Ketika Gol Terasa Seperti Luka Keluarga
Olahraga | 2026-06-16 16:13:49
Timnas Swedia mengawali perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan kemenangan besar atas Tunisia.
Skornya 5-1.
Pertandingan Grup F di Estadio Monterrey, Meksiko, itu langsung memperpanjang rekor positif Swedia dalam laga pembuka Piala Dunia. Mereka tampil dominan sejak awal. Menekan cepat. Bermain agresif. Bahkan gol pertama lahir dari kesalahan kiper Tunisia, Mouhib Chamakh, saat gagal mengantisipasi bola panjang Victor Lindelof.
Di atas kertas, semuanya terlihat sederhana: Swedia terlalu kuat. Tunisia terlalu gugup. Pertandingan selesai.
Tetapi sepak bola jarang benar-benar sesederhana papan skor.
Ada satu wajah yang justru terlihat lebih menarik daripada lima gol Swedia malam itu.
Yasin Ayari.
Ia bermain untuk Swedia. Tetapi ayahnya berasal dari Tunisia.
Dan mungkin memang sulit bagi siapa pun untuk merasa sepenuhnya bahagia ketika tim yang kalah adalah bagian dari darah keluarganya sendiri.
Ayari lahir dan tumbuh di Swedia. Ia besar dengan sistem sepak bola Swedia, bahasa Swedia, dan mimpi mengenakan jersey kuning-biru negaranya. Tetapi di rumah, mungkin ada cerita lain yang ikut tumbuh bersamanya: tentang Tunisia, tentang keluarga, tentang akar yang tidak pernah benar-benar hilang.
Karena identitas manusia memang aneh.
Paspor bisa satu.
Tetapi hati kadang menyimpan dua rumah sekaligus.
Mungkin itu sebabnya wajah Ayari setelah pertandingan terasa lebih manusiawi dibanding statistik pertandingan itu sendiri.
Di era modern, semakin banyak manusia hidup di antara dua dunia. Anak-anak diaspora tumbuh dengan dua budaya, dua bahasa, bahkan dua cara memahami “tanah air”.
Dan sepak bola sering memaksa mereka memilih.
Pilih satu bendera.
Pilih satu lagu kebangsaan.
Pilih satu sisi.
Padahal hidup tidak selalu meminta manusia menjadi satu hal saja.
Secara psikologi sosial, manusia memang selalu ingin merasa menjadi bagian dari kelompok tertentu. Kita mencari identitas untuk merasa aman: negara, keluarga, komunitas, atau sejarah.
Tetapi dunia modern membuat identitas itu semakin cair. Banyak orang hidup di antara dua nama dan dua kenangan sekaligus.
Dan sepak bola menjadi panggung paling emosional untuk semua itu.
Karena ketika lagu kebangsaan dimainkan sebelum pertandingan dimulai, yang berdiri di lapangan bukan hanya sebelas pemain.
Tetapi juga sejarah keluarganya masing-masing.
Itulah mengapa pertandingan seperti Swedia melawan Tunisia terasa lebih dari sekadar laga pembuka Piala Dunia.
Ia juga tentang seorang anak yang mungkin bangga membawa Swedia menang besar, tetapi diam-diam tetap merasa tidak nyaman melihat Tunisia terluka.
Kadang hidup memang seperti itu.
Kita menang.
Tetapi ada bagian kecil dalam diri kita yang ikut kalah.
Dan mungkin di situlah sepak bola terasa sangat manusiawi.
Karena di balik sorak stadion dan angka di papan skor, selalu ada seseorang yang sedang diam-diam bernegosiasi dengan hatinya sendiri.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
