Pentingnya Mengelola Ekspektasi Inflasi
Bisnis | 2026-06-04 14:34:12Ingatkah kita membawa uang seratus ribu bisa membeli banyak sembako, namun kini tinggal kenangan. Uang seratus ribu hanya dapat membeli beberapa kilo ikan. Makan terasa mahal, inilah yang dinamakan inflasi.
Pemerintah telah menetapkan angka inflasi 2,5% plus minus 1%, artinya target inflasi rentang 1,5%-3,5%. Inflasi adalah kenaikan harga secara umum dan terus menerus dalam rentang tertentu, menjadikan harga semakin mahal meskipun penghasilan semakin meningkat.
Inflasi yang terjaga adalah indikator ekonomi yang memengaruhi daya beli masyarakat, investasi, biaya produksi, tingkat investasi dan berdampak terhadap stabilitas ekonomi. Inflasi dipengaruhi oleh banyak misalkan kenaikan harga energi, pasokan terganggu, dan semakin meningkatnya permintaan yang menyebabkan kelangkaan. Lebih lanjut, inflasi juga sangat dipengaruhi oleh ekspektasi masyarakat. Oleh sebab itu, penting dalam mengelola ekspektasi untuk mencegah kegiatan spekulasi yang berdampak terhadap semakin tingginya inflasi. Ketika masyarakat percaya harga barang/jasa kedepan terkendali, mereka akan menjaga pembelian. Sebaliknya, jika masyarakat memprediksi harga akan meningkat, mereka akan bertindak spekulatif dan panic buying yang menyebabkan kelangkaan dan semakin meningkatkan inflasi.
Ekspektasi inflasi sendiri merupakan keyakinan atau perkiraan masyarakat tentang harga barang/jasa ke depan. Selain konsumen yang rawan panic buying, produsen yang memperkirakan harga akan naik, bersama-sama akan meningkatkan harga jual sejak awal. kenaikan biaya produksi akan meningkatkan harga jual produknya lebih awal. Selain itu, pekerja yang memperkirakan harga barang/jasa meningkat, mereka akan meminta upah yang lebih besar. Harga akan semakin melambung.
Milton Friedman dan Edmund Phelps dan kurva philips mengatakan jika pengusaha dan pekerja memperkirakan harga-harga akan naik di masa depan, mereka akan mengubah perilaku ekonomi saat ini. Perusahaan akan menaikkan harga lebih awal, dan pekerja akan menuntut upah yang lebih tinggi, yang kemudian memicu siklus kenaikan harga atau inflasi. Dalam jangka panjang, ekspektasi akan semakin meningkatkan inflasi dan menggeser kurva inflasi bergeser ke kanan.
Bank sentral termasuk Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter dan bertujuan menjaga stabilitas nilai rupiah menempatkan pengelolaan ekspektasi inflasi sebagai salah satu fokus kebijakan moneter. Hal ini disebabkan pemahaman mendalam dalam mengelola ekspektasi atau kepercayaan masyarakat terhadap komitmen otoritas moneter dalam menjaga stabilitas harga. Ketika BI memiliki kredibel dan terpercaya, masyarakat akan percaya harga akan stabil dan inflasi terjada sehingga mereka akan menjaga perilaku ekonomi dalam membeli.
Pengelolaan ekspektasi dikelola melalui komunikasi efektif. Pada era keterbukaan informasi, BI menetapkan kebijakan dan memberikan alasan dibalik kebijakan dipublikasikan melalui Laporan Akuntabilitas Bank Indonesia (LKBI) dan Laporan Keuangan Tahunan Bank Indonesia (LKTBI). Transparansi mengenai proyeksi inflasi, risiko, dan langkah-langkahnya penting dalam membangun kepercayaan masyarakat. Melalui komunikasi yang efektif, BI dapat mengelola ekspektasi masyarakat.
Pengelolaan ekspektasi inflasi semakin penting khususnya di era ketidakpastian ekonomi dan gejolak geopolitik dan keuangan. Tantangan otoritas ekonomi bukan hanya mengendalikan dampak langsung inflasi, tetapi juga mencegah agar masyarakat tidak menganggap kenaikan harga berlangsung lama. Jika ekspektasi inflasi tidak dikelola dengan baik, kenaikan harga sementara dapat berubah berlangsung lama.
Keberhasilan pengelolaan ekspektasi inflasi sangat bergantung pada kredibilitas kebijakan. Masyarakat akan percaya pada kebijakan yang diambil jika rekam jejak otoritas terjada dan baik dalam mengendalikan inflasi. Sebaliknya, jika otoritas dinilai tidak transparan dan target inflasi sering meleset seiring kebijakan yang berubah, kepercayaan masyarakat menjadi menurun sehingga ekspektasi inflasi menjadi lebih sulit dikendalikan.
Selain BI, pemerintah sebagai otoritas fiskal turut andil dalam mengelola ekspektasi. Kebijakan fiskal yang sehat dalam menjaga pengeluaran dan utang, serta kebijakan harga yang terukur dapat menjaga keyakinan masyarakat. Misalnya, ketika pemerintah mampu menjaga harga, pasokan, dan distribusi, kepercayaan masyarakat baik konsumen, produsen, dan pekerja akan meningkat dan ketidakpastian ekspektasi akan terjaga.
Di Indonesia, ekspektasi inflasi adalah tantangan tersendiri. Ketergantungan akan pasokan pangan dan energi serta investasi negara asing rawan membuat gejolak ekepektasi masyarakat. Hal ini menjadi tugas otoritas ekonomi BI dam pemerintah. Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berperan dalam meningkatkan literasi keuangan agar tidak mudah terpengaruh sentimen negatif.
Pentingnya mengelola ekspektasi inflasi karena akan berdampak terhadap kebijakan moneter. Ketika ekspektasi inflasi terjaga, perubahan suku bunga dapat memberikan berdampak terhadap perilaku ekonomi. Sebaliknya, jika ekspektasi inflasi semakin liar tak dan tak terkendali, BI harus meningkatkan suku bunga lebih agresif dan akan berdampak terhadap menurunnya perekonomian nasional dan meningkatkan biaya dunia usaha.
Dalam jangka panjang, ekspektasi inflasi yang terkendali bermanfaat terhadap stabilitas harga jangka panjang.. Rumah tangga dapat mengelola keuangan karena memiliki kepastian. Begitu juga dengan investor asing yang percaya menempatkan dananya.
Perkembangan teknologi informasi dan media sosial membawa dimensi baru dalam pengelolaan ekspektasi inflasi. Informasi harga menyebar dengan cepat dan memengaruhi persepsi masyarakat dalam waktu singkat. Tantangannya adalah penyebaran informasi spekulatif dan kurang tepat akan menambah kepanikan. Komunikasi yang transparan, akuntabel, dan berbasis data menjadi hal penting dalam menjaga menjaga kepercayaan publik.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
