Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Farras Aliyah Putri

Ketika Perempuan tidak Lagi Mengejar Kesempurnaan

Lifestyle | 2026-06-08 15:51:34

Belakangan ini, warna butter yellow hadir hampir di mana-mana. Di media sosial, warna kuning lembut tersebut menghiasi berbagai koleksi pakaian, tas, hingga aksesori. Pada saat yang sama, Indonesia Women Fest 2026 digelar di ICE BSD dengan mengangkat tema Embracing Women in Every Way, menghadirkan ruang bagi perempuan untuk belajar, berbagi pengalaman, dan mengembangkan diri.

Indonesia Women Fest 2026 menjadi salah satu ruang yang mendorong perempuan untuk mengembangkan potensi, berbagi pengalaman, dan membangun kepercayaan diri. (Foto: Instagram @indonesiawomenfest)

Sekilas, kedua fenomena tersebut tampak tidak berkaitan. Yang satu berbicara tentang tren fashion, sementara yang lain tentang pemberdayaan perempuan. Namun, jika dicermati lebih jauh, keduanya menunjukkan perubahan menarik dalam cara perempuan memandang dirinya sendiri di tengah berbagai tuntutan zaman.

Selama bertahun-tahun, perempuan hidup berdampingan dengan standar yang terus berubah. Mereka dituntut tampil menarik, sukses dalam karier, aktif dalam kehidupan sosial, sekaligus mampu memenuhi berbagai ekspektasi yang datang dari lingkungan sekitar. Di era digital, tekanan tersebut bahkan semakin terasa. Media sosial menghadirkan begitu banyak gambaran tentang kehidupan yang tampak sempurna sehingga tanpa disadari mendorong banyak orang untuk terus membandingkan dirinya dengan orang lain.

Di tengah situasi tersebut, muncul kecenderungan yang menarik. Banyak perempuan mulai meninggalkan keinginan untuk selalu terlihat sempurna dan beralih pada sesuatu yang lebih sederhana: menjadi diri sendiri. Popularitas warna-warna lembut seperti butter yellow dapat dibaca sebagai salah satu simbol dari perubahan itu. Warna ini tidak mencolok, tidak berlebihan, tetapi tetap memberikan kesan hangat dan percaya diri. Pilihan yang menunjukkan bahwa daya tarik tidak selalu harus lahir dari sesuatu yang spektakuler.

Perubahan tersebut juga tercermin dalam semakin banyaknya ruang yang memberi kesempatan kepada perempuan untuk berkembang. Indonesia Women Fest, misalnya, tidak hanya menghadirkan tren gaya hidup, tetapi juga diskusi tentang pengembangan diri, kesehatan, karier, dan kewirausahaan perempuan. Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan Indonesia semakin ingin dilihat bukan hanya dari penampilannya, tetapi juga dari kapasitas dan kontribusinya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan pada 2025 mencapai 56,63 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan menunjukkan semakin besarnya keterlibatan perempuan dalam aktivitas ekonomi maupun ruang publik. Meski masih terdapat kesenjangan dibandingkan laki-laki, tren ini memperlihatkan bahwa perempuan Indonesia semakin aktif mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan.

Perempuan Indonesia hari ini hidup dalam situasi yang berbeda dibandingkan satu dekade lalu. Akses pendidikan semakin terbuka, peluang kerja semakin beragam, dan ruang untuk menyampaikan gagasan semakin luas. Namun, bersamaan dengan itu muncul pula tantangan baru berupa tekanan sosial yang sering kali tidak terlihat. Keinginan untuk selalu tampil sempurna, selalu produktif, dan selalu mengikuti tren dapat menjadi beban tersendiri.

Karena itu, pemberdayaan perempuan tidak selalu harus dipahami sebagai pencapaian yang besar dan spektakuler. Terkadang pemberdayaan hadir dalam bentuk yang sederhana, yaitu keberanian untuk menentukan pilihan hidup tanpa harus terus-menerus mengejar standar yang ditetapkan orang lain.

Tren warna akan berganti. Festival akan berakhir ketika panggung ditutup. Namun, jika kedua fenomena tersebut mengajarkan sesuatu, mungkin pelajarannya adalah bahwa perempuan tidak harus menjadi sempurna untuk menjadi berharga. Di tengah dunia yang sibuk menciptakan standar baru setiap hari, keberanian untuk menjadi diri sendiri justru menjadi bentuk kebebasan yang semakin penting.

Tulisan ini disusun oleh Aqilla Maulidia dan Farras Aliyah Putri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image