Mata yang Rabun Senja: Ekologi Perhatian di Tengah Hutan Kebudayaan
Sastra | 2026-10-01 13:48:36
Ada keluhan yang terus berulang setiap kali orang membicarakan seni dan sastra: sekarang tidak ada lagi novel yang hebat, puisi semakin biasa-biasa saja, film Indonesia kehilangan kejutan, atau pelukis besar tidak lagi lahir. Kalimat-kalimat semacam itu terdengar meyakinkan karena diucapkan begitu sering. Lama-kelamaan, kita menerimanya bukan lagi sebagai pendapat, melainkan sebagai kenyataan.
Namun, bagaimana jika persoalannya bukan terletak pada karya? Bagaimana jika yang sedang mengalami krisis justru mata kita?
Setiap tahun ribuan novel diterbitkan, puluhan ribu puisi ditulis, ratusan film diproduksi, pameran seni berlangsung di berbagai kota, musik terus direkam, dan cerita-cerita baru tidak pernah berhenti lahir. Jika diukur dari jumlahnya, kebudayaan sebenarnya tidak sedang mengalami kekurangan produksi. Yang semakin langka justru kemampuan untuk memperhatikan.
Kita hidup dalam zaman ketika jumlah karya terus bertambah, sementara kapasitas perhatian manusia semakin terpecah. Kita begitu cepat menyimpulkan bahwa karya-karya besar telah menghilang, tetapi terlalu jarang bertanya apakah kita masih memiliki mata yang cukup peka untuk mengenalinya.
Dalam dunia medis dikenal istilah rabun senja. Seseorang yang mengalami rabun senja masih dapat melihat ketika cahaya cukup terang, tetapi ketika matahari mulai tenggelam dan cahaya menjadi lembut, penglihatannya kehilangan orientasi. Ia membutuhkan cahaya yang lebih kuat untuk mengenali jalan.
Barangkali kebudayaan kita sedang mengalami keadaan yang serupa. Kita masih mampu melihat karya yang viral, karya yang dipromosikan besar-besaran, buku yang memenangkan penghargaan, film yang setiap hari memenuhi linimasa, atau seniman yang namanya terus muncul dalam percakapan publik. Namun, ketika berhadapan dengan karya yang tumbuh perlahan, yang tidak berteriak meminta perhatian, yang membutuhkan kesabaran untuk dipahami, mata kita mulai kehilangan kemampuan mengenalinya.
Bukan karena karya itu tidak ada, melainkan karena mata kita telah kehilangan kepekaan terhadap cahaya yang redup.
Hutan dapat menjadi perumpamaan yang baik untuk memahami keadaan tersebut. Hutan tidak pernah memamerkan dirinya. Ia tidak memasang baliho agar orang datang, tidak mengiklankan pohon mana yang paling layak dipeluk, dan tidak menentukan bunga mana yang paling fotogenik. Hutan hanya tumbuh. Untuk mengenalinya, mata harus belajar melihat sesuatu yang tidak selalu mencolok: membedakan lumut dari batu, mengenali suara serangga yang hampir tak terdengar, melihat akar yang bekerja di bawah tanah, bahkan memahami bahwa daun yang membusuk bukan sekadar sesuatu yang mati, melainkan bagian dari kehidupan berikutnya.
Hutan mendidik mata menjadi sabar.
Sebaliknya, media digital semakin sering mendidik mata menjadi pemburu kilatan. Kita diajari mencari sesuatu yang paling terang, paling cepat, paling ramai, dan paling banyak dibicarakan. Perhatian bergerak dari satu objek ke objek lain seperti orang yang berlari dari satu lampu ke lampu berikutnya. Segala sesuatu yang membutuhkan waktu untuk tumbuh atau dipahami mudah dianggap tidak menarik.
Padahal, bisa jadi justru di sanalah kehidupan kebudayaan sedang bekerja.
Dalam ingatan budaya populer kita, ada tokoh Si Buta dari Gua Hantu. Barda Mandrawata kehilangan penglihatannya, tetapi kehilangan penglihatan tidak membuatnya kehilangan seluruh orientasi terhadap dunia. Ia memiliki Kliwon sebagai sahabat sekaligus penuntun. Keterbatasan mata membuatnya harus mempercayai cara-cara lain untuk mengenali lingkungan.
Di situlah terdapat sebuah ironi dengan manusia modern. Kita merasa penglihatan kita semakin sempurna karena memiliki kamera beresolusi tinggi, layar yang semakin tajam, mesin pencari, basis data, dan kecerdasan buatan. Namun, pada saat yang sama, kita perlahan menyerahkan keputusan tentang apa yang layak dilihat kepada algoritma.
Kita tidak lagi sepenuhnya menemukan buku; buku ditemukan untuk kita. Kita tidak selalu menjelajahi film; film dipilihkan untuk kita. Kita tidak perlu lagi berkeliaran di perpustakaan, galeri, toko buku, atau ruang pertunjukan untuk menemukan sesuatu yang tidak kita kenal karena rekomendasi telah lebih dahulu menyusun jalan bagi kita.
Algoritma telah menjadi semacam Kliwon baru. Bedanya, jika Kliwon memperluas dunia Barda Mandrawata dengan membantu orang yang kehilangan penglihatan mengenali lingkungan di luar dirinya, algoritma digital bekerja berdasarkan pola kesukaan yang sudah kita tunjukkan. Ia cenderung terus memperlihatkan apa yang kemungkinan besar kita sukai dan mengurangi kemungkinan kita berjumpa dengan sesuatu yang sama sekali asing.
Akibatnya, kita tidak kehilangan karya. Kita kehilangan kemungkinan untuk bertemu dengan karya yang sebelumnya tidak pernah kita cari.
Di sinilah persoalan ekologi perhatian menjadi penting. Ekologi perhatian bukan hanya persoalan tentang berapa lama kita menatap layar, melainkan tentang lingkungan tempat perhatian kita hidup. Hutan membutuhkan tanah, air, cahaya, dan keragaman agar kehidupan dapat berlangsung. Perhatian manusia juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan konsentrasi, keheningan, kejutan, dan perjumpaan dengan sesuatu yang tidak segera kita pahami.
Masalahnya, lingkungan perhatian kita hari ini dipenuhi notifikasi, iklan, potongan video, trailer, kutipan, ulasan, peringkat, komentar, dan rekomendasi. Semuanya berebut menjadi cahaya yang paling terang. Dalam keadaan seperti itu, mata kehilangan kemampuan untuk berdiam. Kita berpindah sebelum sesuatu sempat meninggalkan bekas.
Padahal, pengalaman estetik hampir selalu membutuhkan waktu. Novel tidak selalu bekerja melalui satu halaman. Puisi kadang baru terbuka setelah dibaca berulang kali. Lukisan tidak selalu memberikan pengalamannya pada pandangan pertama. Film tertentu justru baru terasa setelah adegan terakhir selesai. Bahkan sebuah gagasan sering kali membutuhkan waktu untuk mengendap sebelum kita menyadari bahwa ia telah mengubah cara kita memandang dunia.
Setiap karya yang serius, dengan caranya sendiri, sebenarnya meminta hal yang sederhana: tinggallah sedikit lebih lama.
Tetapi kebudayaan digital membuat kita semakin terbiasa dengan pengalaman yang segera selesai. Kita ingin memahami novel melalui sinopsis, lukisan melalui keterangan kurator, puisi melalui kutipan yang beredar di media sosial, dan manusia melalui biodatanya. Kita bahkan mulai terbiasa menilai sebuah karya sebelum benar-benar mengalaminya. Kecepatan tidak lagi sekadar menjadi cara menggunakan media; ia perlahan menjadi cara memandang dunia.
Karena itu, mungkin keluhan bahwa kebudayaan sedang kehabisan karya besar perlu diperiksa kembali. Bisa jadi dunia tidak sedang kekurangan karya, melainkan kekurangan kondisi yang memungkinkan karya dibaca, dilihat, didengar, dan dialami secara utuh.
Barangkali yang dibutuhkan kebudayaan hari ini bukan lebih banyak karya, lebih banyak penghargaan, atau lebih banyak festival. Semua itu tetap penting, tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar: kita perlu memulihkan kemampuan untuk memperhatikan.
Kita membutuhkan mata yang bersedia kehilangan sejenak kilau keramaian agar dapat melihat cahaya-cahaya kecil yang selama ini hidup dalam kesunyian. Kita membutuhkan keberanian untuk memasuki karya tanpa terlebih dahulu bertanya apakah ia sedang viral, siapa pengarangnya, berapa jumlah penontonnya, atau penghargaan apa yang telah diterimanya.
Sebab hutan tidak pernah benar-benar kehilangan pohon. Yang mungkin hilang adalah kemampuan kita untuk berjalan pelan di antara pepohonan dan menyadari bahwa setiap pohon tidak tumbuh dengan cara yang sama.
Demikian pula kebudayaan. Ia mungkin tidak sedang sekarat. Ia mungkin justru sedang tumbuh terlalu lebat, sementara mata kita hanya mampu mengenali bagian-bagian yang terkena cahaya paling kuat.
Maka, sebelum kita kembali mengatakan bahwa seni, sastra, film, atau kebudayaan telah kehilangan karya-karya besarnya, barangkali ada pertanyaan yang lebih layak diajukan: jangan-jangan bukan kebudayaan yang kehilangan cahaya, melainkan mata kita yang mulai rabun senja.
Dan mungkin, sebelum menyelamatkan kebudayaan, kita harus terlebih dahulu menyelamatkan cara kita melihat.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
