MBG, KRL Commuter Line, dan Bus Trans
Curhat | 2026-06-12 10:18:36MBG, KRL COMMUTER LINE, DAN BUS TRANS JATENG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada mulanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak Indonesia agar tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat, dan cerdas guna menyongsong Indonesia Emas 2045. Program ini dijalankan secara nasional dan diperuntukkan bagi anak sekolah di seluruh Indonesia tanpa pandang bulu. Sebuah program yang membutuhkan anggaran negara yang sangat besar melebihi anggaran bidang-bidang lainnya.
Saya pribadi tidak menolak program ini, asalkan memakai skala prioritas. Misalkan diprioritaskan untuk kawasan Indonesia Bagian Timur, atau daerah-daerah tertentu yang memang rentan terhadap gizi buruk. Dari segi sasaran, tidak harus mulai dari usia TK/SD hingga SMA. Cukup untuk usia balita, TK, dan SD. Atau bisa ditambah ibu hamil dan atau menyusui.
Bukan Kekurangan Gizi, Justru Kelebihan Gizi
Tulisan berikut adalah hasil pengamatan saya selama 11 tahun menjadi Pendamping Sosial di Kementerian Sosial RI. Tugas utama saya adalah mendampingi para Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bantuan-bantuan sosial. Para KPM ini berada di Desil 1-4 atau bisa dikatakan mereka termasuk keluarga miskin atau rentan miskin. Apalagi saya bertugas di daerah perdesaan yang biasanya masih terdapat keluarga yang mengalami gizi buruk atau rentan gizi buruk.
Secara umum, dalam konteks daerah dampingan saya dan dalam konteks daerah perdesaan, orang yang kekurangan gizi itu nyaris tidak ada. Sekalipun ada, mungkin persentasenya hanya 5%. Urusan kebutuhan primer (pangan, sandang, dan papan) sudah terpenuhi secara baik dan layak. Saya tidak mendengar lagi ada orang yang kekurangan makan. Bahkan, yang terjadi adalah orang sering membuang-buang makanan (perilaku mubadzir).
Beberapa fakta dapat menjelaskan hal ini. Pertama, kecenderungan anak-anak sekarang lebih suka memakan atau meminum rasa buah (esens) daripapa memakan buah sungguhan. Anak saya sendiri atau anak-anak tetangga kalau saya tawari buah-buahan lebih sering menolak. Tetapi jika saya tawari minuman kemasan rasa buah tertentu, mereka berebut dan menagih kembali.
Di sisi lain, pada kondisi-kondisi tertentu, justru mereka kelebihan gizi. Mereka sudah sering makan enak plus bergizi tentunya, mencoba berbagai jenis makanan dan minuman, termasuk tidak sedikit makanan yang terbuang sia-sia. Makanan mubadzir ini bisa terjadi karena mereka sudah sangat mengonsumsinya, makan dalam kondisi tidak sedang lapar, atau lebih parah lagi sudah menjadi semacam tren atau gaya hidup masa kini.
Menurut saya, saat ini bisa disebut sebagai era kemakmuran, atau bahkan ekstra-makmur. Urusan makan tak lagi menjadi soal. Bahkan, pada acara seperti kenduri, selamatan, atau hajatan tertentu; kita sudah kesusahan mencari para penerima sedekah.
Yang dikejar orang sekarang adalah kebutuhan sekunder dan tersier. Mereka ingin memiliki kendaraan yang bagus, rumah yang bagus, perhiasan, penampilan, dan berbagai gaya hidup lainnya; sekalipun itu harus dengan cara berhutang.
Prioritas: Layanan Transportasi Umum
Dalam konteks wilayah Provinsi Jawa Tengah, di kanan-kiri jalan raya Solo-Semarang merupakan kawasan industri. Banyak berdiri pabrik-pabrik berskala nasional. Selain itu, ada pula kawasan pertokoan, perkantoran, dan juga wisata. Banyak pekerja kantoran dan buruh pabrik yang harus menempuh perjalanan jauh dan terjebak kemacetan jalan. Selain itu, mereka juga terbebani biaya transportasi yang tidak murah setiap harinya.
Oleh karena itu, jalur Solo-Semarang via Salatiga sudah saatnya memiliki rute KRL Commuter Line. Tujuannya adalah memberikan akses transportasi yang mudah, murah, dan masif. Jika para pekerja naik kereta, selain bisa terhindar dari kemacetan jalan raya juga menghemat biaya transportasi.
Dampak positifnya adalah bisa mengurangi kemacetan jalan raya, mengurangi polusi udara, sekaligus mengurangi volume penggunaan kendaraan pribadi. Termasuk anak-anak sekolah/kuliah pun dapat memanfaatkan layanan Commuter Line. Adanya stasiun baru juga bisa memperluas kesempatan kerja dan pertumbuhan kawasan ekonomi baru.
Selain KRL Commuter Line, adanya bus Trans Jateng juga sangat membantu masyarakat, terutama rakyat kecil. Saya termasuk sering menggunakan layanan ini. Bus ini seringnya penuh, bahkan di waktu-waktu tertentu sampai menolak penumpang karena sudah tidak muat lagi. Sayangnya, jumlah rute bus ini masih sangat terbatas. Di Solo baru ada dua rute, yaitu Solo-Wonogiri dan Solo-Sumberlawang.
Untuk Solo dan sekitarnya, masih ada jalur-jalur potensial dan berhubungan dengan kawasan wisata yang perlu ditambah. Misalnya: Solo-Prambanan, Solo-Tawangmangu, Solo-Pengging-Selo, dan rute lainnya.
Masyarakat bukannya tidak mau naik kendaraan umum, melainkan pada kenyataannya pemerintah belum menyediakan prasarana-sarana transportasi umum yang memadai dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Apabila dihubungkan ke program MBG, dalam pandangan saya anggaran MBG akan lebih baik dan lebih efektif jika diperuntukkan guna memenuhi kebutuhan transportasi.
Harapan saya, program MBG tidak masalah jika tetap dilanjutkan dengan catatan harus dikaji ulang terutama terkait penerima manfaat maupun pemilihan wilayah.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
