Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ervina Damayanti

Ironi Celana Pendek dalam Karya Idrus

Sastra | 2026-05-27 10:33:11

Idrus (21 September 1921-18 Mei 1979) adalah sastrawan kelahiran Padang yang menguasai tiga bahasa asing dan pernah bekerja di Balai Pustaka. Meskipun karyanya kental dengan gambaran masa pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan, ia secara pribadi menolak dimasukkan ke dalam Angkatan 45. Gaya menulisnya terkenal dengan aliran realisme seorang Idrus yang blak-blakan, tajam, dan penuh sindiran. Akibat tekanan politik dari Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), ia sempat pindah dan terus berkarya di Malaysia.

Cerita Kisah Sebuah Celana Pendek ini menggambarkan potret masyarakat kecil yang diwakili oleh tokoh Kusno dan ayahnya, Pak Kusno, di tengah kekacauan politik Perang Dunia II dan masa pendudukan Jepang di Indonesia.

Cerita dimulai tepat pada hari penyerangan Pearl Harbor oleh Jepang. Di saat dunia diguncang ketakutan dan ketegangan politik, Pak Kusno seorang pria yang buta politik justru merasa sangat bahagia. Alasan kebahagiaannya sangat sederhana, karena ia akhirnya berhasil membelikan anak laki-laki-laki-laki, bernama Kusno yang berusia 14 tahun, sebuah celana pendek baru berbahan kepar 1001 buatan Italia. Bagi keluarga yang kurang mampu, perang kabar tidak ada artinya karena menyediakan kebutuhan dasar yang selama ini sulit dijangkau.

Dengan celana baru tersebut, Kusno yang baru lulus Sekolah Rakyat merasa percaya diri untuk mencari kerja demi membalas budi sang ayahnya. Namun kenyataannya berkata lain. Penyerangan "Pulau Mutiara" (Pearl Harbour) berwujud krisis ekonomi. Lapangan kerja tertutup, setelah ditolak di sepuluh kantor, Kusno terpaksa menurunkan standarnya dari cita-cita yang awalnya menjadi juru tulis, lalu portir, hingga akhirnya hanya diterima sebagai opas (petugas kebersihan/pesuruh) dengan gaji sepuluh rupiah per bulan. Hal ini sempat memukul hati ayahnya yang sedih melihat masa depan anaknya yang mandek di kelas pekerja bawah.

Masalah semakin rumit seiring berjalannya waktu. Gaji sepuluh rupiah tersebut tidak cukup untuk makan, apalagi membeli celana baru atau bahkan sabun cuci. Akibatnya, celana kepar 1001 satu-satunya itu mulai pudar, kotor, dan rusak karena terlalu sering dicuci tanpa sabun. Kusno sampai berada di titik cemas setiap kali hujan turun, karena takut celananya rusak dan ia tidak punya apa-apa lagi untuk menutup auratnya.

Saat tentara Jepang masuk ke Indonesia membawa propaganda manis berupa "Demokrasi" dan "Kemakmuran Bersama di Asia Timur Raya", Kusno menyambut mereka dengan gembira. Baginya yang awam dan buta akan politik, jargon "kemakmuran" sebagai harapan akan mendapatkan celana baru. Sayangnya, selama tiga setengah tahun menjajah, janji kemakmuran Jepang hanya janji yang terbukti manis. Hidup rakyat justru makin sengsara, celana Kusno sudah berubah menjadi kain luluh yang berubah warna dari putih menjadi kuning kehitam-hitaman hingga ia tak layak lagi bekerja sebagai opas.

Karena malu ditegur dan dibentak oleh atasannya saat meminta celana baru, Kusno akhirnya memilih keluar dari pekerjaannya. Kusno jatuh ke dalam kemiskinan yang ekstrem. Ia kelaparan hingga terpaksa bertahan hidup dengan makan daun-daun kayu. Di tengah rasa sakit kepala dan kelaparan, sempat memiliki pikiran buruk untuk menjual celana usangnya demi makanan, atau bahkan mencuri milik orang lain. Namun, nilai-nilai moral dan rasa takutnya kepada Tuhan membuat Kusno mengurungkan niat tersebut. Ia memilih hidup menderita namun tetap menjaga martabat dan harga dirinya.

Cerita ini ditutup dengan refleksi mendalam mengenai nasib rakyat kecil. Meski celana kesayangannya kelak akan hancur menjadi kain lap (topo), Kusno menolak untuk putus asa dan terus bertekad akan berjuang melawan kematian seumur hidupnya. Namun, di akhir cerita ia menyuarakan kebingungan mendasar yang mewakili suara hati rakyat kecil sepanjang sejarah “Mengapa perang harus selalu ada, dan mengapa masyarakat kecil yang selalu menjadi korban dari ambisi para penguasa?”

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image