Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Rahmadani septa dya ulhaq

Sri dan Overthinking yang Tak Pernah Usai

Dunia sastra | 2026-06-10 20:55:23

Belakangan ini istilah overthinking semakin sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang mengaku sulit mengambil keputusan karena terlalu banyak mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Tidak sedikit pula yang terjebak dalam hubungan yang membuat mereka terus bertanya-tanya tentang kebahagiaan, cinta, dan masa depan.

Menariknya, fenomena tersebut sebenarnya sudah tergambar dalam novel Pada Sebuah Kapal karya Nh. Dini yang terbit puluhan tahun lalu. Melalui tokoh Sri, Nh. Dini menghadirkan sosok perempuan yang cerdas, mandiri, tetapi juga menyimpan pergulatan batin yang begitu dalam. Apa yang dirasakan Sri pada masanya ternyata masih relevan dengan kehidupan banyak perempuan saat ini.

Sejak awal cerita, Sri digambarkan sebagai pribadi yang sensitif dan penuh perasaan. Ia bukan tipe orang yang menjalani hidup secara spontan tanpa pertimbangan. Sebaliknya, Sri selalu memikirkan banyak hal secara mendalam, termasuk tentang pendidikan, pekerjaan, dan hubungan percintaan.

Karakter tersebut terlihat dari kesungguhannya dalam menekuni seni tari.

“Sejak hari itu aku merasa ayahku menaruh perhatian yang tersendiri mengenai tingkatan-tingkatan pelajaran tariku. Setiap aku pulang menari, dia bertanya apakah gerak baru yang kupelajari hari itu...”

(Dini, 2018, hlm. 15)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Sri tumbuh sebagai pribadi yang tekun dan berdedikasi. Ia tidak menjalani sesuatu setengah-setengah. Ketika menekuni seni tari, ia melakukannya dengan serius. Karakter seperti ini masih banyak ditemukan pada generasi muda saat ini yang berusaha mengejar impian dan mengembangkan kemampuan diri.

Namun, di balik ketekunannya, Sri juga memiliki sisi yang membuatnya rentan terhadap tekanan batin. Ia dikenal sebagai sosok yang pendiam dan lebih nyaman menyimpan perasaannya sendiri.

Hal ini tergambar dalam kutipan berikut.

“Sri masih seperti dulu. Tidak banyak bersuara. Biasanya berbicara dengan kucing, dengan ayam atau tanamannya di kebun muka itu.”

(Dini, 2018, hlm. 18)

Di era media sosial, banyak orang tampak bahagia dan aktif di dunia digital, tetapi sebenarnya menyimpan kesepian yang tidak diketahui orang lain. Kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan Sri yang sering memendam persoalan dalam dirinya sendiri.

Sri juga menyadari bahwa dirinya berbeda dari orang-orang di sekitarnya.

“Aku selalu mengaguminya di sekolah, padanya tidak kudapati sifat malu yang berlebih-lebihan seperti yang kumiliki.”

(Dini, 2018, hlm. 21)

Perasaan minder dan kurang percaya diri seperti yang dialami Sri masih menjadi masalah yang banyak dibahas saat ini. Tekanan untuk tampil sempurna sering membuat seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain hingga kehilangan rasa percaya diri.

Pergulatan terbesar Sri muncul ketika ia berhadapan dengan persoalan cinta dan pernikahan. Ia menginginkan kasih sayang yang tulus, tetapi kenyataan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Situasi inilah yang membuat Sri terus mempertanyakan kehidupannya.

Pergulatan tersebut tampak dalam kutipan berikut.

“Memang ini agak benar. Aku terlalu memikirkan diri sendiri, karena orang yang kuharapkan lindungan dan kelembutannya telah begitu mengabaikanku.”

(Dini, 2018, hlm. 192)

Kalimat tersebut terasa sangat dekat dengan realitas masa kini. Banyak orang bertahan dalam hubungan yang tidak lagi memberi kebahagiaan karena terjebak antara cinta, tanggung jawab, dan harapan yang belum terwujud. Mereka terus berpikir, mempertimbangkan, dan meragukan keputusan yang harus diambil.

Melalui Sri, Nh. Dini menunjukkan bahwa menjadi perempuan yang kuat bukan berarti tidak memiliki luka. Justru di balik ketegaran sering tersimpan kebingungan, kesedihan, dan kerinduan untuk dipahami oleh orang lain.

Inilah yang membuat tokoh Sri tetap relevan hingga sekarang. Ia bukan sosok perempuan sempurna tanpa masalah. Ia adalah manusia biasa yang berusaha mencari kebahagiaan di tengah berbagai tuntutan hidup. Karena itulah pembaca modern masih dapat menemukan dirinya dalam karakter Sri.

Novel Pada Sebuah Kapal akhirnya tidak hanya menjadi kisah cinta biasa, tetapi juga potret tentang pergulatan batin yang masih dialami banyak orang hingga hari ini. Di tengah maraknya pembahasan tentang kesehatan mental, hubungan yang sehat, dan pencarian jati diri, kisah Sri mengingatkan bahwa perasaan manusia ternyata tidak banyak berubah meskipun zaman terus berganti.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image