Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nanan Hermawan

Fikih muamalah: Hidup Berarti Bukan Sekedar tak Mati

Agama | 2026-07-20 18:17:46

Hidup berarti bukan sekadar tak mati.

"Hidup berarti bukan sekadar tak mati" Sepenggal lirik dari FSTVLST ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan renungan yang dalam. Sebab kenyataannya, tidak semua orang yang bernapas benar-benar "hidup". Ada yang tubuhnya sehat, pekerjaannya mapan, dan aktivitasnya padat, tetapi hatinya kosong.

Hari demi hari berlalu hanya untuk mengejar rutinitas, tanpa pernah bertanya, "Sebenarnya untuk apa aku hidup?"Islam mengajarkan bahwa hidup bukanlah sebuah kebetulan. Kita tidak diciptakan tanpa tujuan. Allah Swt. berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."(QS. Az-Zariyat: 56)

Sering kali kita memahami ibadah hanya sebatas salat, puasa, atau membaca Al-Qur'an. Padahal, makna ibadah jauh lebih luas. Bekerja dengan jujur, mencari nafkah yang halal, belajar, mendidik anak, hingga membantu tetangga pun bisa menjadi ibadah jika diniatkan karena Allah.

Sayangnya, di zaman sekarang ukuran hidup yang "berhasil" sering kali bergeser. Banyak orang mengejar harta, jabatan, popularitas, atau validasi di media sosial. Tidak ada yang salah dengan semua itu, selama tidak menjadi tujuan utama hidup. Sebab sehebat apa pun pencapaian dunia, hati manusia tetap bisa merasa kosong jika jauh dari Allah.Allah Swt. berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."(QS. Ar-Ra'd: 28)

Ayat ini seperti menjadi jawaban atas kegelisahan banyak orang hari ini. Yang sebenarnya kita cari bukan hanya kehidupan yang lebih nyaman, tetapi hati yang lebih tenang. Dan ketenanganitu tidak datang dari banyaknya harta, melainkan dari dekatnya hubungan kita dengan Allah.

Hidup yang bermakna juga bukan hanya tentang diri sendiri. Rasulullah saw. bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."(HR. Ahmad)

Hadis ini mengingatkan bahwa hidup bukan soal seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan. Senyum yang kita berikan, ilmu yang kita bagikan, atau pertolongan kecil yang kita lakukan bisa jadi lebih bernilai di sisi Allah daripada sesuatu yang terlihat besar di mata manusia.Al-Qur'an juga mengingatkan agar kita tidak menjadi orang yang kehilangan arah hidup karena melupakan Allah.

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri."(QS. Al-Hasyr: 19)

Ayat ini terasa begitu dekat dengan kehidupan kita. Ketika seseorang mulai jauh dari Allah, ia bisa saja tetap sibuk, tetap produktif, bahkan tetap terlihat sukses. Namun, di dalam hatinya ada ruang kosong yang sulit dijelaskan. Ia tahu apa yang sedang dikejar, tetapi lupa mengapa semua itu dikejar.

Rasulullah saw. juga mengingatkan agar kita tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup.

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هِرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

"Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu."(HR. Al-Hakim)

Hadis ini mengajarkan bahwa hidup adalah kesempatan, bukan sekadar perjalanan menunggu kematian. Setiap hari adalah peluang untuk memperbaiki diri, menambah amal, dan menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari sebelumnya.

Pada akhirnya, lirik "Hidup berarti bukan sekadar tak mati" mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar banyak hal, tetapi lupa bertanya, "Sebenarnya untuk apa aku hidup?"

Dalam Islam, hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling kaya, paling terkenal, atau paling panjang usianya. Yang Allah lihat adalah bagaimana kita mengisi kehidupan itu. Seberapa tulus kita beribadah, seberapa ikhlas kita berbuat baik, dan seberapa besar manfaat yang kita tinggalkan.Allah Swt. mengingatkan hal itu dalam firman-Nya:

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ

"Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun."(QS. Al-Mulk: 2)

Ayat ini menjadi penutup yang indah sekaligus pengingat bagi kita semua. Ternyata hidup bukan tentang siapa yang paling lama bertahan, tetapi siapa yang paling baik amalnya. Jadi, selama Allah masih memberi kita napas, jangan hanya sekadar menjalani hidup. Mari isi setiap hari dengan kebaikan, perbanyak manfaat bagi sesama, dan terus memperbaiki hubungan dengan Allah. Sebab, hidup memang bukan sekadar tak mati, tetapi tentang mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang abadi.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image