Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ema Ied Fitriyah

Pelarian, Melarikan Diri Bersamamu

Sastra | 2026-10-06 22:02:54

Dua

Brak!

Tumpukan buku panduan berbobot tebal itu meluncur bebas dari dekapanku, menghantam lantai keramik perpustakaan pusat yang dingin dan berderak membelah keheningan. Kertas-kertas panduan orientasi mahasiswa baru berhamburan liar di antara rak kayu setinggi tiga meter yang berbau apek kertas tua dan pelitur lapuk.

"Awas, Mas!"

Sebuah pekikan tertahan melesat tepat sebelum tubuh mungil itu menabrak dadaku. Aroma sabun mandi murah bercampur wangi hujan yang menempel di ujung jilbab katunnya menerjang indra penciumanku seketika.

Dua tangan kami terulur bersamaan ke lantai. Ujung jarinya yang ramping menyentuh punggung tanganku.

Sengatan itu nyata. Aku tersentak.

Ketika kepalanya terangkat dari balik bayang-bayang rak buku yang temaram, waktu seolah berhenti berputar di tengah riuh dengung ribuan mahasiswa baru yang berdesakan di lorong luar gedung rektorat.

Bulu mata lentik yang basah oleh sisa gerimis. Dan tepat di sudut mata kirinya—sebutir tahi lalat hitam kecil yang membuat tatapan tajam nan awas itu berubah menjadi sihir yang memabukkan.

"Bisa jalan pakai mata nggak, sih?" semprotnya ketus, napasnya memburu.

"Kamu yang nabrak dari balik rak," tangkisku dingin.

"Masnya yang bawa buku setinggi gunung!"

"Ini buku titipan panitia jurusan."

"Dan sekarang semuanya campur aduk di lantai!"

Dia berlutut cepat, jemarinya bergerak gesit menyambar buku-buku bersampul biru tua berlogo universitas itu. Aku ikut berlutut, sengaja menatap lekat paras tirusnya yang polos tanpa riasan. Ada guratan lapar di matanya, memancarkan gurat wajah perempuan yang tegas namun elok dan menggoda, membuatku ingin menguasai ambisi purba dari seorang gadis daerah yang ingin menaklukkan kota besar ini dengan segala cara.

"Nggak usah diliatin," desisnya tanpa menoleh, menumpuk lima buku sekaligus. "Bantuin."

"Buku panduanmu yang mana?"

"Yang biru."

"Semuanya warna biru, Pintar."

"Yang ada stiker namanya!"

Aku meraih sebuah buku yang tergelincir paling jauh di kolong rak. Di sampulnya, tertulis nama dengan tinta spidol hitam yang mulai luntur: Rima Melati – Fakultas Ekonomi & Bisnis.

"Rima?" gumamku.

Tangannya membeku di atas tumpukan buku. Dia menoleh cepat.

"Balikin."

"Anak beasiswa ya?" tanyaku spontan, melirik kemeja putihnya yang mulai menguning di bagian kerah dan tas ransel kainnya yang jahitannya bertambal benang beda warna.

Matanya berkilat tersinggung. "Bukan urusan kamu."

"Cuma nanya."

"Nggak sopan."

"Namaku Bayu." Aku mengulurkan tangan kanan, memamerkan arloji perak mengkilap di pergelanganku yang kontras dengan gelang karet hitam kusam di tangannya. "Teknik Industri."

Rima tidak menyambut tanganku. Dia merebut buku bersampul spidol itu dari genggamanku, lalu bangkit berdiri dengan napas tersengal.

"Nggak nanya."

"Sombong amat."

"Biarin."

"Buku panduan kita ketuker, Rima."

Langkah kakinya yang hendak berbalik seketika tertahan di lorong sempit antara dua rak teologi dan sejarah.

"Apa?"

Aku mengangkat buku di tanganku yang lain. "Di punyamu ada catatan jadwal ospek jurusan. Di punyaku ada kuitansi pembayaran daftar ulang atas nama Bayu Airlangga."

Dia membalik sampul buku yang didekapnya. Matanya membelalak kecil saat melihat slip pembayaran bernominal belasan juta rupiah terselip di halaman pertama—angka yang bagi anak sepertinya mungkin setara dengan biaya hidup setahun penuh.

"Kenapa kuitansi ditaruh di sini?" sungutnya panik.

"Biar nggak hilang."

"Kalian orang kaya memang teledor."

"Dan kalian anak rajin memang suka buru-buru."

"Tukar sekarang." Dia mengulurkan buku itu.

"Nanti malam."

"Maksud kamu apa?!"

"Aku ada rapat BEM di gedung barat sepuluh menit lagi," ujarku enteng, melangkah maju mendekatinya hingga aroma parfum desainerku menelan aroma sabun mandinya. "Simpan dulu bukuku. Jangan sampai lecek."

"Enak aja! Aku butuh jadwal ospek besok pagi!"

"Makanya, hubungi aku nanti malam."

"Aku nggak tahu nomor kamu!"

"Makanya tukar HP."

Rima mendengus keras, mencibir. "Trik basi anak kota."

"Mau bukunya balik nggak?"

Dia terdiam. Rahangnya mengeras, menimbang harga diri melawan kebutuhan mutlak atas buku panduan akademik itu. Akhirnya, dengan tangan gemetar menahan dongkol, dia merogoh saku rok panjangnya. Sebuah ponsel layar sentuh keluaran lama dengan sudut casing yang terkelupas disodorkannya ke arah dadaku.

"Ketik nomormu. Cepat."

Aku menerima ponsel ringkih itu. Layarnya penuh goresan. Aku mengeluarkan ponsel pintarku yang ramping dan mahal dari saku celana, lalu meletakkannya di telapak tangan Rima yang dingin.

"Miscall nomor kamu dari situ," perintahku santai.

"Ngapain?"

"Biar aku simpan nomormu."

"Pede banget kamu bakal aku hubungi."

"Kamu butuh aku, Rima."

"Aku cuma butuh buku panduanku!"

"Sama aja."

Jemarinya mengetik nomor di atas layar ponselku. Gerakan jarinya gemetar, canggung menyentuh teknologi yang jelas berada di luar jangkauan dompetnya. Bau keringat di ujung dahinya yang tertutup poni tipis membuat dadaku berdesir aneh. Ada kepolosan yang liar, ada kerapuhan yang ingin sekali kuremukkan di tanganku.

Trrrtt.

Ponsel butut di tanganku bergetar. Layarnya menyala, menampilkan sederet nomor tanpa nama.

"Sudah," katanya ketus seraya merebut kembali ponselnya. "Jam delapan malam di koridor perpustakaan ini lagi. Jangan telat."

"Kalau telat?"

"Bukumu kubakar."

"Coba aja kalau berani bakar kuitansi dua belas juta."

Rima menatapku tajam. Tatapan yang sepuluh tahun kemudian akan kukenali sebagai racun paling mematikan dalam hidupku. Sudut bibirnya terangkat tipis, sebuah senyuman getir yang menantang bahaya.

"Jangan remehkan orang yang nggak punya apa-apa untuk dipertaruhkan, Mas Bayu."

"Aku suka cewek nekat."

"Aku nggak peduli kamu suka apa."

"Jam delapan malam ya, Gadis Tahi Lalat."

"Nama aku Rima!"

"Cantik."

Wajahnya merah padam seketika. Tanpa sepatah kata lagi, dia membalikkan badan dan setengah berlari menembus kerumunan mahasiswa baru di lorong gedung rektorat yang riuh oleh suara toa panitia.

Aku berdiri mematung di antara jajaran rak buku tua yang temaram. Buku panduan bertuliskan namanya masih kudekap erat di dada, menghirup aroma kertas basah yang tertinggal di sana, tanpa menyadari bahwa detik itu adalah detik pertama sebuah kutukan panjang dimulai.

Naskah adalah Cuplikan Bab 2 dari Novel Online di KBM Id dengan Judul

Pelarian. Melarikan Isteri Orang

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image