Ingin Lepas dari Kefakiran dan Kelesuan, Lakukan Hal Ini
Agama | 2026-09-20 17:43:53
Ingin Lepas dari Kefakiran dan Kelesuan Berusaha serta Dianugerahi Kekayaan, Lakukan Hal Ini
Oleh : Sudarta
Banyak dari kita di Indonesia hari ini merasakan hal yang sama: kerja dari pagi sampai malam, tapi uang selalu terasa kurang. Badan sibuk luar biasa, tapi hati tetap cemas, lesu, dan merasa miskin terus.
Padahal kunci untuk lepas dari itu semua sudah diberitahukan 14 abad yang lalu oleh Rasulullah ﷺ.
Janji Allah untuk Orang yang Meluangkan Waktu untuk-Nya
Rasulullah ﷺ bersabda, Allah ﷻ berfirman dalam hadits qudsi:
“Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku akan menutup kefakiranmu. Jika kamu tidak melakukannya, maka Aku akan memenuhi tanganmu dengan kesibukan, dan Aku tidak akan menutup kefakiranmu.”
SDM. Ahmad dan Tirmidzi, dihasankan Al-Albani
Hadits ini adalah jawaban paling sederhana atas dua penyakit modern: kefakiran yang tak kunjung hilang dan kelesuan dalam berusaha.
Allah tidak meminta kita meninggalkan dunia. Yang diminta adalah tafarragh - meluangkan waktu secara sengaja dan mengutamakan ibadah di tengah kesibukan dunia.
Logikanya begini: Siapa yang mendahulukan Allah, maka Allah akan membereskan urusan dunianya. Siapa yang mengabaikan Allah karena sibuk mengejar dunia, maka dunia itu sendiri yang akan membuatnya semakin sibuk dan tetap merasa fakir.
Ini dikuatkan Al-Qur'an:
“Barang siapa yang diubah dari mengingat-Ku, maka dialah kehidupan yang sempit.” QS. Thaha: 124
Sempit di sini bukan berarti miskin harta. Banyak orang Indonesia yang gajinya belasan juta, tapi hidupnya sempit: dikejar cicilan, cemas, tidak pernah merasa cukup, malas berangkat kerja karena hati kosong.
Mengapa Masih Fakir Padahal Sudah Kerja Keras?
Karena kekayaan hakiki bukan di rekening, tapi di hati. Rasulullah ﷺ bersabda: _"Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, akan tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa/hati."HR. Bukhari.
Inilah yang terjadi di lapangan:
Contoh Kasus Pedagang di Pasar Palembang.
Ada dua pedagang pempek. Pedagang pertama, azan Zuhur berkumandang dia tetap melayani pembeli karena takut rugi. Hasilnya seharian sibuk, tapi untung tipis dan hati gelisah.
Pedagang kedua, azan berkumandang dia tutup lapak 15 menit, shalat di mushola pasar. Setelah itu dia buka lagi dengan hati tenang.
Pembeli justru datang lebih banyak karena melihat kejujuran dan ketenangannya. Allah yang mendatangkan pembeli, bukan lapaknya yang terus buka.
Contoh kasus Karyawan dan Driver Ojol.
Seorang karyawan/driver ojol yang selalu shalat dengan alasan "kejar orderan", biasanya di akhir hari dia mengeluh: orderan sepi, badan capek, uang habis untuk bensin saja. Tangannya penuh kesibukan, tapi kefakirannya tidak tertutup.
Sebaliknya, karyawan/driver yang menetapkan prinsip: jam shalat, off dulu 10 menit untuk shalat, justru rezekinya terasa berkah. Hatinya kaya, tidak mudah mengeluh, dan Allah bukakan jalan orderan dari arah tak disangka.
Itulah maknanya "Aku penuhi hatimu dengan kekayaan". Hati yang kaya membuat kita rajin berusaha, tidak lesu, dan tidak mudah putus asa.
Jadi, Apa yang Harus Dilakukan?
Melakukan hal ini bukan berarti harus menjadi ustadz dan meninggalkan pekerjaan. Lakukan 3 langkah praktis ini:
1.Jadikan Ibadah sebagai Jadwal Pokok, Bukan Sisa Waktu.
Jangan shalat kalau sudah senggang, tapi senggangkan waktu untuk shalat. Pasang alarm 5 menit sebelum azan. Di kantor, di sawah, di toko, luangkan waktu. Inilah tafarragh lil ibadah.
2.Mulai Hari dengan Allah, Sebelum Mulai dengan Dunia.
Rasulullah ﷺ mendoakan: “Ya Allah berkahilah umatku di waktu paginya.” SDM. Tirmidzi.
Orang yang bangun Subuh, shalat, dzikir pagi, lalu berangkat kerja jam 06.00 - 07.00 pagi, semangatnya beda dengan yang bangun jam 08.00 langsung kerja tanpa shalat. Keberkahan pagi itu nyata.
3.Ubah Pola Pikir: Bekerja adalah Bagian dari Ibadah.
Kelesuan berusaha muncul karena kami bekerja hanya demi uang. Jika niat diubah menjadi ibadah untuk menafkahi keluarga karena Allah, maka lelahnya menjadi pahala. Hati menjadi kaya, bukan karena gaji besar, tapi karena merasa cukup dan dicintai Allah.
Kefakiran tidak akan hilang hanya dengan menambah jam kerja. Kefakiran hilang ketika hati kita diisi oleh Allah.
Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang Allah sibukkan mengurus seharian mengurus dunia, tapi di malam hari tetap merasa miskin dan kosong.
Luangkan waktumu untuk Allah, maka Allah akan menyumbangkan rezeki-Nya untukmu.
Sudarta Salman, SE, MM.adalah
- Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ogan Ilir
- Akademisi Universitas Muhammadiyah Palembang
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
