Ridha: Sikap Ikhlas Menerima Ketentuan Allah dalam Kehidupan
Agama | 2026-06-04 11:42:05
Ridha merupakan salah satu akhlak mulia dalam Islam yang mencerminkan sikap menerima segala ketentuan Allah Swt. dengan hati yang lapang dan ikhlas. Secara bahasa, kata ridha berasal dari bahasa Arab riḍā yang berarti senang, puas, rela, atau menerima tanpa keberatan. Adapun secara istilah, ridha adalah sikap menerima segala keputusan dan ketentuan Allah Swt. dengan penuh keikhlasan setelah melakukan usaha yang maksimal. Sikap ini tidak berarti menyerah tanpa ikhtiar, melainkan menerima hasil yang diperoleh dengan keyakinan bahwa Allah telah menetapkan yang terbaik bagi hamba-Nya.
Dalam perspektif Al-Qur’an, ridha memiliki kedudukan yang sangat penting. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Bayyinah ayat 8 yang artinya, “Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan antara Allah dan hamba-Nya akan menjadi sempurna ketika keduanya saling meridhai. Orang yang ridha terhadap ketentuan Allah akan memperoleh ketenangan hati dan terhindar dari rasa kecewa yang berlebihan. Selain itu, dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa seluruh urusan seorang mukmin adalah baik baginya. Ketika memperoleh nikmat, ia bersyukur, dan ketika menghadapi musibah, ia bersabar. Sikap syukur dan sabar tersebut merupakan bentuk nyata dari ridha kepada ketentuan Allah Swt.
Para ulama juga memberikan penjelasan mengenai makna ridha. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ridha merupakan tingkatan spiritual yang tinggi, yaitu ketika seseorang mampu menerima keputusan Allah tanpa rasa keberatan dan keluhan dalam hatinya. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menyatakan bahwa ridha adalah pintu menuju kebahagiaan dan ketenangan jiwa karena seseorang tidak lagi terbelenggu oleh penyesalan terhadap hal-hal yang telah ditetapkan Allah. Sementara itu, Imam An-Nawawi berpendapat bahwa ridha adalah sikap menerima takdir Allah dengan lapang dada sambil tetap berusaha melakukan yang terbaik dalam kehidupan. Pandangan para ulama tersebut menunjukkan bahwa ridha merupakan salah satu wujud kesempurnaan iman seorang muslim.
Dalam kehidupan sehari-hari, sikap ridha dapat diterapkan di berbagai lingkungan, baik dalam keluarga, kampus, maupun masyarakat. Di lingkungan keluarga, ridha dapat diwujudkan dengan menerima kelebihan dan kekurangan setiap anggota keluarga, bersyukur atas kondisi yang dimiliki, serta menjaga keharmonisan meskipun terdapat perbedaan pendapat. Di kampus, sikap ridha dapat diterapkan dengan menerima hasil belajar dan nilai yang diperoleh setelah berusaha secara maksimal, menghargai keputusan dosen, serta menjadikan keberhasilan orang lain sebagai motivasi untuk terus berkembang. Sementara itu, dalam kehidupan bermasyarakat, ridha dapat diwujudkan melalui sikap menghormati perbedaan, menerima keputusan bersama yang telah disepakati, serta berkontribusi secara positif demi terciptanya kehidupan sosial yang harmonis dan damai.
Sikap Ridha ini akan melahirkan ketenangan hati, memperkuat keimanan, serta membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana dan penuh rasa syukur. Oleh karena itu, penerapan nilai ridha dalam keluarga, kampus, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis, damai, dan diridhai oleh Allah Swt.
Oleh: Hikmatul Aulia
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
