Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Aulia Nur

Merawat Akar, Melupakan Buah

Kisah | 2026-08-09 09:29:41

Televisi di ruang tengah memutarkan pertandingan yang belum juga melahirkan gol. Sorak penonton memenuhi rumah kecil itu, sesekali membuat Raka menekuk lututnya sendiri ketika bola nyaris menjebolkan gawang. Tapi, tiba-tiba suara memecahkan ke-gregetannya.

“Mas, Nisa pinjem buku ini ya”

Raka menoleh sedikit. Gadis kecil berusia hampir tujuh tahun itu berdiri sambil memeluk sebuah buku tebal hampir sebesar tubuhnya.

Raka hanya mengeryitkan dahinya, “Emang kamu bisa bacanya?”

“Bisa lahh, gampang itu.”

Nisa hanya tersenyum lebar, padahal buku merangkai katanya saja belum selesai dikerjakan.

“Buku ini isinya apa Mas?”

Ujar Nisa sambil membolak balikkan halaman namun fokusnya hanya pada gambar yang ada.

“Bilang aja ngga bisa baca, sini mas ambilin komik aja.”

Raka kemudian mematikan televisi karena memang sudah bosan menonton yang tak pasti, lalu menggandeng tangan mungil itu ke rak buku-bukunya.

Rak besar bernuansa cokelat itu memiliki kubunya sendiri, di paling atas terdapat banyak kitab kuning milik abah dan di bawahnya barulah milik Raka dengan berbagai macam jenis buku Islami, motivasi, dan sedikit buku komik di rak paling bawah.

“Mas, ini isinya apa?”

Nisa menunjuk buku tebal bercover maroon yang menarik perhatiannya

“itu Sejarah Islam.”

“Ceritain dikit mas, pengin tauu.”

“Udah agak lupa Nis, soalnya udah lama ngga baca lagi.”

“Kalo yang ini?“

Jari mungil Nisa berpindah ke buku lain yang mulai berdebu.

“Itu kayaknya tafsir Qur’an”

“Wah, isinya qur’an ya?, Mas kan ngafalin qur’an, ayo ceritain isi buku ituu.”

“Kau ini bawel sekali Nis.”

“Ayoo mass, mau tau. Mas kan pinter."

“Belum tak baca selesai itu, nanti aja.”

“Kalo mau baca yang ini, gambarnya banyak.” Sahut Raka

“Isinya tentang apa?”

“Duduk dulu di sana, nanti Mas ceritain.”

Mereka berdua duduk di ruang tengah, Raka pun menceritakan petualangan di buku komik yang adiknya pegang. Tawa dan ekspresi berbinar Nisa menggambarkan betapa serunya Raka dalam mendongeng kisah “Kereta Terbang Milik Paman” itu.

“Mas kok bisa hafal yah.”

“Inimah sering tak baca Nis, bahkan Mas membayangkan bisa ikut petualangannya.”

“Ohh..Mas hafal banget ya sama komik, tapi kok buku yang isinya ilmu lupa.” Celetuk Nisa.

Raka terdiam sejenak, entah kenapa kata kata anak kecil yang bahkan jarak umurnya jauh itu membuat hatinya tertegun, kalimat polos itu menggantung di kepalanya, jauh lebih lama dari sorak penonton yang tadi memenuhi ruang tengah.

Pagi pun berganti sore, sore berganti malam. Di kamar serba biru itu terlihat Raka sedang memainkan game di layar ponsel. Seruan kalah-menang terucap berulang kali dari bibirnya, sesekali dia menggerutu karena lawannya terlalu kuat dan tak jarang dia meloloskan kata “yes” ketika sebuah tantangan baru saja ditaklukan.

“Raka! Sini bentar nak..”

Panggilan Umi memecah keseruannya bermain,

“Ya, bentar mi..”

Jemarinya kembali menekan layar. Pertandingan tinggal beberapa detik menuju kemenangan. Baginya, panggilan Umi masih bisa menunggu.

Lima menit, sepuluh menit bahkan tidak terasa hampir setengah jam dari panggilan Umi-nya.

“Raka .Umi minta tolong sebentar..”

Seruan Umi lagi yang sedang fokus membuat materi untuk jadwal ngaji besok subuh,

“Ya, bentar lagi mi ”

“Raka !”

Bagi beberapa orang, ketika mencapai puncak serunya bermain game lalu dialihkan dengan perhatian lain itu ibarat sedang menonton pertandingan bola idola kita di televisi yang akan mencetak gol ke gawang tapi tiba tiba listrik mati.

Dan Raka termasuk beberapa orang itu.

“Ish .au ah.”

Handphone-nya ia lemparkan sembarang ke kasur, dan Raka menghampiri Umi-nya di ruang tengah.

“Kenapa Mi?”

Ujar Raka dengan raut wajah yang tak mengenakkan untuk dipandang

“Beliin mendoan sama susu jahenya Mang Udin Mas, Umi jadi kangen lama ngga beli.”

Raka menghembuskan napasnya kasar,

“Mana uangnya?”

Ketus Raka dengan mimik wajah yang tetap sama, dan langkahnya yang terlihat tidak senang.

Setelah berjalan sekitar 5 menit dari rumah, tibalah Raka di angkringan sederhana yang dituju, gerobak warna biru tua bertuliskan “Angkringan bahagia selalu” itu hanya menjual sejenis gorengan dan minuman hangat, tapi perut pelanggannya memang selalu senang setelah mampir di tempat ini.

“Halo, Mas Raka.. tumben, mau beli apa?”

Mang Udin menyapa ramah Raka setelah empunya duduk dikursi kayu panjang warung itu.

“Biasa buat Umi.”

“Siap mas”

Mang Udin pun segera menyiapkan pesanan pembeli langganannya.

“Mas Raka sekarang semester berapa ya kuliahnya.”

“Tiga mang.”

“Wah, beda satu tahun ya sama anak saya.”

“Mahasiswa baru ya mang?”

“Iya sudah besar ternyata yah.” Celetuk Mang Udin

Tak lama kemudian Raka tiba tiba melihat di meja warung ada ponsel yang sedang memutar kajian.

"Mang, suka dengerin kajian?"

"Oh iya, kebetulan koleksi galerinya anak saya itu, pengin tak putar aja."

"Dia rajin ikut kajian mas, HP-nya juga penuh video ceramah."

"Bagus dong Mang."

Mang Udin hanya tersenyum hambar.

"Saya mikirnya dulu juga gitu."

“Loh emang sekarang kenapa?” Tanya Raka heran.

Mang Udin menghembuskan napas pelan.

“Kadang ekspetasi ketinggien tuh ngga bagus yah Mas.”

“Saya selalu ngerasa nih anak udah dapet ilmu banyak tapi kok kelakuannya masih sama aja.”

“Disuruh sama orang tua juga masih sering ketus, bentak juga masih jalan.”

"Subuhnya juga masih sering kesiangan mas, hadeh "

Pikiran Raka terdiam sejenak, teringat dengan simpanan berbagai postingan konten dakwah di media sosialnya yang bahkan hampir penuh, tapi kenapa.

“Mas Raka mah pasti sholatnya rajin yah.”

Deg. Tadi pagi subuh saja dibangunkan Umi masih mimpi di kasur.

“Eh .Aamiin Mang, hehe.”

Padahal di hati Raka, memalukan sekali dirinya seperti itu.

“Ini Mas, udah jadi.” Mang Udin tersenyum dan menyerahkan pesanan ke Raka.

“Makasih ya Mang.”

Raka menyerahkan 2 lembar uang lalu pergi,

Sepanjang perjalanan pulang dari angkringan, langkah Raka terasa lebih pelan dari biasanya.

Sesampainya di rumah, ia tidak langsung memberikan pesanan kepada Umi. Tangannya justru sibuk membuka telepon genggamnya.

Puluhan konten simpanan di media sosial kini memenuhi layar.

Video kajian.

Potongan ceramah.

Foto halaman buku.

Kutipan motivasi.

Semuanya pernah ia simpan dengan niat, "Nanti dibaca."

Namun, kata "nanti" rupanya telah berubah menjadi berhari hari.

Raka lalu melihat rak bukunya, ia menghembuskan napas pelan.

Untuk pertama kalinya, Raka merasa yang selama ini ia kumpulkan bukanlah ilmu yang hidup, melainkan sekadar jejak bahwa ia pernah ingin belajar, ia hanya disibukkkan dengan menanam benih pengetahuan tetapi lupa cara menyiramnya hingga tak satupun berbuah.

Keesokan harinya, azan subuh berkumandang dan Raka sudah rapi dengan baju koko dan sarungnya. Ia melangkah mantap menuju masjid, menjadi salah satu jamaah disana.

Ketika kembali ke rumah, Umi yang sedang merapikan mukena menyambutnya. Umi tersenyum teduh, tatapannya penuh kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.

“Kini alarmmu cuma azan subuh saja ya Mas.” ujar Umi lembut.

Ia hanya membalasnya dengan senyuman kecil, lalu meraih tangan wanita yang melahirkannya itu, menciumnya takzim dengan segenap rasa hormat yang tumbuh.

Malam sebelumnya, tidak ada buku baru yang selesai ia baca.

Tidak ada kajian panjang yang ia tonton.

Melainkan satu ilmu yang hanya singgah di kepala, kini mulai turun kedalam sikapnya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image