Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image dzikri agustriean

Terikat Sunyi dalam Rumah Sendiri

Sastra | 2026-06-11 19:46:48

Ada orang yang hidup serumah, tetapi hatinya berjalan ke arah yang berbeda. Dalam Belenggu karya Armijn Pane, rumah tangga bukan digambarkan sebagai tempat yang selalu hangat, melainkan ruang yang penuh jarak, prasangka, dan kesunyian. Tokoh Sukartono dan Tini tampak seperti pasangan yang memiliki kehidupan mapan, tetapi di balik itu ada hubungan yang perlahan retak. Mereka tidak benar-benar bertengkar besar setiap waktu, tetapi diam-diam saling menjauh.

Sukartono adalah seorang dokter yang sibuk dengan pekerjaannya. Ia dihormati banyak orang, disukai pasien, dan terlihat punya kehidupan yang teratur. Namun, ketika pulang ke rumah, ia justru merasa asing. Hal-hal kecil seperti bloc-note, barang sulaman, atau sikap pembantu rumah tangga bisa membuat pikirannya berputar panjang. Dari sana terlihat bahwa masalah Sukartono bukan hanya soal rumah yang berantakan, tetapi soal batin yang tidak tenang. Ia merasa tidak sepenuhnya dimengerti oleh istrinya sendiri.

Tini pun bukan sekadar istri yang lalai atau keras kepala. Ia adalah perempuan yang juga menyimpan kegelisahan. Dalam rumah tangga itu, Tini tidak hadir sebagai sosok yang sepenuhnya tunduk pada bayangan istri ideal. Ia punya cara hidup, rasa marah, dan ruang batinnya sendiri. Justru di sinilah Belenggu terasa menarik: Armijn Pane tidak menulis perempuan hanya sebagai pelengkap laki-laki, tetapi sebagai manusia yang juga punya luka, keinginan, dan pertahanan diri.

Membaca Belenggu hari ini terasa masih dekat dengan kehidupan banyak orang. Kadang hubungan tidak hancur karena satu peristiwa besar, tetapi karena hal-hal kecil yang terus dibiarkan: percakapan yang gagal, perhatian yang hilang, gengsi untuk saling jujur, dan kebiasaan menebak isi hati pasangan. Sukartono dan Tini memperlihatkan bahwa rumah tangga bisa menjadi belenggu ketika dua orang hidup bersama, tetapi tidak benar-benar saling hadir.

Pada akhirnya, Belenggu mengingatkan bahwa yang paling menyakitkan dalam hubungan bukan selalu perpisahan, melainkan rasa asing di tengah kedekatan. Rumah bisa tetap berdiri, peran suami-istri bisa tetap berjalan, tetapi batin manusia belum tentu merasa pulang. Dari novel ini, kita belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dipertahankan sebagai status. Ia perlu dirawat dengan kejujuran, percakapan, dan keberanian untuk saling memahami sebelum semuanya berubah menjadi sunyi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image