BBM Naik, Rakyat Makin Tercekik
Bisnis | 2026-06-11 09:02:20
Berdasarkan informasi Pertamina Patra Niaga, harga Pertamax (Run 02) di patok harga Rp16.250 per liter yang awalnya Rp12.300 per liter berarti angka tersebut naik Rp3.950 per liter. Selain itu Pertamax Green 95 juga mengalami kenaikan harga yang di patok Rp17.000 per liter yang awalnya Rp12.000 jadi naik Rp4.000 per liter. Alasan pertamina menaikkan harga BBM adalah Penyesuaian harga setelah berkoordinasi dengan Pemerintah, mengacu pada mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbankan harga minyak dunia dan harga pasar keekonomian menurut Corporate Secretary Patra Niaga Roberth MU Dumatubun (Sumber : Kompas.com). Dampak kenaikan BBM tersebut amat sangat di rasakan oleh masyarakat,terutama masyarakat menengah kebawah.
Biaya mobilitas harian masyarakat yang bergantung pada kendaraan pribadi, angkutan umum, maupun kendaraan operasional usaha berpotensi mengalami peningkatan. Dengan naiknya BBM otomatis akan di ikuti oleh kenaikan barang dan jasa lainya. Mulai dari sembako, biaya pendidikan, biaya kesehatan, pajak dan lain sebagai nya. Sementara pendapatan tetap sama bahkan ada yang turun dari pendapatan sebelumnya karena daya beli masyarakat semakin turun, juga penggunaan harta sesuai prioritas saja. Sisi lain pemerintah menganggarkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara ugal- ugalan. Pembelian mobil listrik yang sekarang mangkrak di mana- mana. Belum lagi program Koperasi Desa ( KOPDES) Merah Putih yang penggunaanya tidak jelas dan telah di bangun di banyak tempat. Dengan melihat kondisi ekonomi yang semakin sulit, pemerintah kelabakan bagaimana cara untuk mèndapatkan uang yang banyak, mudah yaitu dengan jalan pintas sebagai jalur jitu dengan menaik kan harga BBM tengah malam yang masyarakatnya lagi tertidur pulas.
Lagi- lagi rakyatlah yang di jadikan sapi perah untuk mendongkrak pendapatan negara. Berulang kalinya kenaikan BBM ini di karenakan sistem yang ada, yang di adobsi dari barat yaitu kapitalis. Dalam sistem kapitalis ini pengaturan kebutuhan energi dengan liberalisasi yang melegalkan swasta / asing untuk menguasai dan mengendalikan Sumber Daya Alam (SDA) termasuk minyak dan gas bumi. Di era kapitalis ini, negara hanya berfungsi sebagai Fasilitator yang hanya berperan sebagai pembuat UU untuk menguatkan posisi swasta / asing dalam mengeruk harta umum. Jadi negara hadir bukan untuk mengurusi rakyat.
Beda dengan Islam, dalam Islam Negara (Penguasa) bertanggung jawab dalam mensejahterakan rakyatnya. Hal ini karena dalam Islam,penguasa adalah Raa'in (Pengurus) sekaligus Junnah (Perisai) yang wajib melindungi rakyatnya dari kesulitan hidup. Rasulullah bersabda," Imam adalah pengurus dan ia akan di minta pertanggung jawaban terhadap rakyat yang di urus nya." (HR Muslam dan Ahmad)
Untuk itu negara wajib memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya termasuk kebutuhan BBM. Negara wajib mengelolanya sesuai hukum syara' karena yang di cari dalam Islam itu adalah keridhoan dari Allah swt, bukan jabatan dan juga bukan uang. Jadi kebutuhan hidup rakyat mulai dari listrik, air, tambang, minyak bumi, gas negara yang mengelola dan hasilnya di kembalikan untuk kepentingan rakyat. Jadi negara yang mengelola bukan swasta / asing dan didalam Islam tidak ada privatisasi sehingga semua umat baik kaya maupun miskin semua bisa mendapatkan dengan adil fasilitas negara. Dengan mekanisme tersebut BBM bisa gratis sehingga harga sembako dan kebutuhan lainnya bisa murah, distribusi terjangkau dan yang paling utama rakyat akan sejahtera.
Allahu A'lam bi showwab
Penulis : Ummu Afif
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
