Ketika Kritik Mahasiswa Dipandang sebagai Ancaman
Politik | 2026-06-11 09:20:41
Ramainya polemik yang melibatkan Tiyo Ardianto, mantan Ketua BEM UGM 2025, membuat saya berpikir tentang satu hal: mengapa kritik mahasiswa masih sering dianggap sebagai ancaman? Padahal di kampus, mahasiswa malah terdorong untuk berpikir kritis, memikirkan berbagai persoalan, dan berani menyampaikan pendapat. Namun ketika sikap kritis tersebut dibawa ke ruang publik, respons yang muncul sering kali bukan diskusi yang sehat, melainkan mencakup yang memenuhi emosi dan serangan pribadi.
Polemik yang melibatkan Tiyo menampilkan bahwa kritik terhadap kebijakan publik masih sering terjadi sebagai bentuk perlawanan terhadap pihak tertentu. Dalam sejumlah pemberitaan media, Tiyo mengaku menerima berbagai bentuk intimidasi setelah menyampaikan kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bahkan intimidasi tersebut disebut tidak hanya menyasar dirinya sendiri, tetapi juga keluarga dan sejumlah pengurus organisasi mahasiswa. Terlepas dari berbagai hal yang muncul, peristiwa ini menunjukkan bahwa kritik terhadap kebijakan publik masih dapat memicu respons yang melampaui substansi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih kesulitan membedakan antara kritik dan kebencian. Kritik bertujuan untuk menghasilkan suatu kebijakan agar dapat berjalan lebih baik, sedangkan kebencian fokus pada upaya menyerang atau menjatuhkan pihak tertentu. Sayangnya, perbedaan ini sering kali menjadi kabur, terutama di era media sosial yang memungkinkan opini menyebar jauh lebih cepat daripada pemahaman terhadap konteks suatu permasalahan.
Tingginya perhatian masyarakat terhadap isu MBG juga terlihat dari penelitian yang menganalisis 7.733 komentar masyarakat di media sosial mengenai program tersebut. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa diskusi publik tentang MBG berlangsung sangat aktif dan mencakup beragam pandangan, baik yang mendukung maupun yang merugikan. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan pendapat terhadap suatu kebijakan merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan demokratis.
Permasalahan muncul ketika perhatian masyarakat tidak lagi diperingati pada isi kritik, melainkan pada yang menyampaikan kritik tersebut. Dalam logika, pola seperti ini dikenal sebagai ad hominem , yaitu kesalahan berpikir yang terjadi ketika seseorang menyerang pribadi lawan bicara alih-alih membahas argumennya. Akibatnya, diskusi yang seharusnya fokus pada data dan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan justru berubah menjadi penilaian terhadap individu.
Terlepas dari siapa yang menyampaikan kritik, yang seharusnya menjadi perhatian adalah isi argumentasinya. Kritik yang keliru dapat dibantah dengan data dan penjelasan yang lebih kuat, sedangkan kritik yang masuk akal dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kebijakan. Dengan demikian, perbedaan pendapat tidak perlu dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari proses mencari solusi yang lebih baik.
Pada akhirnya, kritik tidak selalu hadir untuk menjatuhkan. Dalam banyak kasus, kritik justru muncul karena adanya kepedulian terhadap suatu permasalahan. Oleh karena itu, daripada memandang kritik sebagai ancaman, akan lebih bermanfaat jika kritik dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki kebijakan yang ada. Demokrasi yang sehat tidak ditandai dengan tidak adanya kritik, melainkan dengan kemampuan masyarakat untuk menanggapi kritik secara terbuka, rasional, dan dewasa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
