Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Tonny Rivani

Eksodus Digital Remaja, Tren Baru di Tengah Dominasi Media Sosial

Gaya Hidup | 2026-06-14 10:50:30
Foto Ilustrasi Remaja dari Prefik.

OPINI – Disaat Kemajuan Teknologi dan di tengah derasnya arus digitalisasi dan dominasi media sosial dalam kehidupan sehari-hari, muncul fenomena yang menarik perhatian: sebagian remaja mulai memilih menjauh dari platform digital. Fenomena yang kerap disebut sebagai "eksodus digital" ini ditandai dengan berkurangnya penggunaan media sosial, menonaktifkan akun tertentu, hingga menjalani periode detoks digital untuk menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup.

Selama lebih dari satu dekade, media sosial menjadi ruang utama bagi remaja untuk berkomunikasi, berekspresi, dan membangun identitas diri. Namun, semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan juga membawa konsekuensi psikologis, seperti kecemasan, stres, gangguan tidur, hingga rendahnya kepercayaan diri akibat budaya perbandingan sosial.

Psikolog sosial Jonathan Haidt, penulis buku The Anxious Generation, menilai bahwa masa remaja merupakan fase yang sangat rentan terhadap pengaruh lingkungan digital. Menurutnya, penggunaan ponsel pintar dan media sosial secara masif telah berkontribusi pada meningkatnya masalah kesehatan mental di kalangan generasi muda.

"Kita telah mengalihkan masa kanak-kanak dari dunia nyata ke dunia yang berbasis ponsel, dan konsekuensinya sangat besar terhadap perkembangan sosial dan emosional mereka," tulis Haidt dalam berbagai kajiannya mengenai dampak teknologi terhadap generasi muda.

Pandangan serupa disampaikan Profesor Jean Twenge, psikolog dari San Diego State University yang banyak meneliti hubungan antara generasi muda dan teknologi digital. Dalam penelitiannya, Twenge menemukan bahwa generasi yang tumbuh bersama media sosial menunjukkan tingkat kesepian dan kecemasan yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Menurut Twenge, media sosial bukanlah penyebab tunggal berbagai persoalan psikologis remaja, tetapi penggunaan yang berlebihan dapat memperburuk kondisi tersebut. Karena itu, semakin banyak remaja mulai menyadari pentingnya membatasi interaksi digital demi menjaga keseimbangan hidup.

Eksodus digital juga menunjukkan adanya perubahan cara pandang generasi muda terhadap teknologi. Jika sebelumnya kehadiran di media sosial dianggap sebagai kebutuhan mutlak, kini sebagian remaja mulai memandang keterhubungan digital secara lebih kritis. Mereka mencari ruang untuk berinteraksi secara langsung, mengembangkan hobi, berolahraga, atau sekadar menikmati waktu tanpa tekanan notifikasi dan algoritma.

Sosiolog asal Amerika Serikat, Sherry Turkle dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), telah lama mengingatkan bahwa teknologi yang seharusnya mendekatkan manusia justru dapat menciptakan jarak emosional. Dalam bukunya Alone Together, Turkle menyebut bahwa manusia modern semakin "terhubung" secara digital, tetapi tidak selalu merasa lebih dekat secara sosial.

Fenomena eksodus digital pada akhirnya bukanlah bentuk penolakan terhadap teknologi. Sebaliknya, tren ini dapat dipahami sebagai upaya remaja untuk mengembalikan kendali atas penggunaan teknologi dalam kehidupan mereka. Media sosial tetap memiliki manfaat besar sebagai sarana informasi, pendidikan, dan komunikasi. Namun, remaja kini mulai menyadari bahwa kesehatan mental, kualitas relasi sosial, dan keseimbangan hidup tidak boleh dikorbankan demi keterhubungan yang berlangsung tanpa henti.

Eksodus digital mungkin belum menjadi gerakan massal, tetapi kemunculannya memberi sinyal penting bahwa generasi muda sedang mencari cara yang lebih sehat dalam berinteraksi dengan teknologi. Di tengah dominasi media sosial yang semakin kuat, keberanian untuk sesekali "keluar dari layar" justru menjadi bentuk kedewasaan baru dalam menghadapi era digital.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image