Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Frila Wahyuni Muliyasari

Mindfulness: Sikap yang Menjauhkan Diri dari Kepedulian Sosial dan Dakwah?

Agama | 2026-09-24 16:18:24
Storage.nu.co.id

Indonesia belakangan ini banyak memperbincangkan istilah 'mindfulness' setelah aktris sekaligus penerima penghargaan LPDP Maudy Ayunda mengunggah video kotor di akun YouTube pribadinya. Video tersebutbertajuk 'Kewaspadaan di Era Berita Buruk'. Dalam video tersebut, Maudy membahaspentingnya menjaga kesadaran dan kesehatan pikiran di tengah banyaknya berita buruk yang kita terima setiap hari, perlunyapembatasan konsumsi berita, serta memberi diri sendiri waktu untuk berhenti sejenak dari informasi negatif. Namun, apakah mindfulness dapat membuat kita menjauh dari kepedulian sosial dan dakwah?

Menurut Kabat-Zinn, Profesor di University of Massachusetts Medical School, mindfulnessdidefinisikan sebagai kesadaran yang muncul dengan memberikan perhatian secara sengaja pada pengalaman yang sedang berlangsung saat ini, tanpa memberikan penilaian terhadap pengalaman tersebut.Sederhananya, mindfulness sadar dan benar-benar berarti memperhatikan apa yang sedang terjadi saat ini tanpa memancarkan emosi negatif setiap saat dalam menyampaikan suatu berita.Jika suatu berita buruk membuat seseorang marah pada semua oknum yang terlibat dalam berita tersebut, mindfulness diibaratkan sebagai tembok yang negatif yang tidak perlu sehingga seseorang tersebut dapat melihat akar permasalahan tanpa terbutakan oleh emosi pada saat itu.

Bagaimana dengan pandangan Islam? Apakah ada konsep yang menyerupai mindfulness dalam Islam? Jawabannya adalah ya. Dalam Islam, kita mengenal sebuah istilah bernama muraqabah.Dalam Ihya' 'Ulum al-Din, Al-Ghazali memaknai muraqabah sebagai perhatian hati yang terus-menerus terhadap pengetahuan bahwa Allah mengetahui seluruh keadaan seorang hamba.Namun, muraqabah tidak serta merta dapat disamakan dengan mindfulness. Keduanya merupakan istilah yang berbeda, namun saling berkaitan pada aspek kesadaran (awareness). Contohnya, ketika kita memperoleh sebuah berita buruk, dengan kewaspadaan kita menyadari, “berita ini menakutkan.sepertinya perlu berhenti sejenak untuk mempengaruhi lebih dalam, bukan untuk menghakimi oknum yang bersangkutan.” Sedangkan dengan muraqabah kita bisa berpikir, “Allah mahamengetahui apa yang terjadi. Saya perlu mengendalikan responsku agar tetap seirama dengan nilai-nilai yang Allah ajarkan.” Muraqabah memiliki dimensi teologis/spiritual yang tidak menjadi dasar utama mindfulnessyang berasal dari paham sekuler.

Lalu, dapatkah disimpulkan bahwa mindfulness bukanlah penghalang untuk melanjutkan dakwah? Sayangnya, istilah mindfulness berkaitan erat dengan paham sekulerisme, yaitu paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Artinya, nilai-nilai agama tidak boleh tercampur baur dalam kehidupan sehari-hari kita, bahkan dalam konteks pengambilan keputusan di tingkat negara. Sementara itu, mindfulness sekuler berusaha mengambil praktik kesadaran dan perhatian tanpa harus memasukkan keyakinan atau doktrin keagamaan.

Padahal, dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat 208, Allah berirman,

ﻳٰٓﺎَﻴُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻴْﻨَ ﺍٰﻤَﻨُﻮﺍ ﺍﺩْﺨُﻠُﻮْﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴِّﻠْﻤِ ﻛَﺎۤﻔَّﺔًۖ ﻭَّﻠَﺎ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮْﺎ ﺧُﻄُﻮٰﺘِ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄٰﻨِۗ ﺍِﻨَّﻬٗ ﻟَﻜُﻤْ ﻋَﺪُﻮٌّ ﻣُّﺒِﻴْﻨٌ

"Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu."

Ayat tersebut menjadi perintah dasar untuk jangan mencampuradukkan paham sekulerisme dengan paham Islam. Mindfulness yang berasal dari paham sekulerisme bisa jadi mereduksi tujuan kita dari yang awalnya 'menjalankan nilai-nilai yang Allah ajarkan' menjadi sekedar 'kepedulian sosial' atau 'ketenangan mental'.

Kesimpulannya, konsep mindfulness pada dasarnya tidak membuat seseorang menjauh dari kepedulian sosial, selama tidak disalahpahami sebagai sikap menghindari segala sesuatu yang membuat tidak nyaman. Justru, kesadaran terhadap kondisi diri dapat membantu seseorang mengelola respon terhadap berbagai informasi dan masalah sosial secara lebih tenang. Namun, mindfulness modern, khususnya yang dikembangkan dalam pendekatan sekuler, memiliki landasan yang berbeda dengan konsep kesadaran dalam Islam. Berbeda dengan muraqabah yang berangkat dari kesadaran bahwa Allah senantiasa mengetahui dan mengawasi manusia, kesadaran sekuler pada umumnya tidak menjadikan hubungan dengan Allah sebagai landasan utama. Oleh karena itu, mindfulness tidak dapat begitu saja dijadikan pengganti dimensi spiritual dalam dakwah. Jika diterapkan tanpa kerangka nilai Islam, terdapat risiko bahwa perhatian terhadap kesehatan dan ketenangan diri lebih ditekankan daripada kesadaran akan kewajiban seorang Muslim kepada Allah dan tanggung jawabnya terhadap masyarakat. Dengan demikian, mindfulness berpotensi menjauhkan seseorang dari dakwah jika dipahami dan diterapkan dalam kerangka sekuler yang mengesampingkan dimensi spiritual dan tanggung jawab seorang Muslim kepada Allah.

Penulis : Falihah Ulil Karimah

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image