Perilaku tidak Menceritakan Seluruh tentang Seseorang
Lainnnya | 2026-08-18 20:46:43
Mengapa seorang anak bisa makin bersemangat belajar setelah mendapatkan hadiah ketika berhasil menjadi juara kelas? Mengapa ada seseorang yang takut gagal, sementara orang lain justru menganggap kegagalan sebagai bagian dari proses? Dan mengapa kita sering kali memberikan label kepada seseorang hanya berdasarkan perilaku yang terlihat?
Pertanyaan sederhana itulah menjadi semakin menarik bagi saya setelah mengikuti perkuliahan Tingkah Laku Manusia dan Lingkungan Sosial. Dalam perkuliahan tersebut, saya dikenalkan kembali pada tiga pendekatan dalam memahami manusia, yaitu psikoanalisis, behavioristik, dan humanistik. Ketiga pendekatan tersebut memberikan perspektif yang berbeda, tetapi bagi saya justru saling melengkapi dalam memahami manusia.
Pendekatan Psikoanalisis membuat saya paham bahwa perilaku manusia tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Ada pengalaman masa lalu, konflik, maupun proses dalam diri seseorang yang tidak selalu disadari, tetapi dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan bertindak. Misalnya, seorang anak yang sejak kecil sering dibandingkan dengan saudaranya mungkin tumbuh menjadi pribadi yang sangat takut mengalami kegagalan. Ketika dewasa, orang lain mungkin hanya melihatnya sebagai seseorang yang terlalu perfeksionis. Padahal, ada kemungkinan pengalaman masa lalu ikut membentuk cara dirinya melihat keberhasilan dan kegagalan.
Berbeda dengan itu, Pendekatan Behavioristik membuat saya melihat bagaimana lingkungan dan konsekuensi dapat membentuk perilaku manusia. Contoh yang diberikan dalam perkuliahan terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika seorang anak mendapatkan hadiah atau pujian setelah memperoleh ranking satu, penghargaan tersebut dapat menjadi dorongan bagi anak untuk mengulangi perilaku belajar yang sama. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya sering menemukan pola seperti ini. Ketika suatu perilaku mendapatkan respons positif, kita cenderung terdorong untuk mengulanginya.
Dari sinilah saya kemudian mengetahui bahwa lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan seseorang. Cara orang tua memberikan apresiasi, cara guru memberikan penghargaan, bahkan cara lingkungan sosial memberikan respons terhadap seseorang dapat ikut serta membentuk perilaku.
Namun, dari ketiga pendekatan tersebut, Pendekatan Humanistik menjadi bagian yang paling menarik perhatian saya. Ada satu pemahaman sederhana yang cukup melekat dalam pikiran saya “manusia pada dasarnya memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang”.
Pemahaman tersebut membuat saya berpikir bahwa manusia seharusnya tidak hanya dilihat berdasarkan kekurangan atau perilakunya saat ini. Seorang anak yang dianggap malas belum tentu tidak memiliki kemampuan. Mahasiswa yang pendiam belum tentu tidak mempunyai gagasan. Seseorang yang pernah gagal belum tentu tidak mampu berhasil. Bahkan seseorang yang sedang berada dalam kondisi sulit belum tentu kehilangan seluruh potensi yang dimilikinya.
Sering kali kita terlalu cepat memberikan label kepada seseorang berdasarkan apa yang kita lihat. Kita mengatakan seseorang malas karena tidak mengerjakan sesuatu, menyebut seseorang tidak percaya diri karena jarang berbicara, atau menganggap seseorang tidak mampu karena pernah mengalami kegagalan. Padahal, kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh perjalanan hidup seseorang.
Di sinilah saya merasa pendekatan humanistik memberikan sudut pandang yang berbeda. Manusia bukan hanya kumpulan masalah yang harus diperbaiki. Manusia juga memiliki kekuatan, harapan, pilihan, dan potensi yang dapat dikembangkan. Tugas lingkungan bukan hanya menilai, tetapi juga memberikan ruang agar potensi tersebut dapat tumbuh.
Pemahaman tersebut kemudian saya hubungkan dengan ilmu kesejahteraan sosial yang sedang saya pelajari. Dalam kesejahteraan sosial, seseorang tentu tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosialnya. Ketika kita melihat seseorang yang mengalami kemiskinan, misalnya, rasanya terlalu sederhana jika kita langsung menyimpulkan bahwa orang tersebut tidak mampu atau tidak mau berusaha. Kita perlu melihat lebih jauh. Bagaimana kondisi keluarganya? Bagaimana pengalaman hidupnya? Apakah ia memiliki akses pendidikan?
Pertanyaan tersebut membuat saya memahami bahwa membantu seseorang bukan hanya tentang menyelesaikan masalah yang terlihat melainkan ada proses untuk memahami manusia secara utuh.
Bagi saya, ketiga pendekatan yang dipelajari dalam perkuliahan ini akhirnya memberikan tiga cara pandang yang berbeda terhadap manusia. Psikoanalisis mengajarkan saya untuk melihat ke belakang dan memahami bagaimana pengalaman masa lalu dapat memengaruhi seseorang. Behavioristik membuat saya melihat bagaimana lingkungan dan konsekuensi dapat membentuk perilaku. Sementara Humanistik mengajak saya untuk melihat ke depan, bahwa manusia tetap memiliki potensi untuk berkembang menjadi lebih baik. Ketiga pendekatan tersebut membuat saya belajar untuk lebih berhati-hati dalam menilai orang lain
Pada akhirnya, perkuliahan ini tidak hanya membuat saya memahami teori tentang tingkah laku manusia. Lebih dari itu, saya merasa mendapatkan cara pandang baru dalam melihat manusia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
