Generasi Lonely: Menghadapi Badai Kesepian di Tengah Keramaian Dunia Modern
Sastra | 2026-06-12 10:25:22Lebih dari setengah abad lalu, novel Pada Sebuah Kapal (1973) karya Nh. Dini memotret sebuah ironi yang mendalam melalui tokoh Sri. Di atas kapal pesiar yang mewah, di tengah gelombang manusia yang berpesta dan bersenda gurau, Sri justru merasakan keterasingan yang luar biasa. Ia dikelilingi keramaian, namun batinnya mengalami kekosongan eksistensial.
Hari ini, di tahun 2026, "kapal pesiar" itu bernama dunia modern. Bedanya, kepungan manusia itu telah digantikan oleh riuhnya notifikasi gawai di masa media sosial. Kita hidup di era di mana manusia paling terkoneksi sepanjang sejarah, namun kita juga sedang menyaksikan lahirnya sebuah fenomena global yang mengkhawatirkan: Generasi Lonely (Generasi Kesepian).
https://m.media-amazon.com/images/I/51m6SIUyUcL.jpg " />
Ketika seseorang sendirian di ruang hampa, kesepian sering disalahartikan sebagai kondisi fisik. Namun, "kesepian di tengah keramaian" adalah jenis kesepian yang paling berbahaya. Fenomena inilah yang tercermin kuat dalam novel Nh. Dini "Pada Sebuah Kapal" melalui tokoh utamanya, Sri. Meskipun novel ini ditulis beberapa tahun yang lalu, karakter Sri menunjukkan gambaran dari "Generasi Lonely" sebagai orang-orang yang sangat bergerak, dikelilingi banyak orang, tetapi tetap memiliki kekosongan emosional yang kuat di dalam diri mereka.
Perjalanan hidup Sri menunjukkan bahwa kesunyian batin tidak serta-merta dihilangkan oleh keramaian dunia luar. Sri tumbuh sebagai anak yang merasa "tidak dikehendaki" dan tidak banyak berbicara kepada orang tuanya. Sri menjadi pusat perhatian ketika ia dewasa dan terjun ke dunia modern menjadi penyiar radio di kota besar, lalu bergaul dengan komunitas elit hingga menjadi penari di Istana Presiden. Ia dikelilingi oleh rekan kerja, pilot Angkatan Udara, seniman, dan diplomat dari negara lain seperti Charles V.
Namun, Sri kerap kali melipat dirinya ke dalam kesunyian di balik semua hiruk-pikuk dan status sosial tersebut. Ketika kecemburuan dan wajah masam rekan kerja menciptakan "kesepian yang tegang" di kantornya, keramaian menjadi racun. Meskipun profesionalisme sangat dibutuhkan di dunia kontemporer, ia sering kali menghilangkan kegembiraan hubungan interpersonal yang tulus.
Di tengah badai kesepian, Generasi Kesepian membutuhkan katarsis. Katarsis adalah proses pelepasan emosional negetif, bagi Sri tarian itu sebagai bentuk katarsis. Tidak perlu berpura-pura di atas panggung atau di ruang latihan, Sri menemukan jiwanya kembali melalui gerakan tari Jawa dan Bali. Satu-satunya sosok laki-laki yang benar-benar memahaminya adalah ayahnya. Seni tari dan hubungannya dengan alam menjadi bentuk penghargaan atas ruang hampa di hatinya yang ditinggalkan oleh kematian ayahnya.
Sulitnya membangun hubungan emosional yang mendalam adalah ciri lain kesepian modern. Sri dikelilingi oleh orang-orang yang mengaguminya, seperti Giyono yang lucu dan Yus pelukis yang hidup di awang-awang. Tiba-tiba, Yus melamarnya, dan Charles V yang kuat mengirim surat kepadanya. Namun, Sri mengalami "kesunyian hati yang asing".
Rasa rendah dirinya, yang merupakan perasaan bahwa dia tidak memenuhi standar fisik yang ideal, dan keengganannya untuk terlibat dalam hubungan emosional tanpa dasar cinta yang tulus telah membuatnya membangun benteng pertahanan psikologis. Konflik batin Sri mencerminkan manusia modern yang mempunyai sikap kurang percaya atau ragu-ragu terhadap komitmen, tetapi juga merindukan pelukan dan sentuhan nyata.
Nh. Dini menunjukkan dalam novelnya Pada Sebuah Kapal bahwa kurangnya koneksi jiwa yang kuat adalah alasan badai kesepian.
Sri adalah gambar nyata dari Generasi Solo. Ia mengajarkan kepada kita bahwa untuk menghadapi badai kesepian di tengah keramaian dunia modern, seseorang harus berani berbicara tentang dirinya sendiri, menghindari ikatan yang semu, dan menemukan "jangkar" hidupnya sendiri baik melalui karya, seni, atau penerimaan total identitas diri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
