Hari-hari Bersama Celetukan When ya?
Curhat | 2026-05-28 20:43:58
Seringkali kita mengeluarkan celetukan "when ya?" saat mendapat konten-konten yang kita harap kita dapatkan juga di masa depan. Sebuah harapan kita layangkan selayaknya do'a kepada Sang Pencipta. Namun, terlalu banyak berimajinasi hanya menumbuhkan ekspektasi tiada henti.
Kadangkala, jika hati ini tidak kita jaga, perasaan iri dengki akan menyusup begitu kuatnya. Dari yang awalnya kagum kepada pencapaian orang lain, menjadi seperti merutuki nasib diri yang tidak sampai pada posisi itu. Dari bertanya "kapan ya?" menjadi omelan tanpa sadar tentang "kenapa aku belum juga?".
Hal tersebut akan berbahaya jika berlebihan karena merenggut setiap ketenangan yang kita punya. Seperti memarahi takdir dan menolak apa yang terjadi kepada kita. Berharap tentu boleh, tetapi harap yang malah membuat marah pada kondisi saat ini, tidak sabar pada apapun, menandakan ada sesuatu yang harus kita perbaiki. Kita harus sering memahami bahwa setiap orang memiliki garis waktu dan takarannya masing-masing.
Kita belum mendapatkan suatu hal bukan hanya sekadar karena kita belum siap, akan tetapi bisa jadi belum saatnya kita menjalankan amanah untuk mengerjakan amal-amal itu. Masih ada banyak hal yang harus kita lakukan dan optimalkan pada masa-masa ini, pada peran-peran saat ini. Meskipun terasa sulit, akan tetapi jika ikhlas dijalani, kesabaran itu akan membuahkan hasil.
Aku tahu ini tidak mudah, maka kita selalu dianjurkan untuk terus saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran. Kita hanya perlu terus berprasangka baik dan melakukan apapun yang terbaik yang kita bisa hari ini. Memberikan kepercayaan sebesar-besarnya. Menyerahkan diri seutuh-utuhnya. Mempercayakan semua urusan kepada Sang Sutradara Terbaik Yang Maha Tahu dan Mengenali hamba-Nya.
Semoga Allah senantiasa melindungi hati kita dari penyakit ketika melihat dan mendengar pencapaian orang lain. Aamiin.
Baca juga: Yang Membuat Iblis Tergelincir
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
