Mengapa Sesama Muslim Mudah Bertengkar di Ruang Digital?
Agama | 2026-08-16 09:54:24Mengapa Sesama Muslim Mudah Bertengkar di Ruang Digital?
Hari ini, di layar telepon yang hanya selebar telapak tangan, kita dapat menyaksikan dua wajah keberagamaan sekaligus. Di satu sisi, media sosial dipenuhi ceramah, kutipan Al-Qur’an, kajian keislaman, dan ajakan berbuat baik. Di sisi lain, kolom komentar dari konten-konten keagamaan yang sama tidak jarang berubah menjadi arena pertengkaran. Sesama Muslim saling menyindir, merendahkan, memberi label, bahkan mempermalukan satu sama lain hanya karena berbeda pandangan keagamaan, organisasi, guru, atau pilihan sosial-politik.
Fenomena ini semakin penting dibicarakan karena kehidupan masyarakat Indonesia semakin terkoneksi dengan internet. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026 menunjukkan penetrasi internet Indonesia telah mencapai 81,72 persen. Artinya, ruang digital bukan lagi ruang tambahan dalam kehidupan sosial. Ia telah menjadi salah satu ruang utama tempat masyarakat berkomunikasi, belajar, membentuk pandangan, termasuk memahami dan memperdebatkan agama.
Di sinilah persoalannya. Masalah umat Islam di ruang digital sesungguhnya bukan karena kita memiliki terlalu banyak perbedaan, namun karena kita belum selalu berhasil membawa adab dalam mengelola perbedaan itu ke dalam budaya komunikasi digital. Kita memiliki tradisi ikhtilaf yang sangat kaya, tetapi memasuki ruang digital yang bekerja dengan logika berbeda, seperti: serba cepat, pendek, emosional, dan berebut perhatian.
Perbedaan itu sendiri bukan sesuatu yang asing dalam Islam. Para ulama telah berbeda pendapat sejak berabad-abad lalu dalam persoalan fikih, tafsir, hadis, politik, hingga masalah sosial. Perbedaan dapat lahir dari metode memahami dalil, perbedaan konteks, guru, mazhab, atau pertimbangan kemaslahatan. Karena itu, keberadaan perbedaan tidak otomatis menunjukkan rusaknya persaudaraan.
Lalau, yang menjadi masalah adalah ketika ikhtilaf berubah menjadi permusuhan.
Di ruang digital, perubahan itu dapat berlangsung sangat cepat. Seseorang menulis pendapat. Orang lain membalas. Balasan berikutnya semakin keras. Tak lama kemudian, pembahasan tidak lagi mengenai substansi persoalan, tetapi mulai mempertanyakan kecerdasan, keilmuan, organisasi, bahkan kualitas keberagamaan orang yang berbeda pandangan.
Kita akhirnya tidak lagi menguji “apa yang dikatakan”, tetapi menyerang “siapa yang mengatakan”.
Ketika Emosi Lebih Cepat daripada Ilmu
Sadar atau tidak, tampaknya teknologi ikut membentuk cara kita berkomunikasi. Media sosial memberi kesempatan kepada hampir semua orang untuk berbicara kepada publik, tetapi tidak selalu memberi waktu yang sama panjang untuk berpikir sebelum berbicara.
Orang dapat berkomentar hanya dalam beberapa detik. Membagikan potongan ceramah hanya dengan satu sentuhan. Memberi penilaian kepada seorang tokoh hanya berdasarkan video berdurasi satu menit. Akibatnya, kecepatan bereaksi sering mengalahkan kesabaran memahami konteks.
Penelitian William Brady dan koleganya yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa bahasa yang membawa muatan moral sekaligus emosional memiliki kecenderungan menyebar lebih luas dalam jejaring sosial. Temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa kemarahan, kecaman, dan kontroversi sering mendapatkan perhatian jauh lebih besar daripada penjelasan yang tenang dan panjang.
Dalam situasi seperti itu, banyak orang mudah terjebak dalam ilusi bahwa sesuatu yang paling ramai adalah sesuatu yang paling benar. Padahal, viralitas bukanlah ukuran kebenaran.
Kajian Martin Slama serta Dindin Solahudin dan Moch Fakhruroji juga menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian penting dari praktik keberagamaan Muslim Indonesia. Di dalamnya berlangsung pembelajaran Islam sekaligus pembentukan otoritas keagamaan baru. Perubahan ini membawa manfaat besar karena pengetahuan agama menjadi semakin mudah diakses. Namun, demokratisasi komunikasi juga membawa konsekuensi, bahwa: batas antara orang yang mengetahui persoalan secara mendalam dan orang yang baru membaca sepotong informasi menjadi semakin kabur.
Semua orang dapat berbicara, tetapi, tidak semua orang mempunyai kedalaman pengetahuan yang sama.
Itulah sebabnya ruang komentar sebuah persoalan agama kadang mempertemukan orang awam, pendakwah, akademisi, aktivis organisasi, dan pengguna anonim dalam satu arena yang sama. Mereka datang dengan kadar pengetahuan, kepentingan, pengalaman, dan emosi yang berbeda-beda.
Ketika Pendapat Menjadi Harga Diri
Ada persoalan lain yang lebih mendasar, yaitu: Banyak orang sering gagal memisahkan pendapat dari harga diri.
Ketika seseorang mengkritik pendapat keagamaan yang kita yakini, kita merasa diri kita yang sedang diserang. Ketika organisasi kita dikritik, seolah kehormatan pribadi ikut direndahkan. Ketika tokoh yang kita kagumi dipersoalkan, kita merasa wajib melakukan pembelaan dalam bentuk apa pun.
Pada titik inilah diskusi berubah menjadi pertarungan identitas. Kita tidak lagi datang untuk mencari mana argumentasi yang lebih kuat, tetapi untuk memastikan kelompok sendiri memenangkan perdebatan. Data dicari untuk membenarkan posisi yang telah dipilih. Dalil digunakan sebagai peluru. Kekurangan pihak lain dibesar-besarkan, sementara kekurangan kelompok sendiri diabaikan.
Padahal, membela kebenaran tidak identik dengan memenangkan pertengkaran. Kebenaran tidak menjadi lebih benar karena disampaikan dengan hinaan. Argumen tidak menjadi lebih kuat karena disertai ejekan. Bahkan, bukankah ilmu dapat kehilangan kewibawaannya ketika disampaikan dengan kesombongan?
Hal ini menjadi semakin serius ketika pertengkaran tersebut dilakukan oleh agamawan, akademisi, atau orang-orang yang dipandang mempunyai otoritas ilmu. Masyarakat bukan hanya mendengar apa yang mereka katakan, tetapi juga belajar bagaimana mereka memperlakukan orang yang berbeda.
Jika orang berilmu saling mencaci, masyarakat dapat menganggap cacian sebagai bagian yang wajar dari perdebatan. Jika pendakwah gemar mempermalukan lawan pandangannya, pengikutnya dapat belajar bahwa membela agama berarti menghancurkan kehormatan orang lain. Padahal, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar pula tanggung jawabnya menjaga adab.
Menghidupkan Kembali Adab Ikhtilaf
Al-Qur’an memberikan fondasi yang sangat jelas untuk membangun etika tersebut. Allah mengingatkan bahwa orang-orang beriman adalah bersaudara dan memerintahkan ishlah ketika terjadi perselisihan (QS Al-Hujurat: 10).
Menariknya, setelah berbicara mengenai persaudaraan, Surah Al-Hujurat kemudian melarang perilaku yang justru sangat sering muncul dalam pertengkaran digital, yaitu: saling memperolok, mencela, memberi gelar buruk, berprasangka, mencari-cari kesalahan, dan menggunjing.
Seolah ada pesan moral yang sangat relevan bagi zaman media sosial saat ini, bahwa: persaudaraan tidak cukup diucapkan, tetapi harus dibuktikan melalui cara kita memperlakukan kehormatan orang lain. Karena itu, yang kita perlukan bukan budaya tanpa perbedaan, sebab itu mustahil dan juga tidak sehat. Yang kita perlukan adalah budaya berbeda pendapat tanpa kehilangan persaudaraan.
Setidaknya ada beberapa disiplin yang perlu dihidupkan. Sebelum membagikan informasi, periksa kebenarannya. Sebelum mengomentari pendapat seseorang, pahami konteksnya. Sebelum membantah, bedakan antara mengkritik argumentasi dan menyerang pribadi. Jika tidak mengetahui persoalan dengan baik, beranilah mengatakan tidak tahu. Dan jika perdebatan hanya menghasilkan kemarahan tanpa tambahan pengetahuan, beranilah berhenti.
Bagi agamawan dan akademisi, tanggung jawabnya bahkan lebih besar. Ruang digital membutuhkan teladan intelektual yang menunjukkan bahwa ketegasan dapat berjalan bersama kesantunan. Pendapat yang dianggap keliru tetap dapat dibantah secara terang, tetapi bantahlah dalilnya, datanya, logikanya, atau metodologinya. Tidak perlu menghancurkan harga diri orang pemilik pendapat itu.
Tidak semua perbedaan harus diselesaikan dengan kemenangan salah satu pihak. Ada perbedaan yang cukup dijelaskan. Ada yang perlu didialogkan. Ada pula yang memang harus diterima sebagai wilayah ikhtilaf.
Umat Islam mempunyai terlalu banyak pekerjaan besar untuk menghabiskan energi pada pertengkaran yang tidak produktif. Kemiskinan, pendidikan, ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan, kualitas keluarga, perkembangan teknologi, hingga tantangan generasi muda membutuhkan kontribusi intelektual dan sosial umat.
Energi umat jauh lebih berharga apabila digunakan untuk berlomba menciptakan sekolah yang baik, menguatkan ekonomi masyarakat, menghasilkan ilmu pengetahuan, membantu kaum lemah, dan membangun peradaban daripada sekadar memenangkan perang komentar. Oleh karena itu, sebelum menulis komentar berikutnya, kita perlu mengajukan pertanyaan sederhana kepada diri sendiri: apakah yang sedang saya bela benar-benar kebenaran, atau sebenarnya hanya ego yang tidak mau kalah?
Sesama Muslim boleh berbeda mazhab, organisasi, guru, dan pandangan sosial. Namun, jangan sampai algoritma membuat kita lupa bahwa di balik nama akun yang sedang kita lawan terdapat manusia yang kehormatannya wajib dijaga.
Ruang digital seharusnya tidak mengubah saudara menjadi musuh. Justru di sanalah kualitas keberagamaan kita mendapat ujian baru: apakah ilmu yang kita miliki mampu menjaga lisan—dan jempol—ketika menghadapi orang yang berbeda.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
