Mengapa Kota Selalu Gelisah dalam Puisi F Aziz Manna?
Sastra | 2026-07-17 17:42:14
Apa yang terlintas ketika mendengar kata kota? Barangkali gedung-gedung tinggi, jalan yang dipenuhi kendaraan, pusat perbelanjaan, atau lampu yang tak pernah benar-benar padam. Kota sering dipahami sebagai simbol kemajuan, ruang tempat manusia mengejar mimpi dan masa depan. Namun, pandangan semacam itu tidak sepenuhnya berlaku dalam puisi-puisi F. Aziz Manna. Di tangan penyair asal Jawa Timur ini, kota justru hadir sebagai ruang yang dipenuhi kegelisahan. Jalanan, lumpur, gedung dewan, kampung, hingga sudut-sudut kota bukan sekadar latar cerita, melainkan penanda bahwa ada sesuatu yang perlahan hilang dari kehidupan masyarakat modern.
F. Aziz Manna merupakan salah satu penyair Indonesia kontemporer yang dikenal memiliki kedekatan dengan sejarah dan ruang-ruang sosial Jawa Timur. Latar belakangnya sebagai sarjana sejarah tampak memengaruhi cara ia membangun puisi. Ia tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga merekam berbagai peristiwa yang membentuk wajah sebuah kota. Karena itu, membaca puisi-puisinya terasa seperti membaca peta sosial yang memperlihatkan hubungan manusia dengan ruang tempat mereka hidup.Keunikan tersebut terlihat dari cara Aziz Manna menghadirkan ruang secara konkret.
Penelusuran terhadap kumpulan puisi Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang serta Tanggulendut menunjukkan bahwa penyair ini berulang kali menggunakan penanda ruang seperti "di jalanan", "di depan gedung dewan", "di pagar rumah orang", "di hamparan lumpur", hingga "di sembarang tempat". Pilihan diksi tersebut tampak sederhana, tetapi justru menjadi strategi puitik yang penting. Ruang dalam puisi Aziz bukan sekadar menunjukkan lokasi, melainkan mengarahkan pembaca untuk memperhatikan tempat-tempat yang menyimpan pengalaman sosial masyarakat.
Pengulangan ruang-ruang tersebut menghadirkan kesan bahwa kota bukanlah ruang yang netral. Jalanan, gedung pemerintahan, hingga kawasan permukiman menjadi arena tempat berbagai persoalan sosial berlangsung. Kota tidak lagi dipandang sebagai lanskap fisik, tetapi sebagai ruang tempat masyarakat berhadapan dengan perubahan, kehilangan, dan ketidakpastian. Dengan kata lain, Aziz Manna tidak sedang melukiskan kota, melainkan sedang membaca kehidupan melalui kota itu sendiri.
Pandangan tersebut semakin kuat ketika penyair menghadirkan berbagai penanda sejarah dalam puisinya. Tragedi Lumpur Sidoarjo, peristiwa Wonokromo Dibakar, pembangunan real estate, apartemen, mal, hingga gedung-gedung modern muncul sebagai bagian dari pengalaman masyarakat Jawa Timur. Peristiwa-peristiwa itu tidak dihadirkan layaknya catatan sejarah yang kronologis, melainkan sebagai ingatan yang terus hidup dalam bahasa puisi. Sejarah menjadi sesuatu yang hadir di tengah kehidupan sehari-hari, bukan sekadar cerita tentang masa lalu.
Di sinilah letak kekuatan puisi F. Aziz Manna. Ia menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu berarti kemajuan bagi semua orang. Kota memang tumbuh semakin besar, tetapi pada saat yang sama masyarakat juga dapat kehilangan ruang hidupnya. Dalam salah satu puisinya muncul larik "kota kami tumbuh di luar impian kami". Kalimat tersebut menghadirkan ironi yang kuat. Kota berkembang sangat cepat, tetapi arah perkembangannya justru menjauh dari harapan masyarakat yang tinggal di dalamnya. Pertumbuhan fisik kota tidak selalu berjalan seiring dengan terpenuhinya kebutuhan sosial warganya.
Persoalan tersebut terasa semakin relevan ketika melihat wajah kota-kota Indonesia hari ini. Ruang terbuka semakin sempit, kampung berubah menjadi kawasan komersial, sementara bangunan-bangunan baru terus bermunculan. Modernisasi memang menghadirkan berbagai kemudahan, tetapi juga sering kali menggeser ruang-ruang yang sebelumnya menjadi tempat tumbuhnya hubungan sosial masyarakat. Dalam konteks inilah puisi Aziz Manna terasa sangat aktual. Ia mengingatkan bahwa pembangunan tidak hanya mengubah bentuk kota, tetapi juga mengubah cara manusia menjalani kehidupannya.
Menariknya, kritik Aziz Manna tidak disampaikan melalui bahasa yang menggurui. Ia memilih menghadirkan detail-detail ruang yang akrab bagi pembaca. Lumpur bukan sekadar lumpur. Jalan bukan hanya jalan. Gedung dewan bukan sekadar bangunan pemerintahan. Seluruh ruang tersebut menjadi simbol yang membawa pembaca pada pengalaman sosial tertentu. Dengan strategi semacam ini, puisi bekerja bukan sebagai ceramah, melainkan sebagai pengalaman. Pembaca diajak merasakan sendiri bagaimana sebuah kota menyimpan luka, harapan, sekaligus ingatan kolektif.
Selain menghadirkan ruang fisik, Aziz Manna juga membangun ruang batin melalui berbagai penanda seperti impian, kenangan, dan pikiran. Kehadiran ruang maya tersebut memperlihatkan bahwa hubungan manusia dengan kota tidak hanya bersifat material, tetapi juga emosional. Kota bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat seseorang menyimpan kenangan, membangun identitas, dan merawat harapan. Ketika kota berubah terlalu cepat, yang ikut berubah bukan hanya pemandangannya, melainkan juga cara manusia mengenali dirinya sendiri.
Inilah sebabnya puisi-puisi F. Aziz Manna terasa penting untuk dibaca pada masa sekarang. Di tengah derasnya pembangunan dan modernisasi, ia mengingatkan bahwa kota bukan hanya persoalan infrastruktur. Kota adalah ruang hidup manusia. Jalan, kampung, sungai, hingga ruang-ruang publik memiliki nilai yang tidak dapat diukur semata-mata dengan angka pertumbuhan ekonomi. Ketika ruang-ruang tersebut hilang, masyarakat bukan hanya kehilangan tempat, tetapi juga kehilangan sebagian dari ingatan dan identitasnya.
Pada akhirnya, F. Aziz Manna memperlihatkan bahwa puisi mampu melakukan sesuatu yang sering kali tidak dilakukan oleh laporan pembangunan ataupun catatan sejarah. Puisi menghadirkan suara-suara yang nyaris tidak terdengar, menyimpan pengalaman masyarakat yang kerap terlupakan, dan mengajak pembaca melihat kota dari sudut pandang yang lebih manusiawi. Kota dalam puisinya memang terus berkembang, tetapi di balik deretan gedung dan jalan raya, selalu ada kegelisahan yang menunggu untuk didengarkan. Barangkali, justru di situlah makna sebenarnya dari sebuah kota: bukan pada seberapa tinggi bangunannya, melainkan pada seberapa besar ia masih mampu menjadi rumah bagi manusia yang hidup di dalamnya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
