatan antara program pemerintah dan kebutuhan nyata masyarakat. Dengan pendekatan yang lebih dekat dan komunikatif, pesan-pesan kesehatan lebih mudah diterima dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemerintah daerah perlu terus memperkuat layanan kesehatan preventif melalui pemeriksaan kesehatan berkala, promosi PHBS, serta pelatihan kesiapsiagaan bencana berbasis masyarakat. Sementara itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mendukung upaya tersebut melalui penelitian, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat yang mampu menjawab tantangan kesehatan di tingkat lokal.

Kemajuan teknologi juga membuka peluang besar untuk meningkatkan literasi kesehatan. Media sosial, aplikasi kesehatan, dan platform digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi yang cepat, luas, dan mudah diakses. Namun informasi yang disampaikan harus berbasis bukti ilmiah agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, membangun masyarakat yang sehat tidak dimulai dari rumah sakit, melainkan dari rumah. Keluarga yang terbiasa memeriksakan kesehatan, menerapkan PHBS, dan memiliki kesiapsiagaan menghadapi bencana akan melahirkan masyarakat yang lebih tangguh, produktif, dan berkualitas.

Kesehatan bukanlah warisan yang dapat diberikan begitu saja kepada generasi berikutnya. Kesehatan dibangun melalui kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari. Demikian pula ketangguhan menghadapi bencana tidak lahir saat bencana datang, tetapi dipersiapkan jauh sebelumnya melalui pengetahuan, latihan, dan kepedulian bersama.

Sudah saatnya kita memandang kesehatan dan kesiapsiagaan bukan sebagai program sesaat, melainkan sebagai budaya hidup. Sebab keluarga yang sehat dan sadar akan pentingnya pencegahan adalah fondasi utama bagi terwujudnya masyarakat yang tangguh menghadapi berbagai tantangan, baik penyakit maupun bencana, di masa depan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image