Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Juhdan Shidqi

Hidjo dan Mata yang Terbuka di Negeri Belanda

Sastra | 2026-06-11 20:21:35

Ada perjalanan yang tidak hanya memindahkan tubuh seseorang dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga mengubah cara ia melihat dunia. Dalam Student Hidjo karya Marco Kartodikromo, perjalanan Hidjo ke Negeri Belanda bukan sekadar kisah seorang pemuda pribumi yang berangkat sekolah ke luar negeri. Di balik perjalanan itu, ada proses batin yang pelan-pelan membuka matanya tentang hubungan antara bangsa pribumi dan bangsa Eropa pada masa kolonial.

Hidjo datang ke Belanda sebagai anak muda terpelajar yang ingin melanjutkan pendidikan. Ia belajar di Delft, tinggal di lingkungan orang Belanda, dan mulai mengenal cara hidup yang berbeda dari Hindia Belanda. Awalnya, ia tampak seperti pelajar yang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan dunia baru. Namun, pengalaman tinggal di negeri kolonial itu membuatnya melihat bahwa Eropa tidak selalu sama seperti bayangan besar yang selama ini dibangun di tanah jajahan. Orang Belanda di negerinya sendiri tidak selalu tampak seperti penguasa yang harus ditakuti.

Di sinilah Student Hidjo terasa menarik. Marco Kartodikromo tidak hanya mengirim tokohnya ke Belanda untuk belajar, tetapi juga untuk melihat kolonialisme dari jarak yang berbeda. Hidjo menyaksikan bahwa hubungan antara pribumi dan Eropa sebenarnya dibentuk oleh kuasa, kebiasaan, dan rasa takut yang diwariskan di Hindia Belanda. Di tanah jajahan, orang Eropa sering ditempatkan seolah-olah lebih tinggi. Namun, ketika berada di Belanda, batas itu tidak lagi tampak sekokoh sebelumnya. Dari sana, Hidjo mulai melihat bahwa keunggulan kolonial bukan sesuatu yang alamiah, melainkan sesuatu yang dibentuk oleh sistem.

Sebagai pembaca muda, saya merasa pengalaman Hidjo masih bisa dibaca dekat dengan kehidupan sekarang. Banyak orang pergi jauh untuk belajar, tetapi tidak semuanya pulang dengan kesadaran baru. Pendidikan kadang hanya membuat seseorang mengejar gelar, pekerjaan, atau status. Namun, dalam kisah Hidjo, pendidikan seharusnya lebih dari itu. Ia membuka ruang untuk berpikir kritis, mempertanyakan ketidakadilan, dan melihat bahwa bangsa sendiri tidak perlu terus-menerus merasa rendah di hadapan bangsa lain.

Pada akhirnya, Student Hidjo bukan hanya cerita tentang sekolah, cinta, atau perjalanan anak muda ke Eropa. Novel ini adalah cerita tentang mata yang mulai terbuka. Dari Hidjo, kita belajar bahwa pendidikan yang sejati bukan hanya membuat seseorang menjadi pintar, tetapi juga membuatnya sadar pada keadaan di sekitarnya. Sebab, ilmu yang paling penting bukan hanya ilmu untuk naik derajat, melainkan ilmu yang membuat manusia berani melihat ketidakadilan dan tidak lagi tunduk pada rasa takut yang diwariskan kolonialisme.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image