Mengapa Orang yang Hijrah Sering Menghadapi Banyak Ujian?
Agama | 2026-08-18 11:41:44Ada sebuah pertanyaan yang sering muncul ketika seseorang mulai memperbaiki kehidupannya: “Mengapa setelah saya hijrah, justru masalah semakin banyak?”
Seseorang mulai meninggalkan kebiasaan buruk, memperbaiki salat, menjauhi lingkungan yang dianggap tidak baik, memperbanyak membaca Al-Qur'an, atau berusaha meninggalkan maksiat. Akan tetapi, setelah keputusan tersebut diambil, persoalan hidup seolah tidak berhenti datang. Pertemanan berubah, keluarga belum tentu memahami, kondisi ekonomi bisa naik turun, bahkan muncul pergulatan dengan diri sendiri.
Perasaan seperti itu bukan sesuatu yang asing. Penelitian mengenai pengalaman hijrah di Indonesia menunjukkan bahwa proses perubahan spiritual merupakan perjalanan yang panjang dan disertai berbagai tantangan. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Dialog Kementerian Agama, misalnya, menemukan bahwa proses hijrah dapat berawal dari krisis personal maupun interpersonal dan berakhir pada komitmen yang lebih kuat sekaligus penerimaan terhadap konsekuensi dari keputusan tersebut.
Dalam perspektif Islam, ujian juga bukan sesuatu yang hanya diberikan kepada orang yang dianggap jauh dari agama. Al-Qur'an justru menegaskan bahwa manusia akan diuji untuk melihat kualitas keimanannya. Kementerian Agama mengutip QS Al-Baqarah ayat 155 yang menjelaskan bahwa manusia akan diuji dengan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan berbagai bentuk kehilangan.
Karena itu, anggapan bahwa “setelah hijrah seharusnya hidup semakin mudah” perlu diluruskan. Hijrah bukan transaksi: seseorang menjadi lebih taat lalu Allah menjanjikan kehidupan tanpa masalah. Hijrah adalah proses perubahan diri, sedangkan ujian merupakan bagian dari kehidupan manusia.
Hijrah Bukan Jalan Menuju Hidup Tanpa Masalah
Secara bahasa dan sejarah, hijrah memiliki makna berpindah. Dalam sejarah Islam, hijrah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Makkah ke Madinah merupakan peristiwa penting yang dilakukan dalam situasi penuh tekanan dan ancaman.
Namun, dalam konteks kehidupan Muslim saat ini, istilah hijrah sering digunakan untuk menggambarkan perubahan menuju kehidupan yang dianggap lebih sesuai dengan ajaran Islam. Penelitian tentang fenomena hijrah generasi muda Indonesia menunjukkan bahwa makna hijrah telah berkembang menjadi bentuk transformasi spiritual dan identitas keagamaan.
Yang menarik, perubahan tersebut justru dapat menciptakan tantangan baru.
Seseorang yang sebelumnya terbiasa berkumpul dengan lingkungan tertentu mungkin harus mengambil jarak karena ingin meninggalkan kebiasaan yang tidak sesuai dengan nilai yang diyakininya. Teman-temannya bisa saja tidak memahami keputusan tersebut. Sebagian bahkan mungkin mengejek atau menganggap perubahan itu hanya sementara.
Di lingkungan keluarga pun demikian. Tidak semua orang memiliki pemahaman agama yang sama. Ketika seorang anak tiba-tiba mengubah cara berpakaian, pergaulan, kebiasaan, atau rutinitas ibadah, keluarga mungkin membutuhkan waktu untuk memahami perubahan tersebut.
Penelitian tentang hijrah kaum muda di Indonesia menunjukkan bahwa proses tersebut dipengaruhi oleh latar belakang budaya, pendidikan, lingkungan keluarga, dan lingkungan sosial. Artinya, pengalaman setiap orang dalam menjalani hijrah memang tidak akan sama.
Maka, ujian setelah hijrah tidak selalu harus dipahami sebagai hukuman. Bisa jadi, sebagian kesulitan muncul karena seseorang memang sedang menjalani proses perubahan yang membutuhkan penyesuaian.
Ujian Menguji Kesungguhan, Bukan Sekadar Penampilan
Salah satu kesalahpahaman dalam fenomena hijrah adalah menganggap perubahan dari luar sebagai ukuran utama keberhasilan.
Padahal, perubahan yang paling sulit justru sering terjadi di dalam diri.
Mengubah pakaian mungkin bisa dilakukan dalam satu hari. Mengubah kebiasaan berbicara membutuhkan waktu lebih lama. Mengendalikan emosi, meninggalkan kebiasaan buruk, menjaga kejujuran, memaafkan orang lain, menghindari iri hati, dan tetap berbuat baik ketika disakiti membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.
Penelitian mengenai hijrah sebagai identitas Muslim milenial juga memberikan catatan penting. Hijrah di Indonesia dapat menjadi identitas yang terlihat melalui pakaian, gaya hidup, dan cara berbicara, tetapi Islam juga menekankan nilai-nilai substantif yang lebih luas daripada simbol dan penampilan.
Di sinilah ujian memiliki fungsi penting.
Ketika seseorang mendapatkan pujian karena perubahan dirinya, mempertahankan kebaikan mungkin terasa mudah. Tetapi ketika ia tidak mendapatkan apresiasi, bahkan mendapat celaan, di situlah ketulusan dan konsistensi mulai diuji.
Demikian pula ketika seseorang sudah rajin beribadah tetapi menghadapi masalah ekonomi. Apakah ia tetap percaya kepada Allah? Ketika doanya belum mendapatkan jawaban seperti yang diharapkan, apakah ia berhenti berdoa? Ketika melakukan kebaikan tetapi justru disakiti, apakah ia kemudian kembali kepada kebiasaan lama?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa hijrah bukan sekadar perubahan status sosial atau penampilan. Ia merupakan proses pembentukan karakter.
Al-Qur'an dalam QS Al-Ankabut ayat 2 menegaskan bahwa orang-orang yang menyatakan beriman tidak dibiarkan begitu saja tanpa diuji. Prinsip ini menunjukkan bahwa keimanan dan ujian bukan dua hal yang selalu bertentangan.
Bahkan, Kementerian Agama menekankan bahwa kesabaran dalam menghadapi ujian bukan berarti pasrah tanpa usaha. Sabar mencakup kemampuan untuk tetap teguh, berikhtiar, dan tidak mudah menyerah.
Dengan demikian, ketika seseorang mengalami kesulitan setelah hijrah, respons yang lebih tepat bukan langsung menyimpulkan bahwa Allah sedang menghukumnya. Ia perlu melakukan introspeksi sekaligus tetap berusaha mencari solusi.
Jangan Sampai Ujian Membuat Seseorang Merasa Gagal Hijrah
Masalah lain yang sering muncul adalah ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap proses hijrah.
Media sosial membuat kehidupan seseorang terlihat sederhana: ada kisah sebelum dan sesudah hijrah, perubahan penampilan, rajin mengikuti kajian, kemudian hidup terlihat lebih tenang. Gambaran semacam itu dapat menciptakan anggapan bahwa hijrah akan langsung menghasilkan kehidupan yang sempurna.
Padahal, penelitian tentang gerakan hijrah di kalangan Muslim milenial menunjukkan bahwa media sosial memang memainkan peran penting dalam penyebaran dakwah dan pembentukan identitas keagamaan. Pada saat yang sama, informasi keagamaan di media sosial tidak selalu disertai pendalaman pemahaman yang memadai.
Akibatnya, seseorang dapat membandingkan proses hidupnya dengan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna di media sosial.
Ketika dirinya masih sering melakukan kesalahan, ia merasa tidak pantas disebut sedang hijrah. Ketika masih mengalami masalah, ia merasa doanya tidak diterima. Ketika mendapat ujian, ia menganggap perubahan yang dilakukan sia-sia.
Cara berpikir seperti itu justru berbahaya.
Hijrah seharusnya tidak dipahami sebagai tuntutan untuk menjadi manusia sempurna dalam waktu singkat. Manusia tetap memiliki kelemahan. Yang membedakan adalah kemauan untuk terus memperbaiki diri setelah melakukan kesalahan.
Penelitian terbaru mengenai ketahanan religius pemuda hijrah juga menggambarkan bahwa konsistensi dalam menjalani perubahan keagamaan membutuhkan kemampuan beradaptasi di tengah modernisasi dan berbagai tekanan sosial.
Karena itu, seseorang yang sedang hijrah perlu memiliki tiga hal: ilmu, kesabaran, dan konsistensi.
Ilmu membuat seseorang tidak mudah mengikuti pemahaman agama yang keliru. Kesabaran membuatnya tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah. Sementara konsistensi membuat perubahan tidak berhenti hanya karena sedang mengalami kesulitan.
Jadi, mengapa orang yang hijrah sering merasa mendapatkan banyak cobaan?
Pertama, karena ujian memang merupakan bagian dari kehidupan manusia, bukan sesuatu yang hanya dialami oleh orang yang sedang memperbaiki diri. Kedua, proses hijrah merupakan perubahan yang membutuhkan penyesuaian terhadap kebiasaan, lingkungan sosial, dan cara seseorang memandang kehidupan. Ketiga, kesulitan dapat menjadi ruang untuk menguji apakah perubahan tersebut benar-benar memiliki dasar yang kuat atau hanya mengikuti tren sesaat.
Al-Qur'an bahkan secara eksplisit menggambarkan orang-orang yang berhijrah setelah mengalami cobaan, kemudian berjihad dan bersabar, sebagai kelompok yang mendapatkan ampunan dan rahmat Allah dalam QS An-Nahl ayat 110.
Namun, penting untuk tidak menyederhanakan setiap masalah sebagai “ujian karena hijrah”. Tidak semua kesulitan harus ditafsirkan sebagai tanda bahwa seseorang sedang diuji karena menjadi lebih saleh. Masalah hidup juga dapat muncul karena keputusan manusia, kondisi sosial, faktor ekonomi, hubungan dengan orang lain, atau sebab-sebab lainnya.
Yang terpenting adalah bagaimana seseorang meresponsnya.
Hijrah bukan tentang mendapatkan kehidupan yang bebas dari masalah. Hijrah adalah keberanian untuk memilih jalan yang lebih baik meskipun jalan tersebut tidak selalu mudah.
Jika setelah hijrah seseorang masih menangis, masih gagal, masih melakukan kesalahan, atau masih menghadapi banyak persoalan, itu tidak otomatis berarti hijrahnya gagal.
Bisa jadi, justru di tengah kesulitan itulah seseorang sedang belajar menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah.
Sebab tujuan hijrah bukan menjadi manusia yang tidak pernah diuji, melainkan menjadi manusia yang tetap memilih kebaikan ketika sedang diuji.
Referensi
- Al-Qur'an, QS Al-Baqarah: 153 dan 155–157.
- Al-Qur'an, QS Al-Ankabut: 2–3.
- Al-Qur'an, QS An-Nahl: 110.
- Al-Qur'an, QS Al-Mulk: 1–2.
- Kementerian Agama RI. Pusaka Quran Kementerian Agama: QS An-Nahl ayat 110.
- Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta. Makna Kesabaran dalam Kehidupan Seorang Muslim, 2026.
- Kantor Kementerian Agama Kota Yogyakarta. Kehidupan Manusia Memang Penuh Cobaan, 2022.
- Understanding “Hijrah and Atonement” Among Indonesian Muslim Youth. Dialog: Jurnal Penelitian dan Kajian Keagamaan, Vol. 44 No. 2, 2021.
- Fajriani, S. W. & Sugandi, Y. S. Hijrah Islami Milenial Berdasarkan Paradigma Berorientasi Identitas. Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi, 2019.
- Syamsuri. Al-Qur'an dan Identitas: Menggali Makna Hijrah sebagai Identitas Muslim Milenial. Ta'wiluna, 2023.
- Rahman, T., Nurnisya, F. Y., Nurjanah, A., & Hifziati, L. Hijrah and the Articulation of Islamic Identity of Indonesian Millennials on Instagram. Jurnal Komunikasi: Malaysian Journal of Communication.
- Zahara, M. N. & Wildan, D. Identity and Cultural Framing: How Millennial Muslims Form a Hijrah Movement in the Digital Age? Sosietas: Jurnal Pendidikan Sosiologi, 2020.
- Wardani, W., Mahfuzh, T. W., & Bashori. Hijrah Among the Youth: Religious Conversion and Modes of Understanding of Related Qur'anic Verses. Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora.
- Nuruzzaman, M. A. & Abu Bakar, M. Y. Religious Resilience of Hijrah Youth in the Midst of Modernization Flow: Challenges, Adaptation, and Consistency. FOKUS Jurnal Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan.
- Zakiyah, A. N., Laily, A. N. A., Hanifah, M., & Fadhil, A. Fenomena Hijrah Instan: Tantangan dan Peran Pendidikan Islam dalam Membentuk Pemahaman yang Kritis dan Mendalam. Al-Marsus: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
