Yang Muda Datang dan Membawa Pulang Lebih dari Kenangan
Lifestyle | 2026-06-16 21:00:54Beberapa tahun terakhir, wajah pendakian gunung di Indonesia mulai berubah. Jalur-jalur yang dulu hanya diisi oleh kelompok pecinta alam kini semakin ramai dengan para remaja. Bukan hanya mereka yang terlatih, tetapi juga mereka yang baru pertama kali datang dan mencari pengalaman baru. Kini, mendaki bukan sekadar aktivitas petualangan, ia telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup, cara mencari ketenangan, sekaligus bentuk ekspresi diri.
Hiking, aktivitas berjalan kaki menyusuri jalur alam terbuka, kini menjadi kegiatan yang banyak dipilih remaja untuk keluar sejenak dari tekanan akademis dan rutinitas di depan layar. Di alam, tidak ada notifikasi atau tenggat waktu, pikiran lebih tenang, dan itu yang banyak dicari.
Selain soal ketenangan, mendaki juga menawarkan tantangan tersendiri. Perjalanan menyusuri jalur yang berat melatih kekuatan otot, stamina, dan daya tahan tubuh secara bersamaan. Ketika sampai di puncak, timbul rasa pencapaian yang nyata dan bisa dirasakan secara langsung. Banyak remaja yang merasa kepercayaan dirinya bertumbuh dari pengalaman ini.
Faktor sosial juga berperan. Mendaki bersama teman atau komunitas mendorong komunikasi dan kerja sama yang lebih nyata dari interaksi sehari-hari. Ketika satu orang kelelahan di tengah jalur, yang lain berhenti dan menunggu. Kondisi ini akan membangun rasa saling peduli. Tidak sedikit juga yang mengatakan, cara mereka memandang prioritas dan masalah sehari-hari ikut berubah setelah mendaki.
Selain itu, yang menjadi alasan tren pendakian di kalangan remaja adalah pengaruh media sosial. Konten foto dari puncak, video perjalanan, dokumentasi trek pendakian, selalu mendapat respons yang baik di Instagram dan TikTok. Ini mendorong lebih banyak remaja yang tertarik untuk mencoba, sekaligus membangun pandangan terhadap tren pendakian sebagai aktivitas yang layak untuk dibagikan, bukan hanya dirasakan sendiri.
Gunung-gunung seperti Merbabu, Lawu, Panderman, Semeru, dan lainnya ramai dikunjungi pendaki berusia belasan hingga awal dua puluhan, terutama di musim liburan. Sebagian besar datang secara berkelompok, ada yang sudah berpengalaman, ada pula yang baru pertama kali mendaki. Namun di balik antusiasme itu, ada risiko yang perlu disadari. Fenomena FOMO (fear of missing out) mendorong sebagian remaja mendaki tanpa persiapan yang cukup, tanpa kondisi fisik yang memadai, tanpa perlengkapan yang sesuai, bahkan tanpa memahami jalur yang akan ditempuh.
Karena itu, keselamatan bukan hal yang bisa dikesampingkan. Setiap kawasan pendakian resmi memiliki aturan yang wajib dipatuhi, seperti mendaftar di pos resmi, tidak meninggalkan sampah, tidak memetik atau merusak tanaman, dan tetap berada di jalur yang sudah ditentukan. Pengetahuan dasar pertolongan pertama juga perlu dimiliki oleh setiap pendaki, minimal untuk mengenali gejala hipotermia, kelelahan ekstrem, atau cedera ringan sebelum bantuan tiba. Di jalur yang jauh dari akses komunikasi, kemampuan ini bisa menjadi penentu. Etika terhadap sesama pendaki juga sama pentingnya, memberi ruang, tidak membuat kebisingan, dan saling menjaga adalah bagian dari budaya mendaki yang baik.
Tren mendaki di kalangan remaja menunjukkan bahwa generasi muda saat ini aktif mencari pengalaman yang lebih bermakna dari sekadar hiburan biasa. Namun antusiasme itu perlu diimbangi dengan kesiapan fisik, pengetahuan, dan perlengkapan. Jika keduanya berjalan beriringan, mendaki bisa lebih dari sekadar tren, menjadi gaya hidup yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Tentang Penulis:
Zidna Aisy Syareefah adalah mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Airlangga angkatan 2025 dengan fokus pada komunikasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Bidang yang ditekuni mencakup public relations, advokasi lingkungan, dan edukasi sosial. Ketertarikan keilmuannya tertuju pada hal-hal yang menghubungkan ilmu lingkungan dengan aksi nyata di masyarakat, khususnya melalui kampanye dan kegiatan relawan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
