RS5-Katekin dari Biji Ketapang: Harapan Baru untuk Alzheimer
Eduaksi | 2026-09-15 18:22:08
Buah ketapang, (Sumber Foto : pixabay.com)
Penyakit Alzheimer merupakan salah satu gangguan neurodegeneratif yang prevalensinya terus mengalami peningkatan secara global. Dalam tiga dekade terakhir, jumlah kematian akibat penyakit Alzheimer meningkat dari 651 ribu menjadi 1,4 juta jiwa. Beban penyakit ini diproyeksikan terus meningkat, dengan perkiraan jumlah kasus global mencapai 152 juta pada tahun 2050. Di Indonesia, jumlah individu yang terkena Alzheimer diperkirakan telah mencapai 4,2 juta jiwa. Hingga saat ini, berbagai strategi terapeutik telah dikembangkan, namun belum terdapat terapi yang secara pasti mampu menghentikan progresivitas penyakit Alzheimer.
Alzheimer: Ancaman Kesehatan yang Terus Meningkat
Sebagai upaya dalam menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa Universitas Andalas mengembangkan pendekatan inovatif dengan memanfaatkan limbah biji ketapang (Terminalia catappa) sebagai sumber Pati Tahan tipe 5 (RS5). Pendekatan ini dikombinasikan dengan katekin, yaitu senyawa antioksidan alami yang berpotensi menghambat proses agregasi β-amiloid. Agregasi β-amiloid merupakan salah satu karakteristik patologis utama yang berkaitan dengan perkembangan penyakit Alzheimer.
Salah satu kendala dalam pemanfaatan katekin sebagai agen bioaktif adalah stabilitasnya yang relatif rendah terhadap kondisi asam di lambung, sehingga dapat mengalami degradasi sebelum mencapai lokasi target. Dalam pendekatan ini, RS5 berperan sebagai matriks pelindung bagi Katekin. Kompleks RS5-katekin dirancang untuk memiliki ketahanan terhadap proses pencernaan pada lambung dan usus halus, sehingga memungkinkan katekin terlindungi di dalam saluran pencernaan dan berpotensi dilepaskan pada kolon.
Strategi Sumbu Usus-Otak
Pendekatan ini memanfaatkan mekanisme gut–brain axis, yaitu jalur komunikasi dua arah yang menghubungkan mikrobiota usus dengan fungsi dan kesehatan sistem saraf pusat. Di dalam kolon, RS5-katekin dapat mengalami fermentasi oleh mikrobiota usus dan menghasilkan Short-Chain Fatty Acids (SCFA), terutama asetat, propionat, dan butirat. Metabolit tersebut berpotensi memberikan efek neuroprotektif melalui modulasi respon inflamasi dan fungsi metabolik, sehingga dapat berkontribusi dalam mengurangi neuroinflamasi yang berkaitan dengan patogenesis penyakit Alzheimer, termasuk proses yang berhubungan dengan akumulasi β-amiloid di otak.
Dari Limbah Lokal Menuju Kontribusi Global
Penelitian yang dilakukan oleh Febi Febianti bersama tim yang terdiri atas Habibi Yudhistira, Dzaky Kurniawan, Winia Novita Lestaria, dan Atika Yudistira mengusung pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber bahan fungsional yang berpotensi memiliki nilai terapeutik. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai guna biji ketapang yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, sekaligus membuka peluang pengembangannya sebagai kandidat bahan fungsional dalam pendekatan preventif dan terapeutik terhadap penyakit Alzheimer. Hasil penelitian ini direncanakan untuk dipublikasikan dalam International Journal of Natural Medicine serta informasinya disebarkan melalui akun Instagram @CataCogni.pkmre.
Biji ketapang yang selama ini kerap dipandang sebagai limbah ternyata memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber bahan fungsional yang bernilai kesehatan. Pemanfaatan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu langkah awal dalam pendekatan pengembangan terhadap penyakit Alzheimer yang lebih terjangkau, berkelanjutan, serta berbasis pada keanekaragaman potensi hayati Indonesia.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
