Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Asman

Negeri yang Tumbuh, Manusia yang Tertinggal

Eduaksi | 2026-08-17 11:53:54

Slogan yang sering kita dengarkan “setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya”, bukan hanya sekadar slogan untuk motivasi. Slogan ini sangat relevan dengan kondisi berbangsa dan bernegara kita saat ini.

Kita coba mengarungi lorong sejarah bangsa ini. Dahulu para pendiri bangsa, pada masanya adalah orang-orang yang memiliki semangat juang untuk memerdekakan bangsa ini dari kolonialisme.

Bukan hanya modal semangat yang berapi-api, pada pendiri bangsa ini memiliki kualitas manusia yang sangat mumpuni, mampu bersaing dengan orang luar dalam proses perundingan. Walaupun tidak memiliki gelar yang begitu banyak.

Di masa peralihan menuju kemerdekaan, orang seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Agus Salim, Natsir, dan sebagainya adalah generasi yang telah meletakkan pondasi dasar bangsa yang berdasarkan moral Pancasila.

Mereka memiliki kesadaran untuk melawan kolonialisme, bahkan turun menjadi aktivis dalam membantu kemerdekaan Indoensia dengan karya maupun aktivitasnya.

Di masa itu, negeri kita belum mendapatkan posisi bahkan pengakuan dari bangsa lain, sebagai satu bangsa yang merdeka. Namun orang Indonesia telah di kenal di mana-mana sebagai bangsa pejuang, bangsa yang memiliki moralitas dan cerdas.

Sehinga, walaupun negerinya belum tumbuh, manusianya sudah tumbuh dan menjadi inspirasi dari bangsa-bangsa lain.

Salah satu poin penting yang dapat kita teladani dari pendiri bangsa, ialah komitmen terhadap moralitas dan kualitas diri yang menjadi jalan menuju kemajuan bangsa.

Masalah Manusia Merdeka

Bagi kita yang tidak merasakan perjuangan melawan kolonialisme, merefleksi dan mengambil ibrah atas setiap perjuangan pendiri bangsa adalah sebuah kewajiban dalam bernegara.

Walaupun demikian, tidak semua manusia bisa mengambil pelajaran. Bisa jadi, ini disebabkan karena kesadaran manusia yang tidak selalu murni.

Paulo Freire membagi kesadaran manusia menjadi tiga bagian yang mempengaruhi Tindakan. Pertama manusia memiliki kesadaran magis, yaitu kesadaran yang tidak tahu menau terhadap keadaan suatu bangsa. kesadaran model ini memungkinkan Masyarakat hanya menerima keadaan tanpa melihat sebab akibat terjadinya suatu peristiwa.

Kedua, kesadaran naif yaitu, kesadaran di mana seseorang tidak mampu melakukan Tindakan karena menganggap semua sudah memiliki system yang tidak bisa lagi di atur. Sehingga, ketika ada ketimpangan pada suatu objek, maka hal itu dianggap wajar karena sudah sejak dulu praktik ketimpangan di normalisasikan.

Ketiga, kesadaran kritis yaitu kesadaran yang dibangun atas niat untuk melakukan perubahan terhadap system yang membelenggu. Maka manusia dengan kesadaran ini, perlu di dorong untuk melakukan transformative bagi kemajuan bangsa.

Melihat tiga kesadaran yang di bangun oleh Paulo Freire, bangsa kita belum sampai pada kesadaran kritis. Hal ini bisa kita temui dengan banyaknya kerusakan moral yang di pertontonkan oleh pejabat bangs akita saat ini.

Salah satu penyakit bangsa yang tidak bisa di hilangkan ialah korupsi. Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) atau Corruption Perceptions Index (CPI) Indonesia menurut laporan Transparency International Indonesia (TII) pada Selasa (10/2/2026) kemarin merosot tajam, dari skor 37 pada 2024 menjadi 34 pada 2025.

Korupsi merajalelah, system kapitalisme di bangun di atas penderitaan rakyat. Ketimpangan pendidikan, sumber daya alam yang keruk, namun tidak menguntungkan rakyat. Rakyat mengkritik, dianggap antek-antek asing. Apakah kesadaran manusia bangsa ini, memang hanya sampai di batas itu saja?

Transformasi Cara Pikir

Fazlur Rahman dalam membaca realitas dari sebuah kemajuan, tidak terlepas dari metode teks ke konteks atau melihat aspek Sejarah dan mengkontekstualisasikan dalam realitas saat ini.

Semangat pendiri bangsa mengeluarkan bangs akita dari cekraman kolonialisme dan bersifat Kolonial harus di hilangkan dari diri setiap orang Indonesia. Karena sifat inilah yang menghalangi terjadinya transformasi cara pikir seseorang.

Transformasi cara pikir dalam kehidupan bernegara sebenarnya adalah perubahan paradigma dari negara sebagai penguasa menuju negara sebagai pelayan rakyat. Negara memperoleh legitimasi karena hadir untuk melindungi, melayani, dan memenuhi hak-hak rakyat

Sepertinya, manusia Indonesia termasuk pemerintah perlu mengtransformasi cara pikir agar tidak mengelolah bangsa ini atas kemauan tanpa pola, menaati hukum dan konsep yang jelas. Beberapa aspek penting yang dapat kita lakukan semua, sebagai warga negara.

Pertama, membangun kesadaran moral pada setiap elemen Masyarakat, termasuk pemerintah, agar nilai-nilai luhur bangsa ini menjadi pondasi dalam membangun bangsa, mengelolah dan praktik dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, orientasi Pembangunan bangsa haruslah di ubah dari rakyat yang dijadikan sebagai objek menjadi subjek dalam proses menentukah arah kehidupan bangsa.

Ketiga, keberhasilan negara tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau investasi, tetapi juga dari kualitas pendidikan, kesehatan, keadilan sosial, kesejahteraan, dan martabat manusia.

Perubahan sangatlah penting, diarahkan kepada pemajuan bangsa yang di topang oleh kualitas manusia yang baik. Sebab tidak ada negara yang hebat, jika manusianya tidak memiliki kompetensi. Bisa jadi negara salah urus, dan rakyatnya juga serampangan.

Dengan demikian, ketika semua bersinergi, pemerintah dengan kesedaran yang kritis melihat system yang ada, akan melahirkan Masyarakat yang unggul dan negeri yang unggul pula. Bukan sebaliknya negeri unggul, namun manusianya tertingal dari segala aspek.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image