Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fiona Athiyya Nabilah

Pada Sebuah Kapal dan Kesepian yang Dipendam Perempuan

Sastra | 2026-06-10 07:25:52


Ada banyak perempuan yang terlihat baik-baik saja dari luar. Mereka tetap tersenyum, menjalani peran sebagai istri, berbicara dengan tenang di hadapan orang lain, bahkan tampak memiliki kehidupan yang sempurna. Namun diam-diam, mereka merasa asing terhadap hidup yang sedang dijalani. Barangkali perasaan itulah yang paling kuat terasa ketika membaca novel Pada Sebuah Kapal karya Nh. Dini.

Novel ini tidak menghadirkan kisah cinta yang manis seperti kebanyakan cerita romantis. Tidak ada hubungan yang penuh bunga-bunga atau tokoh laki-laki sempurna yang selalu tahu cara membahagiakan pasangannya. Sebaliknya, Pada Sebuah Kapal justru berbicara tentang kesepian, tentang perempuan yang perlahan merasa asing terhadap hidup yang sedang dijalaninya sendiri.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Sri, perempuan Indonesia yang menikah dengan pria berkebangsaan asing bernama Charles Vincent. Jika dilihat sekilas, hidup Sri tampak seperti kehidupan yang diimpikan banyak orang. Ia hidup berkecukupan, bepergian ke berbagai tempat, dan menjalani kehidupan yang terlihat mapan. Namun di balik semua itu, Sri justru merasa kosong

Ia hidup bersama seseorang, tetapi tetap merasa sendirian.

Di situlah kekuatan terbesar novel ini. Kesepian dalam Pada Sebuah Kapal tidak hadir dengan cara yang meledak-ledak. Tidak ada pertengkaran besar setiap waktu. Tidak ada adegan dramatis berlebihan. Namun justru karena itulah kesepian Sri terasa nyata. Ia hadir perlahan, diam-diam, lalu menetap dalam kehidupan sehari-hari.

Membaca novel ini seperti mendengarkan seseorang yang terlalu lama memendam perasaannya sendiri.

Sri bukan perempuan yang gemar memberontak atau melawan dengan suara keras. Ia justru banyak diam. Ia mencoba memahami keadaan, mencoba bertahan, dan tetap menjalani hidup seperti biasa. Akan tetapi, semakin jauh cerita berjalan, pembaca mulai sadar bahwa diamnya Sri bukan berarti ia baik-baik saja.

Ia hanya terlalu lama terbiasa menahan dirinya sendiri.

Dalam banyak karya sastra lama, perempuan sering digambarkan sebagai sosok yang harus sabar menerima keadaan. Mereka dituntut untuk kuat, tetap bertahan dalam hubungan, dan mengutamakan kebahagiaan orang lain dibanding dirinya sendiri. Namun melalui Sri, Nh. Dini menghadirkan sesuatu yang berbeda. Sri mulai mempertanyakan hidup yang dijalaninya. Ia mulai sadar bahwa bertahan terus-menerus juga bisa melelahkan.

Dan keberanian terbesar Sri mungkin bukan terletak pada kemampuannya melawan, melainkan pada keberaniannya mengakui bahwa dirinya tidak bahagia.Hal seperti itu terdengar sederhana, tetapi sebenarnya tidak mudah dilakukan.

Banyak orang bertahan dalam hubungan hanya karena takut dianggap gagal. Banyak pula yang tetap tinggal dalam kehidupan yang membuatnya lelah karena merasa tidak memiliki pilihan lain. Kadang seseorang terlihat baik-baik saja hanya karena sudah terlalu terbiasa menyembunyikan kesedihannya sendiri.

Novel ini terasa begitu dekat dengan kenyataan karena membicarakan luka yang sering tidak terlihat.

Hubungan Sri dan Charles sendiri dipenuhi jarak emosional. Mereka hidup bersama, tetapi tidak benar-benar saling memahami. Charles hadir sebagai laki-laki yang sibuk dengan dirinya sendiri, sementara Sri perlahan tenggelam dalam kesunyian yang tidak pernah benar-benar bisa ia ceritakan kepada siapa pun.

Dan bukankah banyak hubungan memang seperti itu?Dua orang tetap tinggal di rumah yang sama, berbicara seperlunya, menjalani rutinitas bersama, tetapi perlahan kehilangan kedekatan satu sama lain. Tidak ada keributan besar, hanya rasa asing yang tumbuh diam-diam.

Perasaan itu terasa kuat melalui kutipan, “Amat menyakitkan hati kalau kita mengadukan kesusahan yang kita rasakan kepada seseorang yang kita kira akan memperhatikan kita” yang menunjukkan bagaimana seseorang dapat merasa sangat sendirian bahkan ketika memiliki pasangan.

Selain itu, kapal dalam novel ini juga terasa simbolis. Kapal bukan hanya sekadar latar tempat, melainkan gambaran perjalanan hidup Sri sendiri. Ia terus bergerak, berpindah tempat, tetapi tidak benar-benar menemukan ketenangan. Semakin jauh perjalanan berlangsung, semakin terasa bahwa Sri sebenarnya sedang mencari dirinya sendiri.

Dan pencarian itu terasa sunyi.

Hal lain yang membuat novel ini tetap relevan hingga sekarang adalah kenyataan bahwa banyak perempuan masih mengalami pergulatan yang sama seperti Sri. Mereka hidup dalam hubungan yang tampak baik-baik saja dari luar, tetapi diam-diam merasa kehilangan dirinya sendiri. Mereka tetap bertahan, tetap menjalani hari-hari seperti biasa, tetapi perlahan merasa kosong.

Di tengah dunia yang sering mengajarkan perempuan untuk terus sabar dan mengalah, Pada Sebuah Kapal hadir sebagai pengingat bahwa perempuan juga manusia yang memiliki kebutuhan emosional. Mereka juga ingin didengar, dipahami, dan merasa benar-benar dicintai.

Mungkin karena itulah novel ini terasa begitu personal bagi banyak pembaca. Ia tidak berbicara tentang konflik besar yang dramatis, melainkan tentang luka-luka kecil yang sering dipendam terlalu lama hingga akhirnya mengubah seseorang secara perlahan.

Gaya penulisan Nh. Dini yang tenang justru membuat emosi dalam novel ini terasa semakin kuat. Kalimat-kalimatnya sederhana, tetapi menyimpan kesunyian yang panjang. Tidak banyak adegan yang berlebihan, tetapi pembaca bisa merasakan bagaimana Sri perlahan lelah menjalani hidup yang tidak lagi memberinya ketenangan.

Pada akhirnya, Pada Sebuah Kapal bukan hanya cerita tentang cinta atau pernikahan. Novel ini adalah cerita tentang manusia yang sedang mencari dirinya sendiri di tengah kehidupan yang perlahan terasa asing.

Melalui Sri, Nh. Dini seperti ingin menunjukkan bahwa bertahan tidak selalu berarti bahagia. Sebab terkadang, luka paling dalam bukan berasal dari kehilangan seseorang, melainkan dari kehilangan diri sendiri secara perlahan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image