Siapa Sebenarnya Produsen Informasi Saat In?
Teknologi | 2026-08-11 15:40:25
Dulu, dunia informasi punya peta yang jelas: ada wartawan yang menulis, ada redaksi yang menyunting, dan ada kita, pembaca, yang duduk manis menerima. Sekarang petanya sudah kusut.
Seorang ibu rumah tangga yang mengunggah video masak di reels bisa tiba-tiba jadi rujukan resep jutaan orang. Seorang mahasiswa yang merekam kemacetan lalu lintas dari jendela angkot bisa lebih cepat "memberitakan" kejadian itu daripada televisi nasional. Kita tidak lagi sekadar mengonsumsi informasi kita ikut memproduksinya, sadar atau tidak.
Fenomena ini bukan sekadar tren teknologi yang lewat begitu saja. Ia menandai pergeseran cara berpikir kita tentang siapa yang berhak "berbicara" di ruang publik, dan siapa yang berhak dipercaya. Tiga sub-tema berikut mencoba membedah bagaimana pergeseran itu terjadi dalam keseharian kita.
Dari Penonton Menjadi "Produser": Lahirnya Peran Hibrida
Istilah yang paling pas untuk menggambarkan situasi ini datang dari akademisi media asal Australia, Axel Bruns, yang memperkenalkan konsep produser gabungan dari producer (produsen) dan user (pengguna).
Bruns menjelaskan bahwa dalam proyek-proyek kolaboratif seperti Wikipedia atau situs berita warga, pengguna terlibat dalam proses berkelanjutan membangun dan menyempurnakan konten yang sudah ada, bukan sekadar mengonsumsinya secara pasif. Menariknya, keterlibatan ini kadang terjadi tanpa disadari penggunanya sendiri misalnya ketika kebiasaan belanja kita di marketplace ikut membentuk rekomendasi produk untuk orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, contohnya bertebaran di mana-mana. Ulasan bintang lima yang kita tulis setelah membeli sepatu di aplikasi belanja online, video "review jujur" skincare yang kita unggah di media sosial, bahkan sekadar membalas cuitan dengan opini pribadi semua itu adalah bentuk kecil dari produsage. Kita tidak menyadari bahwa setiap kali mengetik komentar panjang di kolom diskusi berita, kita sesungguhnya sedang ikut menyusun narasi publik, bukan lagi cuma menerimanya.
Budaya Partisipatif, Ketika Kerumunan Ikut Menulis Cerita
Peneliti media asal Amerika, Henry Jenkins, menawarkan istilah yang tak kalah relevan, budaya partisipatif. Ia menggambarkan bagaimana media baru mendorong khalayak untuk tidak sekadar menonton, tetapi ikut menciptakan, mendiskusikan, dan menyebarluaskan konten bersama-sama, sehingga batas antara industri media dan komunitas penggemarnya menjadi kabur. Konsep ini menjelaskan mengapa sebuah cerita bisa "hidup" jauh melampaui niat awal pembuatnya.
Lihat saja bagaimana sebuah lagu daerah bisa mendadak viral karena remix buatan warganet, atau bagaimana sebuah isu sosial bisa menggelinding besar hanya karena ribuan orang ikut membuat konten dengan tagar yang sama mulai dari testimoni pribadi, meme, sampai infografis buatan sendiri.
Grup keluarga di WhatsApp pun menjadi mikrokosmos budaya partisipatif ini satu artikel yang dibagikan Om atau Tante bisa berubah bentuk, ditambahi opini, bahkan diedit ulang sebelum diteruskan lagi ke grup lain. Kita semua, tanpa gelar jurnalistik apa pun, ikut menjadi bagian dari mesin penyebaran cerita itu untuk yang baik maupun yang keliru.
Ketika Algoritma Ikut Menentukan Siapa yang Didengar
Namun ada satu hal yang sering luput dari perayaan kita atas kebebasan berkarya ini siapa sebenarnya yang mengatur panggungnya. Peneliti media digital asal Belanda, José van Dijck, mengingatkan bahwa platform-platform yang kita pakai sehari-hari bukan sekadar wadah netral.
Ia menekankan pergeseran dari sekadar keterhubungan (connectedness) antarpengguna menuju konektivitas yang direkayasa dan dikelola secara otomatis oleh sistem, yang pada akhirnya berubah menjadi model bisnis tersendiri. Dengan kata lain, algoritma-lah yang diam-diam menentukan video mana yang muncul di beranda kita, dan opini siapa yang terasa "lebih benar" karena lebih sering muncul.
Efeknya terasa nyata video hoaks tentang bencana alam bisa lebih cepat viral dibanding klarifikasi resmi dari BMKG, hanya karena kontennya lebih dramatis dan disukai algoritma.
Ulasan negatif satu pelanggan yang emosional bisa lebih menentukan reputasi sebuah warung makan kecil dibanding seratus pelanggan puas yang memilih diam. Di sinilah letak ironi produser modern, kita merasa punya suara yang setara, padahal ada mesin di baliknya yang menentukan suara siapa yang lebih didengar.
Kebebasan yang Menuntut Tanggung Jawab Baru
Hilangnya batas antara produsen dan konsumen informasi memang membawa udara segar siapa pun kini bisa bersuara, berkarya, dan mengoreksi narasi yang timpang. Tapi kebebasan ini datang dengan tanggung jawab yang dulu hanya dipikul segelintir jurnalis dan editor kini dipikul oleh kita semua, setiap kali jari menekan tombol "bagikan".
Menjadi produser informasi bukan cuma soal punya kesempatan untuk bicara, tetapi juga soal kesediaan memverifikasi sebelum menyebar, dan menyadari bahwa layar yang kita pegang bukan cermin netral, melainkan panggung yang diam-diam sudah diatur pencahayaannya.
Agus Budiana : jurnalis, penulis dan pemerhati komunikasi digital. Karyanya dimuat di berbagai plaform media nasional dan mengangkat isu jurnalisme, media, AI, literasi digital, serta dinamika masyarakat informasi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
